Kanal24, Malang – Di tengah meningkatnya tantangan psikologis yang dihadapi siswa—mulai dari tekanan akademik, konflik sosial, hingga persoalan keluarga—guru semakin dituntut bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga figur pertama yang mampu memberikan dukungan emosional. Keterbatasan jumlah konselor profesional di sekolah membuat kemampuan dasar konseling menjadi urgensi yang harus dimiliki para guru. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Psikologi FISIP Universitas Brawijaya menggelar pelatihan konseling kelompok untuk memperkuat kapasitas pendidik dalam menciptakan ruang aman bagi siswa.
Kegiatan bertajuk “Membangun Ruang Aman: Pelatihan Konseling Kelompok untuk Guru” ini dilaksanakan pada Rabu (19/11/2025), di Ruang Rapat Gedung B Lantai 7 FISIP UB, dengan melibatkan 12 guru dari SMP Islam Sabilurrosyad Malang—terdiri dari kepala sekolah, guru BK, dan guru mata pelajaran.

Materi Menyeluruh hingga Praktik Roleplay
Ketua pelaksana kegiatan, Fatiya Halum Husna, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pelatihan dirancang untuk memberikan pemahaman lengkap mengenai praktik konseling kelompok yang relevan dengan konteks sekolah. Materi yang diberikan mencakup dasar konseling sekolah dan karir, microskill konseling, teori konseling kelompok, serta sesi praktik melalui roleplay.
“Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai praktik konseling kelompok yang efektif di lingkungan sekolah,” jelas Fatiya.
Sebagai trainer utama, Yuli Rahmawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memandu peserta melalui paparan materi, simulasi, diskusi kasus, hingga praktik langsung. Para guru menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang kegiatan, saling bertukar pengalaman, dan merefleksikan persoalan yang sering muncul di lingkungan sekolah.

Dalam sesi roleplay, peserta berlatih menerapkan teknik konseling kelompok—mulai dari membuka sesi, memfasilitasi dinamika kelompok, hingga mengarahkan proses penyelesaian masalah. Pendekatan ini memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana menciptakan ruang aman bagi siswa dengan pendekatan empatik dan kolaboratif.
Respon Positif dan Peluang Kerja Sama Lanjutan
Pelatihan mendapatkan respons positif dari seluruh peserta. Mereka menilai materi mudah dipahami dan sangat relevan dengan tantangan sehari-hari di sekolah. Banyak guru menyampaikan bahwa strategi yang diperoleh dapat langsung diterapkan, baik dalam kelas maupun layanan Bimbingan Konseling.
Pelatihan ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan antara Prodi Psikologi FISIP UB dan SMP Islam Sabilurrosyad Malang dalam program pendampingan dan peningkatan kompetensi guru. Kolaborasi ini diharapkan memberikan dampak berkelanjutan bagi penguatan sistem dukungan psikososial di sekolah.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, UB berharap guru mampu menjadi agen kunci dalam membangun lingkungan belajar yang aman, suportif, dan responsif terhadap kebutuhan emosional siswa—sebuah kompetensi yang semakin vital di era sekolah yang menghadapi kompleksitas persoalan psikologis remaja.(Din)














