Kanal24, Malang – Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa halal bihalal merupakan momen untuk saling memaafkan sekaligus memperkuat kebersamaan seluruh sivitas akademika setelah menjalankan ibadah Ramadan. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Halal Bihalal Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya yang digelar pada Rabu (01/04/2026), di Aula Gedung A Lantai 4 FIA UB, Malang, oleh Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB).
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi antar sivitas akademika, mulai dari dosen aktif dan purna, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga keluarga besar Fakultas Ilmu Administrasi. Dalam suasana penuh kehangatan, acara juga menghadirkan tausiah oleh Ketua Umum MUI Kota Malang, Dr. KH. Isroqunnajah, M.Ag., yang menekankan pentingnya persatuan dan toleransi di tengah keberagaman.
Baca juga:
Dari Apel Segar ke Produk Digital, UB Bantu Petani Tutur Naik Nilai Ekonomi

Kanal24, Malang – Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si. (Puguh/Kanal24)
Momentum Silaturahmi dan Refleksi Pascaramadan
Prof. Hamidah menjelaskan bahwa halal bihalal bukan sekadar tradisi, melainkan ruang refleksi untuk meningkatkan kualitas diri setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Ia menekankan bahwa semangat Ramadan seharusnya terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks personal maupun profesional.
Menurutnya, interaksi sosial dalam lingkungan akademik tidak lepas dari potensi kesalahan. Oleh karena itu, halal bihalal menjadi ruang yang tepat untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antarpersonal. “Momen ini menjadi sarana membangun kebersamaan seluruh sivitas akademika, termasuk melibatkan keluarga, agar ikatan emosional semakin kuat,” tambahnya.
Penguatan Nilai Integritas di Lingkungan Akademik
Lebih lanjut, Prof. Hamidah menyoroti pentingnya integritas sebagai nilai utama dalam menjalankan tugas di lingkungan perguruan tinggi. Ia menyebutkan bahwa nilai ketakwaan yang diperoleh selama Ramadan seharusnya berimplikasi pada sikap profesional yang menjunjung tinggi aturan dan etika.
FIA UB, lanjutnya, telah menerapkan zona integritas sebagai langkah konkret dalam mencegah penyalahgunaan jabatan dan benturan kepentingan. “Zona integritas ini menjadi komitmen bersama agar tidak ada pelanggaran dalam menjalankan tugas, baik di tingkat fakultas, universitas, maupun dalam lingkup yang lebih luas,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dosen harus menjalankan tugas secara adil tanpa diskriminasi, sementara tenaga kependidikan dituntut memberikan pelayanan yang bersih dari praktik yang melanggar integritas. Hal ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.
Simbol Ketupat dan Makna Persatuan
Dalam tausiahnya, Dr. KH. Isroqunnajah, M.Ag., menekankan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan latar belakang, baik agama, afiliasi, maupun pilihan politik. Ia mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan halal bihalal sebagai momentum memperkuat komitmen kebersamaan.
Ia menggunakan simbol ketupat sebagai ilustrasi persatuan. Menurutnya, beras yang awalnya terpisah dapat menyatu menjadi ketupat yang utuh, melambangkan pentingnya kebersamaan. “Ketika sudah menjadi ketupat, semua butiran beras menyatu. Ini menggambarkan bahwa persatuan akan membawa kebahagiaan dan kemakmuran,” jelasnya.
Selain itu, janur pada ketupat dimaknai sebagai simbol kebahagiaan, sementara keberagaman lauk-pauk yang menyertainya mencerminkan kemakmuran yang lahir dari persatuan.

Peran Ulama dan Tantangan Era Digital
Dr. Isroqunnajah juga menyoroti peran ulama dalam menjaga keseimbangan antara nilai keagamaan dan dinamika sosial. Ia menegaskan bahwa perbedaan merupakan keniscayaan yang harus disikapi dengan bijak, sebagaimana pandangan para ulama seperti Imam Maliki dan Imam Syafi’i.
Dalam menghadapi arus informasi digital yang semakin cepat, MUI Kota Malang mengembangkan strategi dakwah melalui media sosial yang interaktif, khususnya untuk menjangkau generasi muda. Pesan yang disampaikan berfokus pada moderasi beragama dan toleransi.
Ia mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima informasi serta menghindari sumber-sumber yang provokatif. “Para tokoh agama akan selalu menyerukan perdamaian, moderasi, dan toleransi. Karena itu, penting bagi kita untuk mendekatkan diri pada sumber-sumber yang otoritatif,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, FIA Universitas Brawijaya berharap nilai-nilai kebersamaan, integritas, dan toleransi dapat terus terjaga, sekaligus menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi. (nid/wan)












