Kanal24, Malang – Momentum Idulfitri dimanfaatkan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) untuk memperkuat kebersamaan dan kolaborasi antar sivitas akademika melalui gelaran Halal Bihalal yang sarat makna refleksi dan persatuan.
“Halal bihalal kita maknai sebagai tradisi luhur bangsa Indonesia yang harus kita hidupkan dengan semangat filosofi fitrah. Jadi, kita mencoba untuk kembali menjadi manusia yang suci, bersih, dan bekerja sama bersama-sama berlomba-lomba untuk menjalankan kebaikan,” ujar Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., Dekan FIB UB, dalam kegiatan Halal Bihalal FIB UB yang dilaksanakan pada Rabu (02/04/2026), di Aula Gedung A FIB UB, dan digelar oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya.
Ia menambahkan, melalui momentum ini diharapkan seluruh warga FIB dapat semakin mempererat persaudaraan, meningkatkan kolaborasi, serta memperkuat semangat untuk bersama-sama berkontribusi bagi kemajuan Universitas Brawijaya dan bangsa Indonesia.
Baca juga:
Halal Bihalal FILKOM UB, Perkuat Sinergi Usai Ramadan

Memaknai Tradisi dan Filosofi Fitrah
Kegiatan Halal Bihalal tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga sarat makna filosofis yang mendalam. Dalam konteks budaya Indonesia, tradisi ini menjadi simbol rekonsiliasi, saling memaafkan, dan memperbarui hubungan antarsesama.
Di lingkungan FIB UB, nilai-nilai tersebut diterjemahkan dalam upaya membangun harmoni internal antar dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Momentum Idulfitri dijadikan titik awal untuk memperkuat komunikasi serta mempererat jejaring kerja yang lebih solid.
Dengan semangat kembali ke fitrah, seluruh sivitas akademika diajak untuk meninggalkan perbedaan dan fokus pada tujuan bersama, yakni menciptakan lingkungan akademik yang sehat, produktif, dan inklusif.
Penguatan Ekosistem Akademik dan Riset
Dalam kesempatan yang sama, Sahiruddin juga memaparkan arah pengembangan FIB UB ke depan yang akan berfokus pada penguatan ekosistem akademik dan penelitian. Menurutnya, lingkungan belajar yang nyaman dan kompetitif menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
FIB UB saat ini tengah mendorong dosen untuk terus meningkatkan kualitas pengajaran berbasis problem solving. Pendekatan ini diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis dan adaptif terhadap berbagai tantangan.
Di bidang penelitian, FIB UB mulai mengembangkan kelompok-kelompok kajian atau research group yang mengelompokkan dosen berdasarkan kesamaan bidang keilmuan. Melalui strategi ini, diharapkan kolaborasi riset dapat semakin terarah dan produktif, baik di tingkat internal maupun internasional.
Selain itu, penguatan kerja sama dengan mitra luar negeri juga menjadi prioritas, sejalan dengan program internasionalisasi yang diusung oleh pimpinan universitas.
Digital Humanities Jadi Andalan
Menjawab tantangan era digital, FIB UB mengembangkan digital humanities sebagai salah satu program unggulan. Inisiatif ini berfokus pada upaya digitalisasi dan pelestarian budaya melalui teknologi.
Sahiruddin menjelaskan bahwa FIB UB telah mengembangkan berbagai platform digital, seperti virtual museum of Majapahit, yang memungkinkan masyarakat mengakses warisan budaya secara daring. Selain itu, terdapat pula inovasi Batikpedia yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan motif batik.
Program lain yang turut dikembangkan adalah Brawijaya Corpora, sebuah platform berbasis web yang memuat data bahasa dan budaya dalam format multibahasa. Platform ini tidak hanya menjadi sumber pembelajaran, tetapi juga dapat diakses oleh masyarakat luas.
Di bidang pembelajaran, FIB UB juga mengoptimalkan penggunaan Learning Management System (LMS) BRONE. Melalui sistem ini, mahasiswa tetap dapat mengakses materi pembelajaran secara fleksibel, termasuk video perkuliahan, sehingga proses belajar menjadi lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Dorong Mahasiswa Lebih Solutif dan Adaptif
Di akhir penyampaiannya, Sahiruddin menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjawab berbagai persoalan nyata di masyarakat. Ia berharap mahasiswa tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga aktif dalam kegiatan berbasis proyek (project-based learning).
Melalui pendekatan ini, mahasiswa didorong untuk terlibat langsung dalam penyelesaian masalah yang relevan dengan bidang studi masing-masing. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan problem solving, critical thinking, serta keterampilan komunikasi yang menjadi kebutuhan utama di abad ke-21.
Selain itu, interaksi aktif antar mahasiswa juga dinilai mampu memperkuat kesehatan mental dengan menciptakan lingkungan yang suportif dan kolaboratif.
Dengan semangat Halal Bihalal, FIB UB tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam menciptakan ekosistem akademik yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global. (nid/cay)














