Kanal24, Malang – Memasuki 1 April 2026, harga bahan bakar minyak (BBM) di SPBU swasta seperti Shell, BP, dan Vivo terpantau masih bertahan di level yang sama sejak penyesuaian pada awal Maret lalu. Stabilnya harga ini terjadi di tengah dinamika harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari berbagai sumber resmi, harga BBM non-subsidi di SPBU swasta belum mengalami perubahan signifikan per awal April 2026. Kondisi ini melanjutkan tren stabilitas yang sudah terjadi sejak pekan kedua Maret.
Untuk produk Shell, harga Shell Super (RON 92) masih berada di kisaran Rp12.390 per liter, sementara Shell V-Power Diesel dipatok sekitar Rp14.620 per liter. Di sisi lain, beberapa varian seperti V-Power sempat mengalami keterbatasan stok di sejumlah wilayah.
Baca juga:
Harga BBM Pertamina Tak Naik April, Ini Alasannya
Sementara itu, jaringan SPBU BP juga mempertahankan harga yang relatif seragam dengan kompetitor. Produk BP 92 dijual sekitar Rp12.390 per liter, BP Ultimate di kisaran Rp12.920āRp12.930 per liter, serta BP Ultimate Diesel menyentuh Rp14.620 per liter.
Adapun Vivo Energy Indonesia juga belum melakukan perubahan harga. Produk Revvo 92 masih dijual di angka Rp12.390 per liter, Revvo 95 sekitar Rp12.930 per liter, dan Diesel Primus Plus berada di kisaran Rp14.610 per liter.

Dipengaruhi Harga Minyak Dunia dan Kurs Rupiah
Kondisi harga yang relatif stagnan ini sejalan dengan tren global yang belum menunjukkan perubahan signifikan. Penyesuaian harga terakhir diketahui dilakukan secara serentak pada 1 Maret 2026, dengan kenaikan berkisar Rp300 hingga Rp1.000 per liter tergantung jenis BBM.
Pengamat energi menjelaskan bahwa pergerakan harga BBM non-subsidi sangat dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia dan kurs rupiah terhadap dolar AS. Ketika kedua faktor tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan, maka operator cenderung menahan harga di tingkat yang ada.
Di sisi lain, pemerintah tetap menjaga stabilitas harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar, yang tidak mengalami perubahan dalam periode yang sama. Kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.

Potensi Perubahan Harga Masih Terbuka
Meski harga masih stabil di awal April, potensi perubahan tetap terbuka dalam waktu dekat. Dinamika geopolitik global serta fluktuasi harga minyak dunia masih menjadi faktor utama yang dapat memicu penyesuaian harga BBM di dalam negeri.
Selain itu, nilai tukar rupiah yang masih bergerak dinamis juga turut menjadi variabel penting dalam penentuan harga BBM non-subsidi oleh operator swasta.
Dengan harga yang masih stabil di awal April 2026, masyarakat untuk sementara dapat bernapas lega dari potensi kenaikan BBM swasta. Namun, ketidakpastian global membuat peluang penyesuaian harga tetap terbuka, sehingga publik diimbau tetap mencermati perkembangan pasar energi dalam waktu dekat. (nid)












