Kanal24, Malang – Dinamika harga pangan nasional kembali menunjukkan tekanan pada awal tahun 2026. Sejumlah komoditas strategis mengalami kenaikan harga, dengan bawang merah menjadi salah satu yang paling menonjol. Kondisi ini menambah kekhawatiran masyarakat terkait daya beli, terutama bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada stabilitas harga bahan pokok.
Pada 19 Januari 2026, harga bawang merah di sejumlah pasar induk tercatat naik hingga menyentuh kisaran Rp32 ribu per kilogram. Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan harga pada pekan sebelumnya yang masih berada di level di bawah Rp30 ribu per kilogram. Pedagang menyebut kenaikan ini terjadi secara bertahap dalam beberapa hari terakhir seiring berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi.
Pasokan Terbatas dan Cuaca Jadi Pemicu
Kenaikan harga bawang merah tidak terlepas dari kondisi pasokan yang belum sepenuhnya stabil. Intensitas hujan yang tinggi di sejumlah wilayah penghasil bawang berdampak pada proses panen dan distribusi. Beberapa petani mengalami penurunan kualitas hasil panen, sementara sebagian lainnya menunda panen karena kondisi lahan yang tidak memungkinkan.
Gangguan pada rantai pasok ini kemudian berimbas ke tingkat pedagang. Pasokan yang masuk ke pasar induk berkurang, sementara kebutuhan tetap berjalan normal. Dalam situasi tersebut, mekanisme pasar mendorong harga bergerak naik. Pedagang menyebut kenaikan harga tidak semata-mata karena spekulasi, melainkan akibat biaya perolehan barang yang meningkat dari tingkat hulu.
Selain faktor cuaca, distribusi antardaerah juga menjadi tantangan tersendiri. Biaya transportasi yang relatif tinggi serta keterbatasan armada pengangkut pada musim hujan turut menambah ongkos logistik. Kondisi ini akhirnya dibebankan ke harga jual di tingkat konsumen.
Komoditas Lain Ikut Berfluktuasi
Tidak hanya bawang merah, sejumlah komoditas pangan lain juga menunjukkan pergerakan harga yang fluktuatif. Cabai rawit merah masih bertahan di level tinggi, sementara cabai merah besar dan cabai merah keriting mengalami kenaikan meski tidak terlalu tajam. Harga telur ayam ras dan daging ayam relatif stabil, namun berada di level yang masih dirasakan tinggi oleh masyarakat.
Fluktuasi harga ini mencerminkan kondisi pasar pangan yang masih rentan terhadap gangguan produksi dan distribusi. Komoditas hortikultura, khususnya sayuran dan bumbu dapur, cenderung sensitif terhadap perubahan cuaca dan pasokan. Ketika salah satu faktor terganggu, harga dapat bergerak cepat dalam waktu singkat.
Bagi pelaku usaha kuliner dan pedagang kecil, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Kenaikan harga bahan baku memaksa sebagian pelaku usaha untuk menyesuaikan porsi atau harga jual, meski langkah tersebut berisiko mengurangi minat konsumen. Di sisi lain, konsumen rumah tangga harus lebih cermat dalam mengatur pengeluaran harian.
Dampak terhadap Inflasi dan Daya Beli
Pergerakan harga pangan memiliki peran penting dalam pembentukan inflasi. Komponen makanan dan minuman masih menjadi salah satu penyumbang utama dalam struktur pengeluaran masyarakat. Kenaikan harga bawang merah dan cabai, meskipun terlihat kecil secara nominal, memiliki dampak luas karena digunakan hampir setiap hari oleh sebagian besar rumah tangga.
Jika kenaikan harga pangan berlangsung dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi dapat meningkat. Hal ini berpotensi menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Oleh karena itu, stabilitas harga pangan menjadi isu strategis yang terus mendapat perhatian pemerintah.
Upaya pengendalian dilakukan melalui pemantauan harga harian, penguatan distribusi, serta penyediaan pasokan dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan. Operasi pasar juga menjadi salah satu instrumen untuk menahan lonjakan harga agar tidak bergerak terlalu jauh dari tingkat kewajaran.
Menjaga Keseimbangan Petani dan Konsumen
Di tengah upaya stabilisasi harga, keseimbangan antara kepentingan petani dan konsumen tetap menjadi perhatian utama. Harga yang terlalu rendah dapat merugikan petani dan mengurangi minat produksi, sementara harga yang terlalu tinggi membebani konsumen. Pengelolaan pangan nasional dituntut mampu menjaga titik tengah agar kedua pihak tidak dirugikan.
Ke depan, stabilitas harga pangan akan sangat bergantung pada kesiapan menghadapi faktor cuaca, penguatan logistik, serta koordinasi lintas sektor. Dengan langkah yang tepat, tekanan harga pangan di awal 2026 diharapkan dapat diredam, sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan daya beli tetap terjaga. (nid)














