Kanal 24, Malang – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, gaya hidup masyarakat semakin lekat dengan layanan perbankan daring. Membayar belanjaan hanya butuh sentuhan jari, transfer uang bisa selesai dalam hitungan detik, bahkan cicilan pun bisa diatur langsung lewat ponsel. Namun, di balik kemudahan itu, ancaman kejahatan siber juga kian mengintai.
Melihat fenomena tersebut, PT Bank Danamon Indonesia Tbk meluncurkan kampanye edukasi bertajuk #JanganKasihCelah. Tujuannya sederhana namun penting: meningkatkan kesadaran nasabah agar lebih bijak menjaga keamanan data pribadi, terutama saat bertransaksi di ruang publik.
Baca juga:
UB Digitalisasi Kampung Warna-Warni Jodipan
“Danamon menghimbau nasabah untuk selalu tetap mengutamakan keamanan dalam melakukan transaksi perbankan di tempat umum,” ujar Andreas Kurniawan, Chief Digital Officer PT Bank Danamon Indonesia Tbk, dalam keterangan tertulis pada Kamis (28/8/2025).
Generasi Muda Makin Aktif, Risiko Juga Ikut Naik
Tren transaksi digital memang tak terbendung. Menurut Indonesia Millennials and Gen Z Report 2025, empat dari lima anak muda di Indonesia sudah terbiasa menggunakan mobile banking maupun dompet digital dalam aktivitas harian mereka. Belanja online, bayar transportasi, bahkan membayar kopi di kafe, semuanya mengandalkan transaksi digital.
Bank Indonesia juga mencatat tren serupa. Nilai transaksi e-commerce melonjak drastis dari Rp 205,5 triliun pada 2019 menjadi Rp 487,01 triliun pada 2024, atau tumbuh hampir 136,9 persen hanya dalam lima tahun. Angka ini membuktikan bahwa masyarakat semakin nyaman berbelanja secara daring.
Namun, kenyamanan itu tak datang tanpa risiko. Seiring meningkatnya penggunaan layanan digital, celah kejahatan siber semakin terbuka. Mulai dari pencurian data melalui Wi-Fi publik, penggunaan port USB di fasilitas umum, hingga penyebaran malware lewat perangkat yang tidak terlindungi.
Ancaman di Balik Wi-Fi Gratis
Bagi banyak orang, Wi-Fi gratis di kafe, bandara, halte, atau taman kota memang terasa praktis. Namun, di balik akses internet gratis tersebut, ada bahaya tersembunyi. Menurut Andreas, jaringan publik sering kali memiliki enkripsi lemah, sehingga mudah dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk mencuri data pribadi.
Selain itu, penggunaan port USB sembarangan juga bisa berbahaya. Peretas bisa menanamkan malware melalui port tersebut, yang kemudian masuk ke perangkat pengguna dan membuka akses ke data perbankan. Serangan yang umum ditemui meliputi Man in the Middle Attack (MITM), sniffing atau pencurian data, malware distribution, hingga fake hotspot yang menyamar menyerupai jaringan asli.
Semua jenis serangan itu memiliki tujuan sama: menguasai informasi sensitif pengguna, termasuk data finansial.
“Karena itu, kami terus mendorong masyarakat agar #JanganKasihCelah pada tindakan fraud. Edukasi dan kewaspadaan menjadi kunci utama agar nasabah tetap aman menikmati kemudahan transaksi digital,” tambah Andreas.
Cara Sederhana untuk Tetap Aman
Danamon kemudian membagikan sejumlah tips praktis bagi nasabah agar bisa tetap merasa aman bertransaksi. Pertama, gunakan jaringan pribadi atau paket data seluler ketimbang Wi-Fi publik. Kedua, hindari mengisi daya di port USB umum dan biasakan membawa power bank sendiri.
Langkah berikutnya adalah mengaktifkan fitur keamanan tambahan. Nasabah dianjurkan menggunakan two factor authentication, baik berupa biometrik maupun OTP (One Time Password). Selain itu, rahasia seperti PIN dan kode OTP tidak boleh dibagikan kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku dari bank.
Danamon juga mengingatkan agar masyarakat selalu memperhatikan alamat situs atau aplikasi yang diakses. Situs resmi biasanya sudah dilengkapi protokol HTTPS, sehingga lebih aman dibanding tautan palsu yang sering disebarkan lewat pesan singkat atau email.
“Apabila nasabah menemukan transaksi mencurigakan setelah menggunakan fasilitas publik, kami menghimbau agar segera menghubungi Danamon melalui saluran resmi kami, salah satunya Hello Danamon di 1-500-090,” tegas Andreas.
Mengapa Kesadaran Keamanan Penting?
Kejahatan siber bukan hanya persoalan kerugian uang, tetapi juga menyangkut rasa aman. Generasi muda yang tumbuh dalam dunia digital sering kali merasa nyaman dengan teknologi, namun kadang melupakan pentingnya menjaga keamanan data pribadi.
Kasus penipuan perbankan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan menekankan pentingnya literasi digital sebagai langkah pencegahan. Tanpa kewaspadaan, data pribadi bisa menjadi pintu masuk kejahatan lain seperti pencurian identitas, peminjaman ilegal, atau bahkan akses ke rekening tabungan tanpa izin.
Melalui kampanye #JanganKasihCelah, Danamon berharap masyarakat tak hanya terbiasa dengan kemudahan digital, tetapi juga terbentuk budaya aman dalam setiap transaksi. Teknologi memang menawarkan efisiensi, namun tanpa perlindungan yang memadai, risiko bisa jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Baca juga:
Garis Kemiskinan Rendah, Penurunan Hanya di Angka
Kesadaran Kolektif di Era Digital
Ke depan, keamanan digital bukan lagi sekadar urusan individu, tetapi tanggung jawab bersama. Perbankan, regulator, dan masyarakat perlu bahu-membahu dalam menciptakan ekosistem transaksi yang aman.
Membiasakan langkah kecil, seperti menghindari Wi-Fi publik, mengaktifkan autentikasi ganda, hingga rajin mengganti password, dapat membuat perbedaan besar dalam mencegah kejahatan.
Dengan cara sederhana ini, masyarakat bisa tetap menikmati kemudahan layanan perbankan digital tanpa rasa waswas. Teknologi memang memudahkan, tetapi kewaspadaanlah yang menjaga kita tetap aman. (han)