oleh | Akhmad Muwafik Saleh
Citra adalah kumpulan persepsi yang diperoleh melalui penerimaan stimulus dari berbagai hal yang di tangkap oleh indera. Selain merespon fisik, maka indera manusia pun merespon berbagai hal yang bersifat non fisik yaitu berupa sikap, tindakan serta kelembutan hati. Untuk itulah Allah menegaskan bahwa seseorang akan terbangun citra positif atas seseorang lain atau suatu lembaga hingga kemudian mampu merubah pandangan dan sikap seseorang atas orang lain tersebut melalui pola hubungan yang terbangun dalam interaksi. Allah swt berfirman:
ŁŁŲØŁŁ ŁŲ§ Ų±ŁŲ۔٠ŁŲ©Ł Ł ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁŁ Ū”Ū ŁŁŁŁŁŪ” ŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲøŁŁŲ§ ŲŗŁŁŁŁŲøŁ Ł±ŁŪ”ŁŁŁŪ”ŲØŁ ŁŁŁ±ŁŁŁŲ¶ŁŁŁŲ§Ł Ł ŁŁŪ” ŲŁŁŪ”ŁŁŁŁŪ ŁŁŁ±Ų¹Ū”ŁŁ Ų¹ŁŁŪ”ŁŁŁ Ū” ŁŁŁ±Ų³Ū”ŲŖŁŲŗŪ”ŁŁŲ±Ū” ŁŁŁŁŁ Ū” ŁŁŲ“ŁŲ§ŁŁŲ±Ū”ŁŁŁ Ū” ŁŁŁ Ł±ŁŪ”Ų£ŁŁ Ū”Ų±ŁŪ ŁŁŲ„ŁŲ°ŁŲ§ Ų¹ŁŲ²ŁŁ Ū”ŲŖŁ ŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁŪ” Ų¹ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁŪ Ų„ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŁŲØŁŁ ٱŁŪ”Ł ŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (QS. Ali ‘Imran, Ayat 159)
Mari kita perhatikan kelemahlembutan sikap nabi terhadap seorang badui yang kencing di Masjid, disaat para sahabat tampak marah atas sikap tersebut, maka Rasulullah menghadapinya dengan kelembutan dengan mengatakan, “jangan kalian hentikan hajatnya, biarkan saja dia”, lalu beliau memerintahkan sahabat untuk menyiramkan air ket tempat yang dikencingi itu. Hingga suatu ketika si badui masuk masjid dan mendapati Rasulullah sedang di dalam masjid itu, maka badui itu berdoa, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad dan jangan rahmati siapapun selain kami”. Doa ini terkesan aneh, namun hal ini menandakan bahwa kelemahlembutan nabi mampu melahirkan loyalitas dan sekaligus perubahan sikap dari orang lain.
Sementara dalam tampilan wajah (face management) Rasulullah saw adalah pemilik senyuman terbaik sepanjang sejarah ummat manusia, beliau tidak banyak bicara, sekali bicara langsung menjadi acuan tindakan bagi manusia, seorang yang dermawan serta berhati halus penuh kepedulian hingga tangisan bayi dibelakang shaf perempuan menjadikannya mempercepat gerakan shalat diri manusia.
Berbagai tindakan, sikap bahkan manajemen wajah (face management), yang ditampilkan oleh Rasulullah mampu merubah dari membenci menjadi mencinta, dan dari posisi menolak menjadi mencintai. Hal ini dapat menjadi pelajaran berharga dalam komunikasi pelayanan bahwa sikap kepedulian, perhatian, kelembutan akan menciptakan image positif atas diri personal ataupun sebuah lembaga pelayanan.
Hal ini tentu dapat didesain dengan baik dalam sebuah organisasi layanan melalui penetapan standart operating prosedure dalam komunikasi dengan pelanggan, membantu terciptanya budaya kerja yang nantinya dapat dipercaya mampu membangun kepercayaan (trust) publik hingga terbangun citra positif yang mampu mendorong kepercayaan publik atas suatu lembaga pelayanan.
Penulis KH Akhmad Muwafik Saleh Pengasuh Pesma Tanwirul Afkar dan Dosen FISIP UB












