Kanal24 – Ancaman bencana hidrometeorologi kembali menempatkan Indonesia dalam fase siaga berkepanjangan. Menjelang akhir 2025, banjir dan dampak turunannya kembali meluas di sejumlah wilayah, memperlihatkan pola krisis yang berulang: cuaca ekstrem, kerentanan infrastruktur, dan kapasitas respons yang terus diuji. Situation Report terbaru yang dirilis Indonesia Humanitarian Country Platform (IHCP) mencatat bahwa bencana kali ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan potret kompleks dari risiko sosial, kesehatan, dan kemanusiaan yang saling berkelindan.
IHCP dalam laporannya menegaskan bahwa eskalasi dampak banjir tidak hanya diukur dari luasan genangan, tetapi dari konsekuensi lanjutan yang menyentuh kelompok paling rentan. Pengungsian, gangguan layanan kesehatan dasar, keterbatasan air bersih, hingga potensi peningkatan penyakit berbasis lingkungan menjadi rangkaian persoalan yang muncul hampir bersamaan di berbagai lokasi terdampak.
Platform Kemanusiaan dengan Reputasi Regional
IHCP atau Indonesia Humanitarian Country Platform dikenal sebagai forum koordinasi kemanusiaan yang menghimpun lembaga internasional, organisasi nasional, dan mitra lokal dalam respons bencana di Indonesia. Platform ini berfungsi sebagai ruang berbagi data, analisis, dan pembaruan situasi berbasis lapangan, sehingga laporan yang dihasilkan tidak berdiri pada satu sumber tunggal, melainkan hasil kompilasi lintas aktor kemanusiaan.
Dalam penyusunan Situation Report, IHCP menghimpun informasi dari berbagai jalur, mulai dari laporan lapangan mitra kemanusiaan, pembaruan pemerintah daerah dan nasional, hingga data sektor kesehatan, perlindungan, air dan sanitasi, serta ketahanan pangan. Data tersebut kemudian diverifikasi secara berlapis dan disajikan dalam bentuk analisis situasi untuk memetakan kebutuhan mendesak, risiko lanjutan, dan celah respons yang masih terjadi di lapangan.
Model kerja kolaboratif ini menjadikan laporan IHCP kerap dijadikan rujukan awal dalam perencanaan respons darurat, baik oleh lembaga kemanusiaan, pemangku kebijakan, maupun mitra pembangunan.
Dari Bencana Alam ke Krisis Kemanusiaan
IHCP mencatat bahwa dampak bencana akhir tahun ini menunjukkan kecenderungan berlapis. Banjir yang berkepanjangan tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga memutus akses layanan dasar. Fasilitas kesehatan di beberapa wilayah dilaporkan bekerja dengan kapasitas terbatas, sementara kebutuhan layanan kesehatan bagi kelompok rentanāanak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitasāmeningkat signifikan.
Di sisi lain, kondisi pengungsian memunculkan persoalan lanjutan. Kepadatan hunian sementara, keterbatasan sanitasi, serta akses air bersih yang belum stabil menjadi faktor risiko bagi munculnya penyakit menular. IHCP menilai, tanpa intervensi terkoordinasi, situasi ini berpotensi berkembang dari bencana alam menjadi krisis kesehatan masyarakat.
Koordinasi dan Tantangan Respons
Laporan IHCP juga menyoroti pentingnya koordinasi lintas sektor dalam merespons bencana yang semakin kompleks. Meski respons awal relatif cepat di sejumlah daerah, tantangan utama justru muncul pada fase lanjutan: keberlanjutan bantuan, ketepatan sasaran, dan sinkronisasi data antar lembaga.
Ketimpangan kapasitas antarwilayah menjadi catatan tersendiri. Daerah dengan infrastruktur dan sumber daya terbatas membutuhkan dukungan ekstra, baik dalam bentuk logistik, tenaga kesehatan, maupun penguatan sistem pemantauan risiko. IHCP menekankan bahwa pendekatan respons tidak bisa bersifat seragam, melainkan harus menyesuaikan konteks lokal dan tingkat kerentanan masing-masing wilayah.
Ujian bagi Ketahanan Nasional
Situasi kebencanaan akhir 2025 kembali menggarisbawahi bahwa Indonesia berada di garis depan risiko iklim dan bencana. Bagi IHCP, laporan situasi ini bukan sekadar dokumentasi, tetapi peringatan dini bahwa pola bencana ke depan akan semakin sering dan kompleks.
Tanpa penguatan mitigasi, kesiapsiagaan berbasis komunitas, serta integrasi data lintas sektor, respons kemanusiaan akan terus berada dalam posisi reaktif. Di titik inilah Situation Report IHCP menjadi penting: bukan hanya mencatat apa yang terjadi, tetapi mendorong pembacaan bersama atas apa yang perlu dibenahi sebelum krisis berikutnya datang.(Din)














