Kanal24, Malang – Indonesia memasuki babak baru dalam pengelolaan energi nasional seiring proyeksi tercapainya surplus bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada tahun ini. Pemerintah menilai kapasitas produksi dalam negeri kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga melampaui konsumsi nasional. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menghentikan impor solar dan memperkuat kemandirian energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa berdasarkan perhitungan produksi dan konsumsi terakhir, Indonesia berpotensi mencatat surplus solar sekitar 1,4 juta kiloliter. Selama ini, sebagian kebutuhan solar masih dipenuhi melalui impor, namun peningkatan kapasitas kilang dan kebijakan energi baru terbarukan menjadi faktor utama perubahan tersebut.
Baca juga:
Pemerintah Targetkan BBM Etanol 10 Persen Tahun 2028
Produksi Dalam Negeri Kian Menguat
Konsumsi solar nasional dalam beberapa tahun terakhir berada di kisaran puluhan juta kiloliter per tahun. Sebelumnya, sekitar lima juta kiloliter di antaranya masih bergantung pada pasokan luar negeri. Namun, dengan beroperasinya fasilitas kilang yang telah dimodernisasi serta optimalisasi produksi domestik, ketergantungan tersebut perlahan dapat dihapuskan.
Pemerintah menilai produksi solar dalam negeri kini telah cukup untuk menutup kebutuhan nasional, bahkan menyisakan kelebihan pasokan. Surplus ini menjadi indikator penting bahwa Indonesia mulai mampu mengelola kebutuhan energi strategisnya secara mandiri, khususnya untuk sektor transportasi dan industri.
Peran Biodiesel Dorong Efisiensi
Salah satu pendorong utama tercapainya surplus solar adalah kebijakan mandatori biodiesel. Pemerintah meningkatkan porsi campuran biodiesel berbasis minyak sawit hingga 50 persen dalam solar, yang dikenal dengan skema B50. Kebijakan ini menurunkan kebutuhan solar berbasis fosil sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya domestik.
Selain mendukung ketahanan energi, kebijakan biodiesel juga memberikan dampak ekonomi bagi sektor hulu, khususnya industri kelapa sawit nasional. Dengan meningkatnya serapan bahan baku dalam negeri, rantai nilai industri sawit dinilai semakin kuat dan berkontribusi pada perekonomian nasional.
Modernisasi Kilang Jadi Kunci
Faktor lain yang tak kalah penting adalah modernisasi kilang minyak nasional, salah satunya kilang di Balikpapan, Kalimantan Timur. Kilang yang telah ditingkatkan kapasitasnya tersebut mampu menghasilkan jutaan kiloliter solar setiap tahun, sekaligus meningkatkan kualitas produk BBM dalam negeri.
Modernisasi kilang juga berperan dalam efisiensi biaya. Dengan meningkatnya produksi dalam negeri, pemerintah dapat menekan pengeluaran devisa untuk impor BBM. Penghematan anggaran negara dari pengurangan impor solar dinilai cukup signifikan dan dapat dialihkan untuk kebutuhan pembangunan sektor lain.
Tantangan Spesifikasi Industri
Meski demikian, pemerintah mengakui masih terdapat tantangan dalam pemenuhan solar dengan spesifikasi tertentu, terutama untuk kebutuhan industri berat. Solar dengan standar cetane number tinggi masih sebagian dipenuhi dari luar negeri. Namun, volumenya relatif kecil dan ditargetkan dapat diproduksi di dalam negeri pada tahap berikutnya.
Pemerintah mendorong pengembangan teknologi kilang agar mampu memproduksi solar dengan berbagai spesifikasi sesuai kebutuhan sektor industri nasional, sehingga impor dapat ditekan secara bertahap hingga nol.
Menuju Ketahanan Energi
Proyeksi surplus solar ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Di tengah dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga minyak dunia, kemampuan memenuhi kebutuhan energi dari dalam negeri menjadi keunggulan penting bagi Indonesia.
Dengan kombinasi kebijakan biodiesel, peningkatan kapasitas kilang, dan pengelolaan konsumsi yang lebih efisien, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk tidak hanya menghentikan impor solar, tetapi juga membangun sistem energi yang lebih berdaulat dan berkelanjutan di masa depan. (nid)














