Kanal24, Malang – Akhir tahun tak hanya menjadi penanda tutupnya kalender, tetapi juga momen ketika dompet warga Kota Malang diuji. Menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026, tekanan harga kembali terasa—mulai dari kebutuhan dapur hingga barang bernilai investasi. Angka inflasi pun bergerak naik, mencerminkan denyut ekonomi yang belum sepenuhnya melambat.
Berdasarkan rilis resmi BPS Kota Malang (5/1/2026), inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) Kota Malang pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,81 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 106,94 pada Desember 2024 menjadi 109,95 pada periode yang sama tahun ini. Secara bulanan (month-to-month), inflasi tercatat 0,56 persen, sekaligus menjadi inflasi tahun kalender 2025.
Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin, menyebut kenaikan harga terjadi hampir merata di berbagai kelompok pengeluaran.
“Inflasi y-on-y Kota Malang sebesar 2,81 persen dipicu oleh kenaikan indeks pada hampir seluruh kelompok pengeluaran, terutama perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” ujarnya.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan lonjakan mencapai 16,95 persen. Di dalamnya, emas perhiasan menjadi komoditas yang paling mencolok kontribusinya terhadap inflasi tahunan. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,64 persen, didorong oleh naiknya harga beras, cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Tak hanya pangan, kenaikan juga terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 2,22 persen, pendidikan 1,69 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,58 persen. Gambaran ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak hanya menyentuh kebutuhan musiman, tetapi juga pengeluaran rutin rumah tangga.
Secara bulanan, inflasi Desember 2025 terutama dipengaruhi oleh komoditas cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan emas perhiasan. Kombinasi faktor cuaca, distribusi, serta tingginya permintaan menjelang libur akhir tahun menjadi penjelasan utama naiknya harga-harga tersebut.
Menurut Umar, dinamika harga di akhir tahun perlu dicermati bersama.
“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Desember 2025 secara umum menunjukkan peningkatan, sehingga Kota Malang mengalami inflasi m-to-m sebesar 0,56 persen,” jelasnya, merujuk pada data resmi yang dirilis BPS.
Meski demikian, inflasi Kota Malang masih berada dalam rentang yang relatif terkendali. Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah antisipasi, terutama menjaga stabilitas harga pangan dan kelancaran distribusi di awal tahun 2026.
Bagi masyarakat, angka inflasi ini menjadi pengingat bahwa kenaikan harga adalah realitas yang perlu dihadapi dengan perencanaan keuangan yang lebih cermat. Sementara bagi pembuat kebijakan, sinyal ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan daya beli warga Kota Malang.














