Kanal24, Malang – Perkembangan penyakit zoonosis dan infeksi parasit menuntut solusi yang lebih aman, efektif, dan ramah lingkungan. Tantangan tersebut dijawab oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) melalui rangkaian riset aplikatif yang menghasilkan berbagai produk inovasi berbahan alam. Inovasi ini dipresentasikan dalam agenda Evaluasi Kerjasama dan Launching BRAVICH – Veterinary Innovation & Collaboration Hub, Kamis (20/11/2025) di Aula Lantai 3 FKH UB.
Salah satu inovasi ditampilkan oleh Dr. drh. Dahliatul Qosimah, MKes, dosen FKH UB sekaligus peneliti di bidang mikrobiologi dan parasitologi. Ia memperkenalkan beberapa produk unggulan hasil kerja sama dengan mahasiswa, mulai dari anti-nyamuk herbal, salep antimikroba, hingga deodorant alami untuk hewan dan manusia.
Ragam Inovasi FKH UB
Dalam paparannya, Dahliatul menjelaskan bahwa produk anti-nyamuk yang dikembangkan menggunakan bahan utama serai, yang memiliki kandungan aktif untuk merusak sistem fisik nyamuk.
“Ini adalah produk yang mengarah pada pencegahan penyakit demam berdarah. Kandungan serai memiliki bahan aktif yang dapat merusak sistem tubuh nyamuk sehingga menyebabkan kematian,” jelasnya.
Produk ini tersedia dalam beberapa grade yang disesuaikan dengan pengguna. Formulasi khusus untuk anak dibuat lebih ringan, sementara versi dewasa dibuat lebih kuat dengan tambahan infus chili untuk efek panas yang lebih tinggi.
Salep Antimikroba dan Antiparasit
Dahliatul juga mengembangkan salep antimikroba yang mengombinasikan bahan alami seperti sulfur, madu, essential oil, dan vitamin.
“Dengan salep ini, kami berharap bisa mengatasi infeksi akibat bakteri, jamur, maupun parasit. Produk ini bisa digunakan untuk berbagai kasus gatal atau kondisi kulit lain, baik pada hewan maupun manusia,” ujarnya.
Produk ini dikembangkan awalnya atas permintaan UB Forest untuk kebutuhan lapangan, termasuk dalam pendakian yang membutuhkan perlindungan dari gigitan lintah dan serangga.
Inovasi lain adalah deodorant alami yang dikembangkan dengan kandungan tawas dan essential oil untuk mengurangi bakteri penyebab bau badan. Produk ini dirancang agar aman dipakai sehari-hari dan cocok bagi civitas akademika yang aktif di lapangan.
Mitra Menilai Efektivitas Tinggi
Kolaborator industri, Dharmawijaya Widyatama dari Radhiyan Pet & Care, menyampaikan bahwa kerja sama dengan FKH UB telah berlangsung tiga tahun dan sangat efektif.
“Efektivitasnya sangat tinggi karena kami satu visi: membangun kesejahteraan dokter hewan dan memperkuat hubungan antara akademisi dan pelaku industri,” ujarnya.
Ia menilai inovasi dosen-dosen FKH UB sangat bermanfaat dan memberi masukan agar generasi baru dokter hewan juga disiapkan secara mental menghadapi tantangan industri klinik yang terus berkembang.
Dekan FKH UB, drh. Dyah Ayu Oktavianie AP., M.Biotech., AP.Vet, sebelumnya menegaskan bahwa inovasi FKH tidak boleh berhenti di laboratorium. FKH mendorong agar produk inovasi dapat match dengan kebutuhan industri sehingga bisa diproduksi massal dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
Inovasi-inovasi yang dipresentasikan Dahliatul dinilai sebagai contoh konkret bagaimana riset kampus dapat menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, industri klinik hewan, dan sektor kesehatan secara lebih luas.(Din/Dpa)














