Kanal24, Malang – Brawijaya Institute for Islamic Civilization and Middle East Studies (BICMES) menggelar kegiatan Kajian Ramadan BICMES bertajuk “Sikap dan Dukungan Dunia Islam atas Serangan ke Iran” sebagai upaya meningkatkan literasi publik mengenai dinamika geopolitik Timur Tengah serta memperkuat pemahaman umat Islam terhadap isu-isu global. Koordinator BICMES, Yusli Effendi, S.IP., M.A., menjelaskan bahwa diskusi tersebut dihadirkan untuk memberikan perspektif akademik mengenai narasi yang berkembang di tengah konflik Iran dan Israel, terutama terkait upaya membenturkan perbedaan mazhab di dunia Islam. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan yang berlangsung pada Kamis (5/3/2026) di Masjid Ibnu Khaldun FISIP Universitas Brawijaya, lantai 3 Gedung C FISIP UB, dan diselenggarakan oleh BICMES.
Kegiatan tersebut menghadirkan Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., selaku pemateri sekaligus Koordinator Iran Corner, yang memaparkan berbagai perspektif terkait posisi negara-negara Muslim terhadap konflik di Timur Tengah. Diskusi ini juga menjadi bagian dari rangkaian program kajian Ramadan yang diselenggarakan oleh BICMES dengan fokus pada penguatan literasi keislaman dan pengembangan wacana keilmuan berbasis peradaban Islam.
Baca juga:
Riset Pakan Presisi Fapet UB Buka Jalan Baru Efisiensi Peternakan Nasional
Meningkatkan Literasi Konflik Timur Tengah
Yusli Effendi menjelaskan bahwa penyelenggaraan kajian ini tidak terlepas dari munculnya berbagai narasi di ruang publik yang berpotensi memecah belah umat Islam. Menurutnya, konflik Iran dan Israel kerap dimanfaatkan oleh sebagian pihak untuk kembali mengangkat isu perbedaan mazhab antara Sunni dan Syiah.
Ia menilai narasi tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak dibahas secara akademik dan objektif. Oleh karena itu, diskusi ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai sikap dunia Islam terhadap konflik yang sedang berlangsung.
“Karena kebetulan muncul perang Iran dan Israel, lalu muncul juga narasi untuk membenturkan lagi Sunni dan Syiah. Maka diskusi ini menjadi upaya untuk meningkatkan literasi tentang bagaimana sebenarnya sikap dan dukungan di dunia Islam terhadap Iran,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, para peserta diajak untuk melihat dinamika geopolitik Timur Tengah dari berbagai sudut pandang, baik dari sisi politik, sejarah, maupun hubungan antarnegara di dunia Islam.
Bagian dari Rangkaian Kajian Ramadan
Kegiatan ini merupakan seri kedua dari rangkaian diskusi Ramadan yang diselenggarakan oleh BICMES sepanjang bulan suci. Setiap pekan, diskusi digelar selepas salat Asar hingga menjelang waktu berbuka puasa.
Pada seri pertama, BICMES mengangkat tema Islamisasi pengetahuan dan dekolonisasi pengetahuan, yang membahas pentingnya membangun kerangka keilmuan yang berakar pada khazanah intelektual Islam.
Yusli menuturkan bahwa kajian-kajian tersebut dirancang sebagai ruang dialog akademik yang tidak hanya membahas isu keagamaan, tetapi juga persoalan peradaban dan geopolitik dunia Islam secara lebih luas.
“Dalam Ramadan ini kami mengadakan sekitar tiga seri diskusi. Acara pertama membahas Islamisasi pengetahuan dan dekolonisasi pengetahuan, sementara diskusi kedua ini membahas sikap dunia Islam terhadap konflik Iran,” jelasnya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, BICMES berharap dapat memperkuat tradisi intelektual di kalangan akademisi maupun mahasiswa Universitas Brawijaya.
Membangun Epistemologi Islam
Lebih jauh, Yusli menuturkan bahwa BICMES memiliki visi jangka panjang untuk mengembangkan kajian keilmuan yang berakar pada tradisi intelektual Islam. Salah satu fokus utamanya adalah mendorong lahirnya epistemologi Islam yang dapat menjadi alternatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, gagasan tersebut sebenarnya telah berkembang di sejumlah lembaga kajian di dunia Islam, seperti di Malaysia yang dipelopori oleh pemikir Muslim seperti Syed Naquib Al-Attas dan Ismail Raji Al-Faruqi. Namun, hingga kini pengembangannya masih banyak berada pada tataran filosofis.
“Selama ini wacana epistemologi Islam masih berada pada tataran filosofis. Ke depan kita ingin menurunkannya ke level yang lebih konkret, termasuk dalam metodologi penelitian,” ungkapnya.
Dengan demikian, BICMES diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan paradigma keilmuan yang lebih berakar pada nilai-nilai peradaban Islam.
Membangun Jaringan Akademik Dunia Islam
Selain pengembangan kajian ilmiah, BICMES juga berupaya memperluas kerja sama akademik dengan berbagai perguruan tinggi di dunia Islam dan negara-negara non-Barat. Hal ini dilakukan untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan riset antar akademisi.
Yusli menilai bahwa selama ini kerja sama internasional di perguruan tinggi Indonesia masih banyak berfokus pada kampus-kampus di negara Barat yang memiliki peringkat global tinggi. Padahal, banyak universitas di dunia Islam yang juga memiliki keunggulan akademik dan potensi kolaborasi riset.
“Melalui BICMES kami ingin mulai menginisiasi kerja sama dengan kampus-kampus di dunia non-Barat, seperti dari Turki, Iran, maupun Malaysia,” katanya.
Ia berharap ke depan BICMES dapat berkembang menjadi pusat unggulan riset peradaban Islam yang tidak hanya berperan di tingkat Universitas Brawijaya, tetapi juga memiliki jaringan akademik global. Selain menghasilkan penelitian, lembaga ini juga ditargetkan mampu melahirkan buku-buku yang mendokumentasikan pemikiran para tokoh intelektual dunia Islam.
Dengan berbagai agenda tersebut, BICMES diharapkan menjadi ruang strategis bagi pengembangan kajian peradaban Islam sekaligus memperkuat posisi Universitas Brawijaya dalam jejaring akademik dunia Islam. (nid/wan)














