Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) meneguhkan nilai kebersamaan, rasa syukur, dan pelestarian budaya dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-63. Momentum ulang tahun ini tidak sekadar dirayakan sebagai seremoni tahunan, tetapi juga dimaknai sebagai ruang refleksi perjalanan panjang UB sekaligus penguatan identitas kampus yang berakar pada nilai gotong royong dan kearifan lokal.
Salah satu agenda utama dalam rangkaian Dies Natalis ke-63 Universitas Brawijaya adalah Kenduri UB dan Pagelaran Wayang Kulit pada Jumat (19/12/2025), yang dilaksanakan pada malam hari di lingkungan Universitas Brawijaya. Kegiatan ini digelar oleh panitia Dies Natalis ke-63 UB dengan melibatkan seluruh fakultas dan unsur civitas academica sebagai bentuk perayaan bersama atas capaian UB hingga memasuki usia ke-63 tahun.
Baca juga:
Natal UB 2025 Menjadi Rumah Kehangatan Bersama

Kenduri sebagai Simbol Syukur dan Kebersamaan
Ketua Dies Natalis ke-63 Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa kenduri dipilih karena mengandung filosofi mendalam tentang kebersamaan dan rasa syukur. Menurutnya, kenduri merupakan ruang berkumpul seluruh warga UB untuk bersama-sama mensyukuri perjalanan dan pencapaian kampus.
āUntuk Dies Natalis yang ke-63 Universitas Brawijaya menyelenggarakan salah satu acara yang mengandung banyak filosofi, yakni kenduri. Ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang bersama-sama bersyukur merayakan kemeriahan ulang tahun Universitas Brawijaya,ā ujarnya.
Ia menambahkan, kirab tumpeng yang dikumpulkan dari seluruh fakultas menjadi simbol nyata gotong royong. āKirab tumpeng ini dikumpulkan dari seluruh fakultas, menandakan bahwa kita bergotong royong bersama-sama untuk kebersamaan. Tumpeng sendiri memiliki arti sebagai ungkapan rasa syukur karena Universitas Brawijaya telah menginjak usia ke-63,ā lanjutnya.
Kirab Tumpeng, Wujud Gotong Royong Lintas Fakultas
Kirab tumpeng menjadi salah satu momen yang paling mencerminkan semangat kolektif UB. Setiap fakultas berpartisipasi dengan membawa tumpeng sebagai simbol kontribusi dan kebersamaan dalam membangun universitas. Prosesi ini menjadi tradisi dan juga representasi visual dari semangat saling mendukung antarfakultas.
Prof. Hamidah menekankan bahwa kebersamaan inilah yang menjadi fondasi kekuatan UB. āNilai-nilai kebersamaan, kebersyukuran, dan religi menjadi bagian penting. Kita berdoa bersama-sama dan saling memperkuat, sehingga kebersamaan ini menjadikan kita semakin kokoh dan kuat,ā katanya.
Ia berharap, semangat tersebut mampu membawa UB terus melesat unggul. āHarapannya ke depan UB semakin unggul, kokoh, kuat, dan memberikan dampak bagi civitas academica, masyarakat Indonesia, maupun masyarakat internasional,ā tuturnya.
Wayang Kulit dan Pelestarian Nilai Budaya
Selain kenduri, pagelaran wayang kulit menjadi puncak hiburan sekaligus sarana pelestarian budaya tradisional. Ketua Panitia Kenduri dan Wayang Dies UB ke-63, Muhammad Nuh, menyampaikan bahwa wayang dipilih sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya Jawa dan budaya Nusantara secara umum.
āKenduri UB dan wayang kulit ini dimaknai sebagai aktivitas khususnya bagi civitas academica yang berdomisili di Jawa untuk menghargai budaya Jawa. Budaya tumpeng memberikan makna rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan rezeki yang diberikan, terutama atas prestasi UB yang telah dicapai di tingkat nasional maupun internasional,ā jelasnya.
Menurutnya, dukungan seluruh fakultas dalam kegiatan ini menunjukkan kuatnya semangat gotong royong. āIni menunjukkan kebersamaan gotong royongan dalam rangka mewujudkan Universitas Brawijaya yang berprestasi. Sementara wayang dipilih sebagai hiburan masyarakat dengan lakon Gatotkaca yang bermakna bahwa untuk sukses, seseorang harus mempersiapkan diri dan berusaha semaksimal mungkin,ā ungkapnya.
Muhammad Nuh juga berpesan agar budaya gotong royong dan pelestarian budaya terus dijaga. āKita jaga dan lestarikan budaya Jawa dan budaya bangsa Indonesia, serta terus menjaga gotong royong untuk membangun prestasi, kredibilitas, dan reputasi Universitas Brawijaya,ā katanya.

Makna Lakon Wahyu Brawijaya
Pagelaran wayang kulit dalam Dies Natalis ke-63 UB menghadirkan lakon Wahyu Brawijaya yang dibawakan oleh dalang Ki Riyanto Hangendali. Lakon ini dipilih untuk menggambarkan nilai kepemimpinan, kesiapan diri, dan estafet kejayaan dari masa lalu ke masa kini.
āBapak Rektor ingin membuka kembali masa lalu Raja Brawijaya dan kehebatan Majapahit. Lakon Wahyu Brawijaya ini dalam konteks Gatotkaca, yang maknanya adalah untuk menerima estafet kepemimpinan dibutuhkan persiapan,ā jelas Ki Riyanto.
Ia menambahkan bahwa pesan utama dari lakon tersebut adalah pentingnya menata diri sebelum meraih kesuksesan. āUntuk menjadi orang yang hebat dan sukses, penting untuk memantaskan diri menyambut kedatangan wahyu atau kesempatan. Sejarah Nusantara hingga Majapahit bisa kita pelajari untuk memahami kehebatan dan nilai-nilai luhur bangsa,ā pungkasnya.
Melalui kenduri dan pagelaran wayang kulit, Dies Natalis ke-63 Universitas Brawijaya menjadi perayaan usia dan juga momentum penguatan jati diri kampus yang menjunjung tinggi kebersamaan, rasa syukur, dan pelestarian budaya sebagai bekal menuju masa depan yang unggul dan berdaya saing. (nid/yor)














