Kanal24, Malang – Peringatan 47 tahun Revolusi Islam Iran menjadi momentum refleksi atas ketahanan Republik Islam tersebut di tengah tekanan sanksi internasional yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Dalam sebuah forum diskusi yang digelar di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta pada Rabu (11/02/2026), akademisi dari Universitas Brawijaya menyoroti bagaimana Iran mampu bertahan dan bahkan berkembang di berbagai sektor strategis.
Dosen Hubungan Internasional sekaligus Direktur Iran Corner FISIP UB, Sayyid Abdullah Assegaf, menyatakan bahwa revolusi 1979 bukan sekadar perubahan rezim, melainkan transformasi sistemik yang membentuk fondasi ketahanan nasional Iran hingga hari ini. “Revolusi Islam Iran membuktikan bahwa sebuah negara dapat membangun kemandirian meskipun berada di bawah tekanan embargo dan sanksi ekonomi yang berat,” ujarnya dalam forum tersebut.
Ia menambahkan bahwa ketahanan Iran tidak hanya terlihat dari stabilitas politik, tetapi juga dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Di tengah sanksi yang membatasi akses perdagangan dan finansial, Iran justru mampu mengembangkan teknologi strategis, mulai dari industri pertahanan, kesehatan, hingga riset energi,” kata Assegaf. Menurutnya, kemampuan tersebut menunjukkan adanya strategi pembangunan jangka panjang yang konsisten.

Baca juga:
Ambisi AS atas Greenland Mengguncang Dunia
Kemajuan di Tengah Tekanan Global
Selama lebih dari empat dekade, Iran menghadapi sanksi ekonomi yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutu Barat. Sanksi tersebut mencakup pembatasan ekspor minyak, akses sistem keuangan global, hingga kerjasama teknologi. Namun demikian, Iran tetap mempertahankan sejumlah indikator pembangunan yang relatif stabil.
Assegaf menilai bahwa salah satu faktor penting adalah konsolidasi internal pasca revolusi. “Ada kesadaran kolektif di dalam negeri untuk membangun kemandirian. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada impor, tetapi berupaya mengembangkan industri domestik,” jelasnya.
Ia juga menyinggung capaian di bidang pendidikan dan kesehatan. “Indeks pembangunan manusia Iran menunjukkan tren yang tidak bisa diabaikan. Ini menandakan bahwa pembangunan sosial tetap berjalan, meskipun tekanan eksternal terus ada,” tambahnya.
Dinamika Politik dan Respons Rakyat
Di Iran sendiri, peringatan revolusi dipusatkan di ibu kota Teheran dan berbagai kota besar lainnya. Jutaan warga turun ke jalan membawa bendera nasional dan simbol revolusi. Perayaan tersebut sekaligus menjadi ajang unjuk solidaritas terhadap pemerintahan yang ada.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pidatonya menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga kedaulatan negara. “Kami tidak akan tunduk pada tekanan asing. Dialog selalu terbuka, tetapi martabat bangsa adalah prioritas,” katanya di hadapan massa peringatan revolusi.
Meski demikian, dinamika internal Iran juga tidak lepas dari tantangan. Sejumlah pengamat internasional mencatat adanya kritik domestik terhadap kebijakan ekonomi dan pembatasan sosial. Namun pemerintah Iran menilai bahwa stabilitas nasional tetap terjaga dan partisipasi publik dalam peringatan revolusi menunjukkan legitimasi yang kuat.
Perspektif Internasional dan Diplomasi
Peringatan revolusi ke-47 ini turut mendapat perhatian dunia internasional. Beberapa negara dan perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan pesan diplomatik yang menekankan pentingnya dialog dan stabilitas kawasan.
Dalam konteks geopolitik Timur Tengah, Iran masih memainkan peran strategis, baik dalam isu keamanan regional maupun energi global. Ketegangan terkait program nuklir Iran tetap menjadi salah satu isu utama dalam hubungan internasional. Namun pemerintah Iran berulang kali menyatakan bahwa program tersebut bertujuan damai.
Assegaf menilai, Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman Iran dalam membangun ketahanan nasional. “Yang bisa kita cermati bukan semata-mata ideologinya, tetapi bagaimana mereka membangun daya tahan ekonomi dan teknologi di tengah tekanan global. Itu pelajaran penting bagi negara berkembang,” tuturnya.
Menurutnya, diplomasi yang seimbang dan pembangunan berbasis kemandirian menjadi kunci utama. “Kemandirian bukan berarti menutup diri, melainkan memperkuat fondasi domestik agar tidak mudah goyah ketika tekanan datang,” tegasnya.
Empat puluh tujuh tahun setelah revolusi, Iran masih berdiri sebagai salah satu aktor penting di kawasan. Di tengah narasi global yang beragam—antara kritik dan pengakuan atas ketahanannya—peringatan tahun ini menjadi simbol bahwa revolusi tersebut tidak hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai fondasi identitas dan strategi bertahan sebuah bangsa. (nid)













