Kanal24, Malang – Kompetisi global tidak lagi sekadar soal kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan mental dan kemampuan beradaptasi lintas budaya. Di tengah tuntutan tersebut, perguruan tinggi mulai mendorong mahasiswa untuk tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga berinteraksi langsung dengan dunia internasional.
Salah satunya dilakukan oleh Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (FAPET UB) melalui Inbound Student Program yang menghadirkan 14 mahasiswa asing dari berbagai negara, seperti Jepang dan Pakistan, Jumat (10/4/2026), di lantai 6 Gedung Fakultas Pertanian UB. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kolaborasi global sekaligus menguji kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan internasional.
Wakil Dekan Bidang Akademik FAPET UB, Ir. Rizki Prafitri, S.Pt., M.A., Ph.D., menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertukaran mahasiswa, tetapi strategi membangun kepercayaan diri mahasiswa dalam kompetisi global.
“Kami mengundang mahasiswa asing agar mahasiswa S1 terpapar kerja sama internasional. Harapannya, mereka bisa lebih percaya diri dan menunjukkan bahwa kita tidak kalah dengan negara lain,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan utama mahasiswa saat ini bukan lagi pada penguasaan bidang, tetapi pada mental saat berhadapan di tingkat internasional.
“Kemampuan bidang sudah baik, tetapi untuk lomba internasional masih perlu ditingkatkan, terutama kepercayaan diri,” jelasnya.
Mendorong Problem Solving Sektor Peternakan
Program ini tidak berhenti pada interaksi budaya, tetapi dirancang berbasis problem solving. Melalui Focus Group Discussion (FGD), mahasiswa diajak turun langsung ke lapangan untuk mengidentifikasi persoalan di sektor peternakan di Malang.
Muchammad Muchlas dari Tim International Relationship FAPET UB menjelaskan, pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis sekaligus menghasilkan solusi berbasis riset.
“Mereka merumuskan masalah, lalu membuat inovasi yang akan dilombakan dalam bentuk scientific writing, business plan, dan poster,” katanya.
Dari proses tersebut, berbagai ide inovatif muncul. Salah satunya adalah pengembangan es krim yogurt berbasis susu kerbau yang digagas mahasiswa FAPET UB melalui kolaborasi dengan mahasiswa dari Pakistan.
“Kami ingin mengembangkan produk berbasis susu kerbau karena potensinya besar, terutama dari kolaborasi dengan Pakistan,” ujar Naila.
Ia menambahkan, diskusi lintas negara membantu memperkuat konsep hingga memiliki potensi menjadi model bisnis yang berkelanjutan.

Kolaborasi Budaya, Inovasi Global
Kolaborasi juga terlihat dari mahasiswa internasional. Yuki dan Fuka dari Nagoya University, Jepang, menghadirkan inovasi masker wajah organik yang menggabungkan unsur budaya Indonesia dan Jepang.
“Kami tidak bisa menemukan ide ini sendiri. Mahasiswa UB membantu kami memahami budaya Indonesia hingga akhirnya lahir inovasi ini,” ungkap mereka.
Interaksi lintas budaya ini menjadi nilai utama program, di mana perbedaan latar belakang justru melahirkan perspektif baru dalam pengembangan inovasi.
Membangun Ekosistem Global dari Kampus
Program ini menunjukkan bahwa internasionalisasi tidak hanya tentang mobilitas mahasiswa, tetapi tentang membangun ruang kolaborasi yang nyata. Dari ruang diskusi hingga ide bisnis, mahasiswa didorong untuk menghasilkan solusi yang relevan secara global.
Lebih dari sekadar kegiatan akademik, Inbound Student Program FAPET UB menjadi langkah strategis dalam membangun generasi yang siap bersaing, adaptif, dan mampu berkolaborasi lintas negara.
Ke depan, kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada program jangka pendek, tetapi berkembang menjadi jejaring global yang berkelanjutan—menghubungkan kampus, riset, dan inovasi dengan kebutuhan dunia.(Din)














