Kanal24, Malang — Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering terasa tidak pasti, kecemasan menjadi pengalaman yang hampir tak terhindarkan bagi banyak orang. Terutama bagi generasi muda yang sedang mencari arah hidup, ketidakpastian tentang masa depan kerap menghadirkan kegelisahan yang sulit dihindari.
Harapan ada, tetapi keraguan juga selalu menyertainya. Masa depan terasa dekat sekaligus jauh. Dalam situasi seperti itulah manusia sering menyadari bahwa kecemasan sebenarnya adalah bagian dari menjadi manusia.
Menurut Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., seorang filsuf Islam yang dikenal luas melalui kajian-kajian pemikirannya di berbagai platform digital, kecemasan bukan sesuatu yang harus sepenuhnya dihapus dari kehidupan.
“Cemas itu manusiawi,” ujarnya.
Bagi Dr. Faiz, kecemasan justru menunjukkan bahwa manusia memiliki kesadaran terhadap masa depan. Manusia memikirkan kemungkinan, mempertimbangkan risiko, sekaligus berharap akan sesuatu yang lebih baik.
Persoalan muncul ketika kecemasan berkembang tanpa arah dan akhirnya justru melemahkan manusia.
Memahami Kecemasan sebagai Bagian dari Kehidupan
Di titik inilah konsep tawakal dalam Islam menemukan maknanya.
Dalam pandangan Dr. Faiz, tawakal bukanlah sikap menyerah tanpa usaha. Tawakal justru lahir setelah manusia melakukan ikhtiar terbaik yang dapat dilakukannya.
Manusia memiliki ruang untuk berusaha, mencari solusi, dan mengambil keputusan. Namun manusia tidak memiliki kuasa penuh atas hasil akhir dari semua usaha tersebut.
“Kita berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah,” jelasnya.
Kesadaran akan batas kemampuan diri inilah yang sering kali terlupakan. Banyak orang merasa harus mampu mengendalikan segalanya—masa depan, karier, bahkan penilaian orang lain.
Padahal dalam kenyataannya, tidak semua hal berada dalam kendali manusia.
Ketika manusia memaksakan diri mengendalikan sesuatu yang berada di luar kuasanya, kecemasan justru semakin membesar. Sebaliknya, ketika manusia memahami batas antara ikhtiar dan takdir, batin menjadi lebih lapang.
Bagi Dr. Faiz, keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal merupakan cara manusia menjaga ketenangan di tengah ketidakpastian hidup.
Gagasan ini menjadi semakin relevan bagi generasi muda yang hidup dalam era kompetisi yang tinggi. Tekanan untuk berhasil, ekspektasi sosial, hingga arus informasi yang begitu cepat sering kali membuat banyak orang merasa tertinggal atau tidak cukup baik.
Dalam situasi seperti itu, memahami batas-batas kemampuan diri justru menjadi bentuk kedewasaan spiritual.
Tawakal sebagai Jalan Menemukan Ketenangan
Dr. Faiz juga menekankan bahwa gagasan-gagasan filsafat Islam sebenarnya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun sering kali ia terasa sulit dipahami karena disampaikan dengan bahasa yang terlalu rumit.
Menurutnya, filsafat justru akan lebih hidup jika dihubungkan dengan pengalaman manusia sehari-hari.
“Kalau kita sampaikan dengan bahasa yang lebih ringan dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, filsafat menjadi lebih mudah dipahami,” ujarnya.
Pendekatan inilah yang membuat kajian-kajian Dr. Faiz banyak diminati oleh kalangan muda. Ia tidak hanya membahas konsep besar dalam tradisi pemikiran Islam, tetapi juga mengaitkannya dengan persoalan hidup yang nyata—tentang kegelisahan, harapan, dan pencarian makna hidup.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Faiz juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai ruang intelektual umat.
Masjid, menurutnya, tidak seharusnya hanya menjadi tempat ibadah ritual semata. Lebih dari itu, masjid juga dapat menjadi tempat lahirnya gagasan, diskusi, dan perumusan arah peradaban umat.
“Sudah saatnya kita menjadikan masjid bukan hanya pusat peribadatan, tetapi juga pusat peradaban,” katanya.

Dalam sejarah Islam, masjid memang memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Pada masa Rasulullah, masjid menjadi ruang pertemuan masyarakat, tempat pendidikan, bahkan tempat merumuskan berbagai strategi sosial.
Menghidupkan kembali peran tersebut, menurut Dr. Faiz, dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun kembali tradisi intelektual umat.
Gagasan tentang tawakal juga ia kaitkan dengan situasi sosial yang sering menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat.
Dalam menghadapi kebijakan atau kondisi yang tidak sesuai dengan harapan, manusia tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik dan pendapat. Namun kritik tersebut perlu disampaikan dengan cara yang baik agar tidak menjadi kontraproduktif.
Di sisi lain, manusia juga perlu menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan sepenuhnya.
“Ada hal-hal yang berada di luar kuasa kita. Di situ kita pasrahkan kepada Allah,” ujarnya.
Pada akhirnya, kecemasan mungkin memang tidak bisa sepenuhnya dihapus dari kehidupan manusia. Ia akan selalu hadir sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Namun dengan memahami batas kemampuan diri, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan menyerahkan hasil kepada Tuhan, kecemasan tidak lagi menjadi beban yang melumpuhkan.
Sebaliknya, ia dapat menjadi jalan bagi manusia untuk bertumbuh dan menemukan ketenangan.
Menghidupkan Kajian Islam bagi Generasi Muda
Ketua pelaksana kegiatan Cafe Ramadhan, Muhammad Fauzan, mengatakan kajian tersebut memang dirancang untuk menghadirkan ruang diskusi keislaman yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Kami ingin mengajak pemuda untuk ikut dalam kajian seperti ini, karena pemuda adalah penerus bangsa. Harapannya siapa saja yang mengikuti kajian ini bisa mengambil hikmah dari apa yang disampaikan dan membawa kebaikan itu ke lingkungan mereka,” ujarnya.
Bagi banyak orang yang hadir malam itu, mungkin kegelisahan hidup tidak langsung hilang. Tetapi setidaknya mereka pulang dengan satu pemahaman baru: bahwa kecemasan adalah bagian dari menjadi manusia—dan tawakal adalah cara untuk tetap tenang menjalaninya.(Din/Awn)














