Kanal24, Malang – Pernahkah kamu merasa sangat takut melakukan sesuatu karena khawatir dianggap tidak sempurna oleh orang lain? Rasa takut macam itu sering dianggap hanya “perasaan biasa” atau sekadar sifat perfeksionis, padahal dalam beberapa kasus bisa menjadi kondisi psikologis yang lebih serius, yaitu atelofobia.
Atelofobia berasal dari kata “atelos” (bahasa Yunani yang berarti tidak sempurna) dan “phobia” (ketakutan). Jadi secara harfiah, atelofobia adalah ketakutan yang berlebihan terhadap ketidaksempurnaan atau kegagalan. Bukan sekadar ingin melakukan yang terbaik, orang dengan atelofobia sering merasa cemas luar biasa, takut dihakimi atau ditolak jika sesuatu yang dilakukan tidak “sempurna” di mata orang lain.
Kondisi ini tidak hanya membuat seseorang khawatir tentang hasil kerjanya sendiri, tetapi juga berdampak pada cara mereka berinteraksi sosial, bekerja, belajar, dan mengambil keputusan dalam hidup. Rasa takut yang berlebihan ini bisa memicu siklus kecemasan yang berulang, yang lama-kelamaan malah justru menghambat potensi dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Gejala Atelofobia: Lebih dari Sekadar Perfeksionisme
Tidak semua orang yang ingin hasil kerja bagus mengalami atelofobia. Perbedaan pentingnya adalah intensitas dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Beberapa gejala umum yang sering muncul pada orang dengan atelofobia meliputi:
- Kecemasan yang berlebihan ketika menghadapi tugas atau tanggung jawab yang dinilai “tidak bisa sempurna.”
- Perfeksionisme ekstrem, yakni kebutuhan terus-menerus untuk memastikan segala hal benar sampai tingkat yang tidak realistis.
- Hindari tantangan atau perubahan, karena takut gagal atau tampil buruk.
- Overthinking (berpikir berlebihan) tentang masa lalu, kesalahan kecil, atau kemungkinan hasil yang tidak ideal.
- Rasa rendah diri atau tidak cukup baik, terutama jika melihat prestasi orang lain.
Gejala-gejala di atas kadang mirip dengan sifat perfeksionis, tetapi ketika sudah mulai mengganggu fungsi normal kehidupan—misalnya membuat seseorang menunda kerjaan, menarik diri dari pergaulan, atau merasa sangat stres setiap hari—itu bisa menjadi tanda bahwa kecemasan sudah terlalu berlebihan dan mempengaruhi kesejahteraan psikologis.
Penyebab dan Pemicu Ketakutan Tidak Sempurna

Tidak ada satu penyebab tunggal yang secara pasti membuat seseorang mengalami atelofobia. Banyak faktor yang bisa berkontribusi, antara lain:
- Pengalaman masa kecil, misalnya lingkungan yang terlalu menuntut atau selalu membanding-bandingkan.
- Perfeksionisme yang dipelajari sejak dini, di mana prestasi dianggap satu-satunya ukuran nilai diri.
- Tingkat stres dan ekspektasi sosial yang tinggi, baik dari sekolah, pekerjaan, atau media sosial.
- Trauma atau pengalaman negatif terkait kegagalan, sehingga otak “belajar” menghindari kegagalan dengan segala cara.
Kombinasi antara faktor internal (sikap, kepribadian) dan eksternal (tekanan sosial, pengalaman hidup) ini bisa membuat kecemasan terhadap ketidaksempurnaan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar “ingin bagus.”
Bagaimana Mengatasi Atelofobia?

Untungnya, atelofobia bukan kondisi yang tidak bisa diatasi. Banyak strategi yang dapat membantu seseorang untuk mengelola kecemasan dan mengurangi dampaknya. Di antaranya:
- Perubahan Pola Pikir
Mengubah pola pikir dari harus sempurna menjadi cukup baik dan berkembang sangat penting. Latihan seperti self-compassion (belas kasih pada diri sendiri) dapat membantu seseorang tidak terlalu keras pada dirinya sendiri ketika menghadapi kesalahan atau kegagalan.
- Terapi Perilaku Kognitif (CBT)
CBT adalah salah satu bentuk terapi yang efektif untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan irasional. Terapi ini membantu seseorang mengenali pola pikir negatif dan menggantinya dengan cara berpikir yang lebih realistis dan sehat.
- Latihan Menghadapi Ketidakpastian
Menghadapi ketidakpastian sedikit demi sedikit melalui exposure therapy (terapi paparan bertahap) dapat membantu menurunkan kecemasan. Misalnya, mulai dengan tugas kecil yang tidak harus sempurna, lalu meningkat secara bertahap.
- Dukungan Profesional dan Sosial
Berbicara dengan psikolog atau konselor dapat memberikan panduan yang tepat. Dukungan dari teman atau keluarga juga sangat membantu untuk memberi rasa aman dan mengurangi tekanan internal yang berlebihan. (cay)













