Kanal24, Malang – Penguatan ekonomi lokal tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Di tingkat kampung, identitas kawasan justru menjadi modal sosial penting untuk menggerakkan partisipasi warga sekaligus memperkuat UMKM. Inilah yang dilakukan RW 09 Kelurahan Oro-Oro Dowo dengan menghidupkan konsep Sekabrom, identitas lokal yang merepresentasikan karakter wilayah dan warganya.
Sekabrom merujuk pada tiga kawasan yang secara geografis beririsan dengan RW 09, yakni Semeru, Kayutangan, dan Bromo. Penamaan ini lahir dari posisi wilayah RW 09 yang berada di titik pertemuan ketiganya, sekaligus mencerminkan kekhasan sosial dan kultural masyarakat setempat. Konsep yang sempat meredup tersebut kini kembali dimunculkan melalui pendekatan kreatif dan partisipatif.
Revitalisasi Sekabrom diwujudkan melalui Pameran UMKM bertajuk “Ngumpul Nang Sekabrom”, yang merupakan program kerja Kelompok KKN 2.03 Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya. Kelompok ini ditempatkan di Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, dengan pendampingan dosen pembimbing Kristanto Adi Nugroho, ST., MT. Program tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Vokasi UB yang pada tahun ini diterjunkan di dua kecamatan Kota Malang, yakni Kecamatan Klojen dan Lowokwaru.
Pameran UMKM Sekabrom tidak hanya menjadi ruang promosi produk lokal, tetapi juga dirancang secara interaktif untuk mendorong keterlibatan masyarakat. Tim KKN menghadirkan program Sticker Hunt serta lomba mewarnai bagi anak-anak berusia maksimal 10 tahun, sebagai upaya menjadikan kegiatan UMKM lebih inklusif dan ramah keluarga.
Melalui konsep Sticker Hunt, pengunjung diajak berinteraksi langsung dengan pelaku UMKM RW 09 yang telah terpasang signage resmi dari tim KKN. Setiap pembelian produk dengan kelipatan Rp5.000 akan mendapatkan satu stiker. Pengunjung yang berhasil mengumpulkan 10 stiker berhak memperoleh pin eksklusif Sekabrom sebagai bentuk apresiasi sekaligus simbol partisipasi dalam mendukung ekonomi lokal.
Kegiatan ini mendapat perhatian langsung dari Camat Klojen, yang turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa. Saat wawancara berlangsung, Camat Klojen Willstar Taripar Hatoguan menilai program tersebut memiliki nilai strategis bagi penguatan identitas kawasan.
“KKN ini tidak hanya mendorong pergerakan ekonomi UMKM, tetapi juga berhasil mengangkat kembali konsep Sekabrom sebagai urban legend lokal yang merepresentasikan identitas dan karakter warga RW 09”.
Sekabrom sendiri dipahami sebagai konsep berbasis urban legend yang tumbuh dari keseharian warga dan ruang hidupnya. Melalui kegiatan Ngumpul Nang Sekabrom, konsep ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda temporer, melainkan dapat diwariskan menjadi program berkelanjutan yang dijalankan secara gotong royong oleh warga, dengan dukungan pemerintah kelurahan, kecamatan, serta institusi pendidikan.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa KKN Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya berperan sebagai pemantik dalam menyusun konsep, menggerakkan kolaborasi, serta membuka ruang partisipasi warga. Pendampingan akademik dari dosen pembimbing turut memperkuat arah program agar memiliki keberlanjutan dan dampak nyata.
“Ke depan, konsep program yang mengangkat Sekabrom diharapkan dapat terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan berbasis UMKM, seni, budaya, dan ekonomi kreatif, sehingga RW 09 Kelurahan Oro-Oro Dowo memiliki identitas kawasan yang kuat, unik, dan nilai jual lebih,” imbuh Willstar.
Dengan semangat kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, Sekabrom diharapkan menjadi contoh praktik baik penguatan ekonomi lokal sekaligus pelestarian identitas kawasan berbasis partisipasi warga.(Din)














