Kanal24, Turki – Di tengah cepatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi tulang punggung transformasi digital global, peningkatan literasi AI di kalangan mahasiswa menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda. Tantangan administrasi publik, pelayanan pemerintahan, hingga tata kelola data semakin membutuhkan pemahaman teknologi yang memadai—bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara.
Menjawab tantangan ini, Program Studi Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya (MAP UB) menginisiasi langkah strategis melalui program pengabdian internasional di Atatürk University, Turki, sebagai bagian dari upaya memperluas cakupan edukasi lintas negara.
Kegiatan yang merupakan pengabdian internasional di OLTU Humanities and Social Sciences Faculty, Atatürk University, Turki ini berlangsung pada 26 hingga 29 September 2025. Mengusung tema Enhancing Artificial Intelligence Literacy for Students, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa Atatürk University mengenai literasi kecerdasan buatan (AI).

Kegiatan ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi di Atatürk University, serta sejumlah akademisi dan praktisi yang bergerak di bidang teknologi dan administrasi publik. Partisipasi lintas disiplin ilmu tersebut menunjukkan tingginya antusiasme terhadap perkembangan AI yang kian berpengaruh dalam berbagai sektor kehidupan.
Materi utama disampaikan oleh dua narasumber, yaitu Dr. Alfi Haris Wanto, S.AP., M.AP., M.MG., dan Akhmad Amirudin, Ph.D. Dalam penyampaiannya, kedua pembicara mengulas perkembangan terbaru dalam teknologi kecerdasan buatan serta potensi implementasinya untuk mendukung sektor-sektor strategis, termasuk administrasi publik.

Dr. Wanto menekankan bahwa literasi AI merupakan keterampilan esensial bagi mahasiswa di era digital saat ini. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya berperan sebagai konsumen teknologi. “Kami berharap program ini dapat memberi wawasan yang lebih dalam kepada mahasiswa di sini, dan menjadi bagian dari langkah bersama untuk memajukan pendidikan di bidang kecerdasan buatan,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Amirudin menyoroti pentingnya kemampuan praktis dalam memanfaatkan teknologi AI, terutama dalam konteks sosial dan administrasi publik. “AI dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk memperbaiki pelayanan publik, pengambilan keputusan yang berbasis data, dan transparansi pemerintahan,” ungkapnya.
Kegiatan ini mendapatkan sambutan positif dari Atatürk University, yang menilai program tersebut sebagai peluang memperkuat kerja sama internasional sekaligus memperkaya wawasan akademik mahasiswa dalam menghadapi dinamika global era digital. Hubungan akademik antara kedua universitas diharapkan semakin erat dan membuka peluang kolaborasi lebih jauh, khususnya dalam riset dan pengembangan teknologi.
Program Studi Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya juga berharap dapat melanjutkan pengabdian internasional ke universitas-universitas terkemuka lainnya. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen MAP UB untuk memperluas wawasan global mahasiswa serta mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.(Din)














