Kanal24, Malang – Konferensi internasional bertajuk “The Legacy of Imam Khamenei; Roots and Ideas” akan digelar secara virtual pada Selasa, (7/4/2026). Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan hari ke-40 (Arbaeen) wafatnya Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, pemimpin terdahulu Republik Islam Iran, dan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 11.30 waktu Teheran.
Forum ilmiah ini diselenggarakan melalui kolaborasi kantor perwakilan budaya Republik Islam Iran di sejumlah negara Asia Timur dan Oseania, termasuk Jepang, Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Penyelenggara menghadirkan berbagai tokoh lintas disiplin dan lintas agama guna memperkaya perspektif dalam membahas warisan intelektual dan politik Imam Khamenei.
Baca juga:
Iran Corner UB Rilis Memorandum “Hentikan Perang”, Soroti Gaza, Al Aqsa, dan Eskalasi Iran

Acara akan dibuka oleh Hujjatul Islam Dr. Mohammad Mehdi Imanipour, Kepala Organisasi Kebudayaan dan Hubungan Islam Iran. Dalam kapasitasnya, ia diharapkan memberikan kerangka awal mengenai pentingnya mengkaji pemikiran Imam Khamenei dalam konteks global, khususnya di tengah dinamika hubungan antarperadaban saat ini.
Konferensi ini menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai negara dengan latar belakang akademik, sosial, dan keagamaan yang beragam. Dari Indonesia, Prof. Dr. Din Syamsuddin dijadwalkan menyampaikan pandangannya. Mantan Ketua Umum Muhammadiyah tersebut dikenal luas sebagai tokoh yang aktif dalam dialog antaragama dan promosi Islam moderat di tingkat internasional.
Dalam forum ini, Din Syamsuddin diperkirakan akan menyoroti relevansi pemikiran Imam Khamenei dalam membangun peradaban Islam yang inklusif dan berorientasi pada perdamaian. Pengalamannya dalam diplomasi budaya dan hubungan internasional menjadi nilai tambah dalam memperkaya diskusi.
Dari Malaysia, Haji Azmi bin Abdul Hamid, Presiden Majelis Perundingan Organisasi Islam Malaysia (MAPIM), juga akan turut berbicara. Ia dikenal sebagai aktivis kemanusiaan yang vokal dalam isu solidaritas umat Islam, khususnya terkait Palestina. Dalam konferensi ini, ia diperkirakan akan mengulas dimensi sosial dan politik dari warisan pemikiran Imam Khamenei.
Sementara itu, perspektif akademik dari Asia Timur akan disampaikan oleh Prof. Kenji Tomita dari Jepang. Mantan profesor studi Iran kontemporer di Universitas Doshisha tersebut dikenal sebagai salah satu pelopor kajian Revolusi Islam di kawasan Asia Timur. Ia juga telah menerjemahkan sejumlah karya penting ke dalam bahasa Jepang, sehingga berperan besar dalam memperkenalkan pemikiran Iran modern di kawasan tersebut.
Konferensi ini juga menampilkan tokoh lintas agama sebagai bagian dari upaya memperluas dialog global. Dari Australia, Dr. Father Dave Smith, seorang pendeta Kristen dan tokoh sosial internasional, dijadwalkan berbicara mengenai aspek etika dan kemanusiaan dalam pemikiran Imam Khamenei. Ia dikenal aktif dalam berbagai forum internasional dan memiliki perhatian terhadap isu-isu keadilan sosial.
Dari Thailand, Phra Ajarn Saman Sringam, seorang biksu Buddha senior, turut hadir sebagai pembicara. Kehadirannya mencerminkan komitmen konferensi dalam mendorong dialog antaragama. Ia diharapkan memberikan perspektif mengenai kontribusi pemikiran Imam Khamenei terhadap perdamaian dunia dan hubungan lintas keyakinan.
Keberagaman latar belakang para pembicara menunjukkan bahwa konferensi ini tidak hanya berfokus pada satu sudut pandang, melainkan membuka ruang diskusi yang luas dan inklusif. Peserta dari berbagai negara di Asia Timur dan Oseania diharapkan dapat saling bertukar gagasan serta memperdalam pemahaman terhadap warisan intelektual Imam Khamenei.
Selain membahas aspek teologis dan filosofis, forum ini juga akan menyoroti dimensi politik dan peradaban dari pemikiran Imam Khamenei. Diskusi akan diarahkan pada relevansinya dalam menjawab tantangan global, seperti konflik antarnegara, krisis kemanusiaan, serta kebutuhan akan dialog lintas budaya yang lebih intensif.
Penyelenggara berharap konferensi ini dapat menjadi platform strategis dalam memperkuat jejaring intelektual antarnegara, sekaligus memperluas kajian tentang pemikiran Islam dalam konteks global. Dengan melibatkan tokoh dari berbagai latar belakang, kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan perspektif yang lebih komprehensif dan konstruktif. (nid)














