Kanal24, Malang – Pencapaian akademik tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga konsistensi, manajemen diri, serta dukungan lingkungan terdekat. Hal inilah yang tercermin dari kisah wisudawan terbaik Universitas Brawijaya (UB) yang mampu menyelesaikan studi magister dengan prestasi membanggakan di tengah berbagai tantangan akademik dan personal.
Predikat wisudawan terbaik tersebut diraih oleh Hanna Syakira Salsabila, M.T., dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), pada Wisuda Universitas Brawijaya yang dilaksanakan pada Sabtu (17/01/2026), bertempat di Universitas Brawijaya, Malang, dan diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya.
Baca juga:
FGD FH UB Dorong Percepatan Sertifikasi Tanah Wakaf
Konsistensi Menjadi Kunci Utama
Selama menempuh pendidikan magister, Hanna mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bukan semata pada materi perkuliahan, melainkan menjaga konsistensi terhadap target pribadi untuk lulus tepat waktu. Ia menekankan pentingnya berkomitmen pada diri sendiri dan tidak mudah goyah oleh berbagai distraksi. Menurutnya, konsistensi menjadi fondasi utama agar seluruh proses studi dapat dijalani hingga tuntas.
Dalam menghadapi padatnya aktivitas akademik dan kehidupan personal, Hanna menerapkan strategi membuat skala prioritas. Ia membagi waktu dan energi secara proporsional antara studi, keluarga, dan pekerjaan. Dengan memahami mana yang lebih penting pada situasi tertentu, Hanna mampu menjaga keseimbangan tanpa mengorbankan tanggung jawab akademiknya.
Riset Cocopeat Ramah Lingkungan
Penelitian yang diangkat Hanna berfokus pada pemanfaatan cocopeat sebagai media tanam ramah lingkungan. Ia meneliti kandungan zat toksik seperti tanin dalam cocopeat dan bagaimana material tersebut tetap dapat dimanfaatkan secara aman untuk tanaman. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah kelapa secara lebih optimal.
Menariknya, penelitian tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan dosen dan peneliti, termasuk kerja sama dengan pihak di Korea. Untuk membagi waktu antara riset kolaboratif dan kewajiban lain, Hanna kembali menegaskan pentingnya manajemen prioritas yang jelas. Di sisi lain, dukungan terbesar datang dari kedua orang tuanya yang senantiasa memberikan doa dan semangat. Ke depan, Hanna berharap ilmu yang dimilikinya dapat dibagikan kepada masyarakat luas, terutama karena ia telah bekerja dan ingin memberi manfaat yang lebih nyata bagi lingkungan sekitar. (nid/qrn)














