Kanal24, Jakarta — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan bahwa stabilitas sistem keuangan (SSK) Indonesia pada triwulan III tahun 2025 tetap terjaga dan terus mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional. Meski tekanan global masih tinggi, koordinasi kebijakan lintas lembaga dinilai semakin solid dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.
KSSK yang terdiri atas Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah melaksanakan Rapat Berkala KSSK IV pada 31 Oktober 2025. Dalam rapat tersebut, disepakati penguatan sinergi kebijakan antarlembaga guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap tangguh di tengah dinamika global yang fluktuatif.
“KSSK terus memperkuat kewaspadaan terhadap risiko global dan domestik melalui koordinasi serta respons kebijakan yang terarah dan efektif,” demikian pernyataan resmi KSSK (3/11/2025).
Secara global, ekonomi dunia masih menghadapi tantangan akibat dampak kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang menimbulkan ketidakpastian, meski ekspektasi pemulihan mulai meningkat. Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2025 ke 3,2 persen dari sebelumnya 3,0 persen, ditopang kondisi keuangan yang lebih longgar dan penurunan inflasi global.
Di dalam negeri, momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menguat dan diprakirakan mencapai target pemerintah sebesar 5,2 persen pada 2025. Konsumsi rumah tangga dan investasi menunjukkan tren positif, dengan penjualan ritel tumbuh 5,8 persen (year on year) pada September 2025. Aktivitas manufaktur kembali ekspansif dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) di level 50,4 pada akhir triwulan III, naik dari posisi kontraksi pada Juni 2025.
Surplus neraca perdagangan juga meningkat signifikan menjadi 14 miliar dolar AS atau tumbuh 112 persen secara tahunan. Kondisi ini mencerminkan daya saing produk ekspor yang tetap kuat di tengah moderasi permintaan global.
Likuiditas perekonomian terus terjaga dengan pertumbuhan uang beredar (M2) sebesar 8 persen yoy pada September 2025, meningkat dari 6,5 persen pada triwulan sebelumnya. Kebijakan moneter longgar dan pengelolaan kas pemerintah sebesar Rp200 triliun turut memperkuat sisi likuiditas.
KSSK menilai koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan yang solid menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah melalui APBN terus memberikan stimulus untuk menjaga daya beli dan aktivitas produksi, sementara BI dan OJK memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial agar sejalan dengan arah pertumbuhan berkelanjutan.
Dengan sinergi lintas lembaga yang kian solid, optimisme terhadap perekonomian Indonesia di triwulan IV 2025 semakin menguat. KSSK memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai di atas 5,5 persen secara tahunan dengan dukungan kebijakan terkoordinasi dan kondisi keuangan yang stabil.














