Kanal24, Malang – Libur akhir tahun semakin dekat dan banyak keluarga mulai menyiapkan agenda bepergian ke berbagai destinasi, baik dalam maupun luar negeri. Namun, melakukan perjalanan bersama anak dan remaja membutuhkan persiapan khusus agar liburan tetap aman, nyaman, dan bebas panik. Para pakar perjalanan menegaskan bahwa persiapan mental dan komunikasi sejak dini sangat penting dilakukan demi menghindari situasi darurat yang kerap muncul tanpa diduga. Pakar perjalanan merekomendasikan agar obrolan tentang rencana liburan dimulai setidaknya satu minggu sebelum keberangkatan. Pada masa ini, orangtua dapat meninjau itinerary bersama anak, menjelaskan tujuan perjalanan, berapa lama akan tinggal, hingga moda transportasi yang digunakan. Percakapan perlu dilakukan berulang agar anak memahami seluruh detail, terutama bagi mereka yang masih kecil.
Mengutip CNA, Selasa, 18 November 2025, terapis berlisensi dan penulis Raising Securely Attached Kids, Eli Harwood, menjelaskan bahwa anak usia di bawah enam tahun lebih mudah memahami informasi melalui gambar, lagu, atau visual sederhana. “Pengulangan sangat penting pada usia ini,” katanya. Harwood juga menyarankan orangtua menjelaskan hal mendasar seperti cara mencari petugas polisi dan mengenali seragam mereka di negara tujuan. Pendapat serupa disampaikan kreator Sharing the Wander, Cynthia Matthews von Berg. Ia mengatakan bahwa cara tercepat bagi anak kecil menemukan sosok tepercaya di tempat asing adalah dengan mencari “ibu-ibu yang membawa anak”, karena biasanya mereka responsif dalam situasi darurat. Untuk anak usia 6—9 tahun, penjelasan bisa lebih lugas dan disertai alasan. “Saat mereka semakin besar dan mulai merasa penjelasan itu membosankan, ajak mereka terlibat dalam pemecahan masalah,” tambah Harwood.
Wajib Ponsel Aktif dan Berlabel
Ketika bepergian ke luar negeri, para ahli menekankan pentingnya memastikan seluruh anggota keluarga memiliki ponsel dengan paket data internasional. Akses internet memudahkan pemantauan lokasi dan komunikasi dalam keadaan darurat. Selain itu, pakaian, jaket, atau ransel anak sebaiknya diberi label berisi nama, nomor telepon orangtua, serta informasi medis penting. Orangtua juga perlu mengingatkan anak tentang aturan dasar: tak berbicara dengan orang asing, tak berjalan sendirian setelah gelap, serta segera memberi tahu jika merasa tidak nyaman. Anak kecil juga perlu diberi izin menggunakan “suara keras” ketika kehilangan orangtua, terutama di area padat pengunjung.
Hindari Sembarangan Naik Transportasi Online
Remaja memiliki mobilitas yang lebih tinggi dan kadang bepergian sendiri. Karena itu, aturan keselamatan wajib ditegakkan. Direktur Eksekutif National Crime Prevention Council, Paul DelPonte, mengingatkan agar remaja selalu memeriksa kecocokan nomor pelat dan identitas pengemudi sebelum naik transportasi online. Di sisi lain, orang dewasa harus memastikan peran pengawasan jelas. Banyak insiden terjadi karena kedua orangtua mengira pasangannya sedang menjaga anak.
Pakaian Cerah dan Titik Pertemuan
Saat bepergian, mintalah seluruh anggota keluarga mengenakan pakaian berwarna cerah agar mudah terlihat. Orangtua dianjurkan mengambil foto anak setiap pagi sebagai referensi jika terpisah. Sistem pertemanan atau buddy system juga efektif untuk keluarga dengan beberapa anak. Tentukan titik pertemuan yang mudah diingat, jauh dari pintu keluar, dan ditunjukkan berulang kali agar melekat di ingatan anak. Bila kehilangan anak di area publik, Matthews von Berg menyarankan orangtua bersuara keras dan langsung meminta bantuan orang sekitar.
Siapkan Strategi di Transportasi Umum
Transportasi umum menjadi tantangan tersendiri. Dua orang dewasa dianjurkan berdiri di depan dan belakang anak-anak untuk menciptakan “lapisan pelindung”. Bila hanya satu orang dewasa, anak harus naik terlebih dahulu untuk meminimalkan risiko tertinggal saat pintu menutup. Jika anak salah turun atau tertinggal, para ahli sepakat: mereka harus tetap di titik tersebut sampai dijemput. Bila anak tertinggal di dalam kereta atau bus, instruksinya adalah turun di pemberhentian berikutnya dan tidak bergerak, kecuali meminta bantuan petugas resmi bila menunggu terlalu lama. Dengan persiapan matang, komunikasi jelas, dan aturan keselamatan yang konsisten, liburan keluarga akhir tahun dapat menjadi pengalaman menyenangkan tanpa drama maupun panik. (ptr)














