Kanal24, Malang – Momentum Hari Raya Idulfitri membawa kebahagiaan bagi masyarakat Indonesia. Tradisi berkumpul bersama keluarga, menyajikan aneka hidangan khas, hingga saling berkunjung menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran. Namun di balik kemeriahan tersebut, muncul persoalan serius yang kerap luput dari perhatian, yakni meningkatnya limbah makanan atau food waste.
Fenomena ini bukan hal baru. Berbagai kajian terkait pengelolaan pangan menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat pemborosan makanan yang cukup tinggi. Dalam publikasi riset tentang food waste, disebutkan bahwa sebagian besar limbah makanan berasal dari sektor rumah tangga, terutama akibat kebiasaan memasak dan menyajikan makanan dalam jumlah berlebih tanpa perencanaan yang matang.
Saat Lebaran, kondisi ini cenderung semakin meningkat. Hidangan seperti opor ayam, rendang, sambal goreng, hingga kue kering seringkali disajikan dalam porsi besar sebagai simbol kelimpahan dan penghormatan kepada tamu. Namun tidak semua makanan tersebut habis dikonsumsi. Sisa makanan yang tidak dikelola dengan baik akhirnya terbuang, bahkan dalam kondisi masih layak makan.
Baca juga:
Mengapa Bersedekah Membuat Hati Lebih Tenang dan Bahagia
Pakar pangan menilai bahwa budaya konsumsi berlebih saat hari raya menjadi salah satu faktor utama meningkatnya food waste. Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan makanan juga turut memperparah situasi. Banyak keluarga yang belum terbiasa menyimpan makanan secara tepat atau memanfaatkan kembali sisa hidangan.
Dampak dari food waste tidak hanya sebatas pemborosan bahan pangan. Setiap makanan yang terbuang juga berarti hilangnya sumber daya yang digunakan dalam proses produksinya, seperti air, energi, hingga tenaga kerja. Bahkan, limbah makanan yang menumpuk dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Dalam konteks ini, isu food waste saat Lebaran juga menjadi perhatian dalam skala nasional. Beberapa laporan sebelumnya menyebutkan bahwa persoalan serupa turut menjadi tantangan dalam berbagai program distribusi makanan, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan gizi masyarakat, program tersebut juga menghadapi kendala berupa makanan yang tidak habis dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan food waste bukan hanya terjadi di tingkat rumah tangga, tetapi juga berkaitan dengan sistem pengelolaan pangan secara luas. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, mulai dari edukasi masyarakat hingga perbaikan sistem distribusi makanan.
Sejumlah langkah sederhana sebenarnya dapat dilakukan untuk mengurangi limbah makanan selama Lebaran. Di antaranya adalah memasak sesuai kebutuhan, menyajikan makanan secara bertahap, serta menyimpan sisa makanan dengan benar agar dapat dikonsumsi kembali. Selain itu, masyarakat juga dapat berbagi makanan berlebih kepada tetangga atau pihak yang membutuhkan.
Edukasi mengenai pentingnya mengurangi food waste juga dinilai perlu terus digencarkan, terutama di tengah meningkatnya kesadaran terhadap isu keberlanjutan lingkungan. Momentum Lebaran dapat menjadi titik awal untuk membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bijak dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, perayaan Idulfitri tidak hanya menjadi ajang kebersamaan dan silaturahmi, tetapi juga momentum refleksi dalam mengelola sumber daya secara lebih efisien. Upaya kecil dari setiap individu diyakini dapat memberikan dampak besar dalam menekan angka limbah














