Kanal24, Malang – Kelompok 03 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) 2025 menjalankan program unggulan di Desa Turirejo, Lawang, Kabupaten Malang melalui revitalisasi greenhouse serta penerapan teknologi biopori dan biowash berbasis limbah organik. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan rumah tangga, tetapi juga mengedepankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Revitalisasi Greenhouse untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Salah satu fokus utama kegiatan adalah revitalisasi greenhouse desa. Melalui kerja bakti bersama, mahasiswa MMD bersama perangkat desa melakukan perawatan fasilitas yang sudah ada serta menanam lebih banyak tanaman pangan. Dengan langkah ini, diharapkan greenhouse mampu menjadi pusat produksi pangan rumah tangga yang mandiri dan berkelanjutan.
Baca juga:
FH UB Kini Penyelenggara Resmi Pelatihan Mediator Bersertifikat MA

Meskipun antusiasme perangkat desa terbilang tinggi, kegiatan ini belum sepenuhnya mendapat partisipasi aktif dari masyarakat. Hal ini diduga karena adanya miskomunikasi mengenai peran mahasiswa MMD sebagai pihak luar. “Diharapkan desa mampu melanjutkan perawatan greenhouse dan menanami tanaman lebih banyak,” ungkap Yoan, salah satu anggota MMD (10/08).
Edukasi Biopori dan Biowash Berbasis Limbah Organik
Selain greenhouse, kelompok MMD juga memperkenalkan teknologi sederhana namun bermanfaat, yaitu lubang biopori dan biowash. Biopori berfungsi mengurangi genangan air sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos yang bisa digunakan kembali untuk tanaman. Sedangkan biowash, yang diperkenalkan kepada ibu-ibu PKK, merupakan alternatif deterjen ramah lingkungan berbasis limbah organik yang dapat dibuat secara mandiri di rumah.
Dalam praktik pembuatan biopori, antusiasme ibu-ibu PKK terlihat jelas. Mereka aktif bertanya, mencoba langsung membuat lubang biopori, hingga menyiapkan bahan organik yang akan dimasukkan. “Saya berharap warga dapat terus memanfaatkan biopori yang sudah dibuat serta memproduksi biowash di rumah masing-masing,” ujar Dila, anggota MMD (10/08).
Tantangan dan Kendala di Lapangan
Kegiatan ini tidak terlepas dari sejumlah kendala. Salah satunya adalah jumlah peserta yang tidak sesuai target akibat adanya kegiatan lain di desa pada hari yang sama. Selain itu, sebagian warga masih belum familiar dengan manfaat biopori dan biowash, sehingga perlu penjelasan lebih rinci agar mereka yakin untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, program ini tetap mendapat apresiasi positif dari perangkat desa. “Memberikan ilmu dan wawasan baru bagi ibu-ibu PKK agar dapat lebih mandiri dalam mengelola sampah organik sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga,” tutur Ibu Anis, salah satu perangkat desa Turirejo (10/08).
Baca juga:
Edukasi Biopori, Mahasiswa UB Dorong Ketahanan Air Desa Kraton
Harapan Keberlanjutan Program
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Kelompok 03 MMD UB 2025 berharap masyarakat Desa Turirejo tidak hanya mendapatkan manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu melanjutkan secara mandiri praktik ramah lingkungan ini. Revitalisasi greenhouse diharapkan menjadi pusat produksi pangan lokal, sementara pemanfaatan biopori dan biowash dapat menumbuhkan kebiasaan baru dalam mengelola sampah organik.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa dapat berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat desa, menggabungkan aspek ketahanan pangan dengan kepedulian lingkungan. Dengan dukungan berkelanjutan dari warga dan perangkat desa, Desa Turirejo diharapkan mampu menciptakan pola hidup yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan. (nid)