Kanal24, Malang – Memasuki dunia kerja menjadi fase transisi yang penuh tantangan, terutama bagi para profesional muda yang baru pertama kali beradaptasi dengan budaya dan ritme kerja. Harapan untuk tampil sempurna kerap berbenturan dengan realitas lapangan, di mana teguran dan kritik sering kali muncul sejak hari-hari awal bekerja. Situasi ini tidak jarang memicu rasa minder, cemas, bahkan mempertanyakan kemampuan diri sendiri.
Pada dasarnya, kritik di awal masa kerja merupakan hal yang wajar. Teguran bukan selalu pertanda kegagalan, melainkan bagian dari proses pembelajaran dan pembentukan profesionalisme. Lingkungan kerja menuntut standar tertentu yang hanya bisa dipahami secara utuh melalui pengalaman langsung, termasuk melalui koreksi dari atasan maupun rekan kerja.
Baca juga:
Motuba Murah Masih Jadi Andalan Gen Z untuk Mobilitas
Kritik Bukan Serangan Pribadi
Salah satu kesalahan umum pekerja baru adalah memaknai kritik sebagai penilaian terhadap kepribadian. Padahal, dalam konteks profesional, kritik hampir selalu ditujukan pada hasil kerja, proses, atau cara penyampaian tugas. Ketika kritik disalahartikan sebagai serangan personal, kepercayaan diri bisa menurun dan memengaruhi kinerja secara keseluruhan.
Memisahkan antara identitas diri dan hasil pekerjaan menjadi langkah awal yang penting. Kesalahan dalam tugas bukan berarti seseorang tidak kompeten, melainkan masih berada dalam tahap belajar dan penyesuaian.
Sikap Tenang Menunjukkan Profesionalisme
Respons terhadap kritik sering kali lebih diperhatikan daripada kesalahan itu sendiri. Bersikap tenang, mendengarkan dengan saksama, dan tidak terburu-buru membela diri menunjukkan kedewasaan emosional. Atasan cenderung lebih menghargai pekerja yang mampu menerima masukan secara terbuka dan menjadikannya bahan evaluasi.
Jika kritik terasa kurang jelas, meminta penjelasan tambahan atau contoh konkret dapat membantu memahami ekspektasi kerja dengan lebih baik. Langkah ini juga mencerminkan kemauan untuk berkembang dan memperbaiki diri.
Mengakui Kesalahan dan Bergerak Maju
Mengakui kesalahan secara singkat dan proporsional sering kali menjadi pilihan terbaik. Alasan yang terlalu panjang justru dapat memberi kesan defensif. Setelah itu, fokus utama seharusnya tertuju pada langkah perbaikan yang bisa dilakukan ke depan.
Ucapan terima kasih atas masukan yang diberikan, meski terdengar sederhana, mampu menciptakan kesan positif. Sikap ini menandakan bahwa kritik dipandang sebagai peluang belajar, bukan ancaman.
Mengelola Emosi Setelah Ditegur
Tidak dapat dimungkiri, kritik tetap bisa meninggalkan dampak emosional. Merasa kecewa atau tidak percaya diri adalah reaksi yang manusiawi. Namun, penting untuk tidak membiarkan emosi tersebut berlarut-larut. Meluangkan waktu untuk refleksi, berbicara dengan orang tepercaya, atau mencatat hal-hal yang perlu diperbaiki dapat membantu mengelola perasaan secara sehat.
Alih-alih menghindari kritik, menjadikannya sebagai bahan pembelajaran justru akan mempercepat proses adaptasi di tempat kerja.
Membangun Kepercayaan Diri Secara Bertahap
Kepercayaan diri di dunia kerja tidak terbentuk dalam semalam. Ia tumbuh seiring pengalaman, kesalahan, dan perbaikan yang dilakukan secara konsisten. Menjalin hubungan baik dengan rekan kerja, fokus pada perkembangan diri sendiri, serta menghindari perbandingan berlebihan dengan orang lain dapat membantu menjaga stabilitas mental.
Pada akhirnya, kritik di awal karier adalah bagian dari perjalanan profesional. Bukan tentang seberapa sering seseorang ditegur, melainkan bagaimana ia merespons, belajar, dan bangkit dari setiap masukan yang diterima. Dari sanalah kepercayaan diri yang sesungguhnya terbentuk. (nid)














