Kanal24, Malang – Masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 hampir berakhir, namun Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap keselamatan transportasi, khususnya moda kereta api, tetap harus menjadi prioritas utama. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak lengah, terutama menjelang masuknya periode Ramadan yang diprediksi kembali diikuti peningkatan mobilitas masyarakat.
Dalam keterangannya, Menhub menekankan bahwa transisi dari masa libur panjang Nataru ke persiapan angkutan Ramadan dan Lebaran menyisakan waktu yang relatif singkat. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap operasional transportasi kereta api perlu segera dilakukan, baik dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, maupun sistem pengawasan keselamatan.
Baca juga:
Strategi Realistis Wujudkan Resolusi Keuangan 2026
Selama pelaksanaan angkutan Nataru, kereta api masih menjadi salah satu moda transportasi favorit masyarakat. Lonjakan jumlah penumpang tercatat di berbagai daerah operasi, mencerminkan tingginya kepercayaan publik terhadap layanan kereta api. Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi operator untuk memastikan layanan tetap aman, nyaman, dan tepat waktu di tengah tingginya intensitas perjalanan.
Menhub juga menyoroti faktor cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. Curah hujan tinggi, angin kencang, serta risiko longsor di beberapa titik lintasan rel dinilai dapat mengganggu operasional kereta api apabila tidak diantisipasi dengan baik. Untuk itu, langkah mitigasi seperti pemeriksaan rutin jalur rel, pemantauan daerah rawan, serta kesiapsiagaan petugas lapangan harus terus ditingkatkan.
Selain aspek teknis, pengawasan terhadap keselamatan penumpang di area stasiun turut menjadi perhatian. Kepadatan penumpang pada jam-jam tertentu berpotensi menimbulkan risiko, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Menhub meminta agar petugas pelayanan dan keamanan meningkatkan pengawasan serta memberikan bantuan yang dibutuhkan demi mencegah terjadinya insiden yang tidak diinginkan.
Koordinasi lintas sektor juga dinilai krusial dalam menjaga kelancaran transportasi. Kementerian Perhubungan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta instansi terkait lainnya untuk memastikan respons cepat terhadap potensi gangguan operasional. Pola koordinasi yang telah diterapkan selama masa Nataru diharapkan dapat menjadi dasar perbaikan menuju pengelolaan angkutan Ramadan dan Lebaran.
Menjelang Ramadan, fokus pemerintah tidak hanya pada peningkatan kapasitas layanan, tetapi juga pada penguatan standar keselamatan. Evaluasi dari pelaksanaan angkutan Nataru akan menjadi bahan penting dalam menyusun kebijakan dan strategi ke depan. Menhub menegaskan bahwa keselamatan tidak boleh dikompromikan, sekalipun tekanan permintaan perjalanan terus meningkat.
Dengan langkah antisipatif dan evaluasi berkelanjutan, pemerintah berharap layanan kereta api nasional mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Keberhasilan pengelolaan transportasi pada masa transisi ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat dalam menghadapi lonjakan mobilitas pada Ramadan dan Lebaran mendatang. (nid)















Comments 1