Kanal24, Kediri – Upaya menjaga kualitas pendidikan tinggi terus diperkuat oleh Program Studi S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) PSDKU Kediri melalui asesmen lapang akreditasi yang digelar pada (31/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung 3 PSDKU UB Kediri ini menghadirkan dua asesor, yakni Prof. Dr. Ir. Tuti Karyani dari Universitas Padjadjaran dan Prof. Dr. Ir. Dwi Putra Darmawan dari Universitas Udayana. Kehadiran jajaran pimpinan fakultas hingga program studi menjadi penanda komitmen institusi dalam memastikan tata kelola dan mutu pendidikan berjalan sesuai standar.
Asesmen lapang ini tidak hanya menjadi proses evaluasi administratif, tetapi juga ruang dialog strategis tentang arah pengembangan pendidikan agribisnis di tengah perubahan global.
Arah Pengembangan: Dari Lokal Menuju Global Player
Dalam sesi bersama pimpinan unit pengelola program studi, asesor menyoroti strategi pengembangan jangka panjang serta capaian tridarma perguruan tinggi.
Prof. Mangku Purnomo menegaskan bahwa FP UB telah menyiapkan arah pengembangan yang jelas.
“FP UB telah menyusun roadmap pengembangan hingga tahun 2030 untuk menjadi global player di bidang pertanian,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah tersebut didukung dengan penguatan sumber daya manusia, kultur akademik, serta peningkatan fasilitas laboratorium dan riset.
Selain itu, perluasan kolaborasi internasional juga terus dilakukan.
“FP UB terus meningkatkan kontribusi publikasi ilmiah melalui jurnal bereputasi internasional, serta memperluas kolaborasi riset hingga ke tingkat global, mencakup Asia, Eropa, Amerika, dan Australia,” jelasnya.
Dari sisi capaian, peningkatan kualifikasi dosen dan prestasi mahasiswa menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.

Adaptasi AI: Inovasi dengan Prinsip Integritas Akademik
Perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu fokus penting dalam asesmen ini. Dr. Rosihan Asmara menjelaskan bahwa pemanfaatan AI telah memiliki landasan yang jelas di Universitas Brawijaya.
“Penggunaan AI diperbolehkan dalam pembelajaran, penelitian, maupun penulisan, namun harus disertai prinsip kejujuran akademik dan acknowledgment yang jelas,” tegasnya.
Implementasi teknologi ini juga telah terintegrasi dalam sistem pembelajaran melalui LMS BRONE. Dr. Afifudin Latif menambahkan bahwa dukungan teknologi terus diperkuat.
“Integrasi AI juga telah diterapkan dalam sistem pembelajaran melalui LMS BRONE, serta didukung dengan penggunaan perangkat lunak pendeteksi plagiasi dan AI reader yang lebih akurat,” ujarnya.
Dalam pengembangan kurikulum, FP UB juga melakukan benchmarking dengan institusi internasional seperti Wageningen University, serta universitas di Perancis dan Jepang.
Sistem Mutu: Dari Evaluasi ke Peningkatan Berkelanjutan
Aspek penjaminan mutu juga menjadi perhatian utama dalam asesmen. Prof. Widya Dwi Rukmi Putri menjelaskan bahwa sistem mutu di Universitas Brawijaya berjalan secara terstruktur.
“Pelaksanaan audit mutu internal dilakukan secara berkala dan terintegrasi melalui sistem SIQA, yang memungkinkan pelaporan dan monitoring secara sistematis,” jelasnya.
Sementara itu, Dr. Riyanti Isaskar menekankan pentingnya tindak lanjut dari hasil evaluasi.
“Setiap program studi menjalani siklus audit tahunan yang dilanjutkan dengan Program Tindak Koreksi (PTK) sebagai early warning system,” ujarnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penjaminan mutu tidak berhenti pada evaluasi, tetapi berlanjut pada proses peningkatan kualitas secara berkelanjutan.
Asesmen Menyeluruh: Dari Data hingga Perspektif Stakeholder
Rangkaian asesmen lapang juga mencakup berbagai sesi komprehensif, mulai dari verifikasi data kinerja program studi, diskusi dengan dosen dan tenaga kependidikan, hingga dialog dengan mahasiswa, alumni, dan stakeholder.
Proses ini memberikan gambaran utuh tentang kinerja program studi, baik dari sisi akademik, layanan, maupun relevansi dengan kebutuhan dunia kerja.
Melalui asesmen ini, Program Studi S1 Agribisnis FP UB PSDKU Kediri menunjukkan arah yang jelas: memperkuat tata kelola, menjaga mutu, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Di tengah perubahan yang cepat, tantangan pendidikan tinggi tidak lagi sebatas memenuhi standar, tetapi juga memastikan relevansi. Dan di titik inilah, asesmen lapang menjadi lebih dari sekadar proses penilaian—ia menjadi refleksi sekaligus pijakan menuju langkah berikutnya.(Din)














