Kanal24, Malang – Imlek atau Tahun Baru Imlek merupakan perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa yang dirayakan berdasarkan kalender lunar. Perayaan ini menandai pergantian tahun sekaligus menjadi momen refleksi atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Imlek tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial, tetapi juga sarat dengan nilai budaya, spiritual, dan sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ribuan tahun. Dalam kepercayaan Tionghoa, Imlek menjadi waktu yang tepat untuk memulai lembaran baru dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, perayaan ini kerap dikaitkan dengan doa, harapan, dan tekad untuk memperbaiki diri di tahun yang baru.
Penentuan Waktu dan Shio Tahunan

Imlek dirayakan pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya karena mengikuti perhitungan kalender lunar, umumnya jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Setiap tahun Imlek juga dikaitkan dengan shio tertentu dari siklus dua belas shio yang dipercaya memiliki karakter dan pengaruh tersendiri. Kepercayaan terhadap shio membuat Imlek sering dimaknai sebagai penanda keberuntungan, tantangan, dan peluang yang mungkin dihadapi seseorang sepanjang tahun. Meski bersifat kepercayaan, shio tetap menjadi bagian penting dalam budaya Tionghoa dan sering dijadikan refleksi untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
Tradisi Menyambut Tahun Baru

Menjelang Imlek, masyarakat Tionghoa biasanya melakukan pembersihan rumah secara menyeluruh. Tradisi ini melambangkan upaya menghilangkan kesialan dan energi negatif dari tahun sebelumnya. Rumah yang bersih dipercaya dapat membuka jalan bagi datangnya keberuntungan dan kebahagiaan di tahun yang baru. Selain itu, dekorasi bernuansa merah dan emas mulai dipasang di rumah maupun tempat umum. Warna merah melambangkan keberuntungan dan perlindungan dari energi buruk, sementara emas identik dengan kemakmuran dan kesejahteraan. Lentera, hiasan kaligrafi, dan ornamen khas Imlek menjadi pemandangan yang umum menjelang perayaan.
Kebersamaan dalam Reuni Keluarga

Salah satu inti dari perayaan Imlek adalah kebersamaan keluarga. Pada malam pergantian tahun, keluarga biasanya berkumpul untuk makan malam bersama dalam jamuan reuni. Momen ini menjadi simbol keharmonisan, rasa syukur, dan penghormatan kepada orang tua serta leluhur. Hidangan yang disajikan dalam jamuan Imlek memiliki makna simbolis, seperti ikan yang melambangkan kelimpahan, mi panjang umur sebagai simbol kesehatan, serta kue keranjang yang melambangkan kehangatan dan keharmonisan hubungan keluarga.
Makna Angpao dan Simbol Berbagi

Tradisi pembagian angpao menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Imlek. Angpao biasanya diberikan oleh orang dewasa kepada anak-anak atau anggota keluarga yang lebih muda. Pemberian ini bukan sekadar uang, tetapi simbol doa dan harapan akan keberuntungan, kesehatan, serta kebahagiaan. Melalui angpao, nilai berbagi dan kepedulian antaranggota keluarga diajarkan sejak dini. Tradisi ini juga memperkuat ikatan emosional dalam keluarga dan menanamkan nilai kebersamaan.
Imlek dalam Konteks Indonesia
Di Indonesia, Imlek memiliki makna yang semakin luas sejak ditetapkan sebagai hari libur nasional. Perayaan ini tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari keberagaman budaya bangsa. Berbagai kegiatan seperti pertunjukan barongsai, festival kuliner, hingga kegiatan sosial kerap digelar untuk memeriahkan suasana. Imlek juga mencerminkan nilai toleransi dan saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai kebersamaan, saling berbagi, dan penghormatan terhadap keluarga menjadikan Imlek relevan dengan kehidupan sosial di Indonesia yang majemuk.
Nilai Imlek bagi Kehidupan
Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Imlek menjadi momentum untuk mempererat hubungan keluarga, melakukan refleksi diri, serta menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Nilai-nilai tersebut membuat Imlek terus dirayakan dari generasi ke generasi sebagai warisan budaya yang hidup dan bermakna. (qrn)













