Kanal24, Malang – Valentine kerap identik dengan perayaan romantis dan simbol kasih sayang yang serba personal. Namun bagi MFM Radio Malang, bulan Februari justru menjadi momentum untuk menghadirkan makna kasih sayang yang lebih luas—merangkul, bermain, dan berbagi ruang bersama teman-teman difabel dalam suasana yang setara dan hangat.
Melalui kegiatan bertajuk “Disaat Kita Bersama”, MFM Radio berkolaborasi dengan Yayasan Pejuang Mimpi menghadirkan ruang interaksi inklusif yang mempertemukan penyiar radio, komunitas difabel, serta masyarakat dalam satu pengalaman kebersamaan. Kegiatan yang digelar di Malang pada (16/2/2026) ini menjadi upaya menghadirkan media yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki dampak sosial nyata. PRESS_RELEASE_Disaat_Kita_Bersa…
Bagi MFM, gagasan kegiatan ini berangkat dari refleksi sederhana tentang makna kasih sayang di bulan Valentine.
Yossi Beta Vinasari, S.Sos., M.Ikom., Station Manager MFM Radio menjelaskan bahwa timnya ingin menghadirkan bentuk kepedulian yang lebih nyata, terutama sebagai radio yang dekat dengan anak muda.
“Februari adalah bulan Valentine. Kami berpikir, kasih sayang seperti apa yang ingin kami wujudkan sebagai radio anak muda. Akhirnya kami berdiskusi dan ingin merayakannya bersama teman-teman istimewa, atau teman-teman disabilitas, bekerja sama dengan Yayasan Pejuang Mimpi,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti sekitar 10 peserta difabel dengan beragam latar belakang, mulai dari anak dengan Down Syndrome hingga tuna bicara. Meski jumlahnya tidak banyak, pengalaman yang tercipta justru menghadirkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.
Menurut Yossi, pertemuan tersebut membuka perspektif baru bagi tim radio.

“Setelah bermain bersama, kami melihat mereka memiliki kelebihan luar biasa. Ada yang bisa menyanyi, melukis, bahkan membuat warna-warna alam. Mereka punya potensi masing-masing yang luar biasa, karena itu kami menyebut mereka teman-teman istimewa,” katanya.
Alih-alih menghadirkan acara formal, kegiatan dirancang dalam konsep bermain bersama. Para peserta diajak mengenal dunia radio secara langsung dengan mengunjungi studio siaran, mencoba rekaman suara, hingga menyapa pendengar melalui tagline khas MFM.
Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih santai ketika peserta dan penyiar membentuk tim kecil untuk menghias cupcake—simbol manis yang identik dengan perayaan kasih sayang. Setiap peserta didampingi satu penyiar, menciptakan interaksi personal yang cair tanpa sekat.
Kegiatan dilanjutkan dengan fashion show sederhana dan sesi berbincang bebas yang justru menjadi momen paling hangat. Dalam salah satu sesi, seorang peserta bahkan menggambar sketsa penyiar yang ditemuinya hari itu.
“Yang paling kami highlight adalah kebersamaan. Hari ini benar-benar tentang kasih sayang dan engagement, bermain dan ngobrol bersama,” tambah Yossi.
Sebagai media penyiaran, MFM mengaku memiliki tanggung jawab sosial untuk terus menghadirkan isu-isu kemanusiaan kepada pendengar. Selama ini, tema disabilitas juga rutin diangkat melalui iklan layanan masyarakat maupun konten on-air edukatif.
“Radio punya tanggung jawab kepada masyarakat. Kami ingin pendengar juga lebih update dan peduli, memahami bagaimana berinteraksi dengan teman-teman disabilitas,” jelasnya.
Kegiatan ini juga meninggalkan kesan mendalam bagi para orang tua peserta. Sri Rahayu, Founder Yayasan Pejuang Mimpi sekaligus orang tua Faiz Sofyan Nur Rahman, anak dengan Down Syndrome yang tengah merintis karier modeling, mengaku kegiatan seperti ini memberi ruang penting bagi tumbuhnya rasa percaya diri anak
“Saya sangat mengapresiasi inisiasi dari MFM. Anak-anak bisa bermain, berbagi cerita, dan menampilkan bakat mereka. Ini membuat mereka merasa diterima sebagai anak pada umumnya,” ujarnya.
Menurutnya, ruang inklusif seperti ini sangat dibutuhkan agar anak-anak dengan kebutuhan khusus tidak merasa tersisih di tengah masyarakat yang beragam.
“Mereka mungkin berbeda, tetapi mereka tidak ingin dibedakan. Kegiatan seperti ini membantu mereka lebih percaya diri dan berani menunjukkan talenta,” tambahnya.
Ke depan, MFM Radio berencana menghadirkan langkah konkret dengan menghadirkan tema disabilitas secara rutin dalam program siaran serta membuka peluang kolaborasi dengan komunitas difabel di Kota Malang.
Bagi MFM, kegiatan ini bukan sekadar agenda Valentine, melainkan awal dari perjalanan panjang membangun ruang inklusif melalui media.
Di tengah dunia yang sering bergerak cepat dan penuh distraksi, “Disaat Kita Bersama” menjadi pengingat sederhana: kasih sayang kadang hadir bukan dalam kata-kata besar, melainkan dalam waktu yang diluangkan untuk duduk, bermain, dan saling memahami—tanpa label, tanpa jarak.(Qrn/Din)














