Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh
“Allah menjadikan puasa di bulan ini sebagai ibadah fardhu, ibadah pada malam harinya sebagai ibadah sunnah. Siapa saja yang dalam bulan itu berbuat kebajikan (sunnah) satu kali, maka ia bagaikan yang berbuat ibadah fardhu satu kali pada bulan yang lain…” (HR. Ibnu Khuzaimah).
Dalam hadits tersebut di atas, Allah swt. ingin memotivasi hamba-Nya agar bersemangat untuk benar-benar mengambil peluang terbesar ini (nafahat) dan agar dapat dipergunakannya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan berbagai amal kebajikan selama bulan Ramadhan.
Pada bulan Ramadhan, Allah swt. melakukan multiplication factor (melipatgandakan pahala) atau exponential growth. Ibarat angka, ia tidak bertambah secara linier melainkan secara eksponensial. Satu amal kecil memicu skala hasil yang melonjak drastis. Amal kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan tidak hanya menghasilkan dampak secara linier, satu banding satu, melainkan menciptakan reaksi berantai dan akumulasi nilai yang tak terhingga, pahala yang berlipat ganda.
Inilah bulan peningkatan dan penguatan spiritualitas batin. Jika di bulan-bulan sebelumnya seorang mukmin disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi yang menyita banyak waktu dan pikirannya sehingga tentunya akan meninggalkan banyak residu, penyakit psikologis yang diakibatkan dari berbagai persoalan hidup yang dilaluinya, baik di dunia pekerjaan, keluarga, bermasyarakat, dan sebagainya, maka bulan Ramadhan Allah swt. ingin mengistirahatkan semuanya, baik fisik, psikologis, batin, maupun hati dengan menenangkan diri dan mengaktifkan power spiritualitasnya. Ibarat mesin, tentu membutuhkan sesi maintenance dan pendinginan mesin diri dan kehidupan agar kendaraan tetap terawat sehingga selanjutnya dapat bekerja dengan optimal.
Di bulan Ramadhan kita diminta untuk belajar menahan makan dan minum. Ini adalah mekanisme autofagi, artinya “memakan diri sendiri”, suatu proses pembersihan sel. Di saat lapar, tubuh mencari energi cadangan. Sel-sel yang sehat akan memakan komponen sel yang rusak, protein beracun, dan sisa-sisa metabolisme yang menumpuk. Hasilnya, sel-sel tubuh menjadi lebih muda, bersih, dan optimal kembali karena tubuh melakukan detoksifikasi internal. Ini adalah mekanisme diet alami yang memang dibutuhkan oleh tubuh. Puasa itu menyehatkan. Asshiyamu tashihhu.
Puasa juga mengajarkan kita untuk saling peduli (syahrul muwasah), saling berbagi, kemudian berkumpul kembali dengan keluarga dalam jamuan buka bersama serta berkumpul kembali dalam komunitas (bukber) dan masyarakat dalam aktivitas shalat tarawih berjamaah. Ini adalah mekanisme detoksifikasi sosial. Ibarat proses katarsis dalam konteks hubungan sosial, puasa Ramadhan seakan melakukan proses peluruhan atau pembersihan berbagai residu konflik dan limbah psikologis yang terjadi dalam proses interaksi sosial selama ini. Pada bulan Ramadhan semuanya dirajut ulang agar kembali utuh sehingga menghasilkan energi yang saling menguatkan sebagai modal harmonisasi sosial.
Puasa adalah mekanisme detoksifikasi mental. Jiwa dan psikologis manusia perlu diistirahatkan sekaligus dipulihkan. Itulah yang dilakukan oleh seorang mukmin yang sedang menjalankan puasa Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah momen mengistirahatkan jiwa kita sehingga apabila ada luka dan memar psikologis dari persoalan hidup akibat berbagai kesibukan di bulan-bulan sebelumnya dalam setahun yang telah berlalu, maka nantinya siap untuk menghadapi berbagai ujian dan beban berat yang akan menghadang di bulan berikutnya dalam setahun ke depan.
Untuk itulah Allah swt. berfirman dalam sebuah hadits qudsi saat memerintahkan kepada surga untuk bersiap menerima kehadiran para hamba Allah swt. saat akan memasuki bulan Ramadhan:
فإنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ يَأمُرُ جَنَّتَهُ فيَقولُ لها : اسْتَعِدِّي وتَزيَّنِي لِعبادِي، أوْشَكَ أنْ يَستَرِيحُوا من تَعبِ الدُّنيا إلى دارِي وكَرامَتِي
“Sesungguhnya Allah memberikan perintah kepada surga dengan firman-Nya, ‘Bersiap-siaplah dan berhiaslah untuk para hamba-Ku. Sebentar lagi mereka akan beristirahat dari kelelahan dunia menuju rumah-Ku dan kemuliaan-Ku.’”
Ramadhan menyediakan ruang privat bagi para hamba untuk menikmati kediriannya, melakukan introspeksi diri, evaluasi diri, dan tentunya berharap menghasilkan self control yang baik melalui upaya menahan lapar, bersabar, dan taqarrub ilallah dengan berbagai amaliah ibadah (qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya). Kesemua itu ditegaskan oleh Allah swt. melalui metode targhib dalam hadits qudsi di atas (multiplikasi pahala). Sehingga seorang mukmin apabila mampu mengoptimalkan dirinya selama bulan Ramadhan dengan berbagai amaliah ibadah tersebut, maka sejatinya dia telah melakukan general check-up sekaligus detoksifikasi menyeluruh atas dirinya dan proses interaksi sosialnya. Sehingga tentulah pasca Ramadhan dia akan mampu menjadi pribadi yang baru, new born, yang siap menghadapi tantangan dengan energi yang baru pula.
Demikianlah Nabi saw. mengatakan bahwa jika seorang mukmin selamat Jumatnya maka selamatlah dalam sepekan. Jika selamat Ramadhannya maka selamatlah dalam setahun. Dan jika selamat hajinya maka selamatlah seluruh umurnya. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik dalam sebuah hadis Nabi:
إذا سَلِمَتِ الجمعةُ سَلِمَتِ الأيامُ، وإذا سَلِمَ شهرُ رمضانَ سَلِمَتِ السَّنَةُ.
Apabila selamat Jumatnya maka selamatlah hari-harinya dalam seminggu, dan apabila selamat dalam bulan Ramadhannya maka selamatlah dalam satu tahunnya.
(HR. Daruquthni).
Selamat berarti berhasil menjaga momentum dengan baik dan mengoptimalkannya secara efektif melalui amal ibadah yang dianjurkan untuk dioptimalkan dan dieksploitasi secara maksimum sehingga berdampak pada hari-hari yang akan dilaluinya di masa yang akan datang, baik impact fisik maupun impact psikologis dan sosial, sehingga tercipta hidup yang damai, tenang, menyenangkan, dan harmonis.
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si
Penulis adalah Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya, Pengasuh Asrama Karakter Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang














