Kanal24, Malang – Kebiasaan minum kopi saat sahur menjadi sorotan pada Ramadan 2026. Banyak orang meyakini kopi dapat membantu menjaga energi dan mengurangi rasa kantuk selama menjalani puasa. Namun, dokter dan edukator kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi mengingatkan bahwa konsumsi kopi pada waktu yang tidak tepat justru dapat memicu dehidrasi dan menurunkan performa tubuh sepanjang hari.
Dalam keterangannya, dr. Tirta menegaskan bahwa kafein bukanlah sumber energi. “Kafein itu stimulan, bukan penambah energi. Efeknya hanya membuat kita merasa lebih segar sementara,” ujarnya. Menurutnya, efek kafein umumnya bertahan sekitar tiga hingga empat jam. Jika dikonsumsi saat sahur, efek tersebut bisa saja sudah hilang sebelum siang hari, sementara risiko dehidrasi tetap mengintai.
Ia menjelaskan bahwa kafein memiliki sifat diuretik ringan, yakni merangsang tubuh untuk lebih sering buang air kecil. Kondisi ini berpotensi mengurangi cadangan cairan tubuh saat seseorang harus menahan haus selama lebih dari 12 jam. “Kalau diminum saat sahur, cairan tubuh bisa lebih cepat berkurang. Ini yang membuat orang merasa lebih cepat haus dan lemas,” jelasnya.
Baca juga:
Sambut Ramadan, Ah Pek Malang Hadirkan Nasi Kebuli Claypot

Selain risiko dehidrasi, konsumsi kopi saat perut kosong juga dapat meningkatkan produksi asam lambung. Bagi individu dengan riwayat gastritis atau gastroesophageal reflux disease (GERD), kondisi ini bisa memicu rasa perih, mual, bahkan nyeri ulu hati. Sejumlah pakar gizi klinis sebelumnya juga menyarankan agar minuman berkafein tidak menjadi pilihan utama saat sahur, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan lambung.
Meski demikian, dr. Tirta tidak melarang konsumsi kopi selama Ramadan. Ia menekankan bahwa yang perlu diperhatikan adalah waktu konsumsi. “Kalau memang ingin tetap ngopi, sebaiknya dilakukan setelah berbuka puasa,” katanya.
Menurutnya, waktu yang lebih aman untuk minum kopi adalah setelah tubuh mendapatkan asupan cairan dan makanan terlebih dahulu. Idealnya, kopi dikonsumsi satu hingga dua jam setelah berbuka. Dengan demikian, kondisi lambung sudah terisi dan risiko iritasi dapat diminimalkan. Selain itu, tubuh juga telah memperoleh cairan yang cukup sehingga potensi dehidrasi berkurang.
Pilihan waktu lain yang dinilai relatif aman adalah setelah salat Isya atau Tarawih, khususnya bagi mereka yang masih memiliki aktivitas pada malam hari. Namun, ia mengingatkan agar tidak mengonsumsi kopi terlalu larut malam karena dapat mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur selama Ramadan justru dapat menurunkan daya tahan tubuh dan konsentrasi saat berpuasa.
Sejumlah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan internasional menunjukkan bahwa konsumsi kafein berlebihan dapat meningkatkan detak jantung, memicu kecemasan, serta mengganggu pola tidur. Oleh karena itu, pembatasan jumlah asupan menjadi penting. Para ahli umumnya merekomendasikan konsumsi kafein tidak lebih dari 200–400 miligram per hari atau setara dengan satu hingga dua cangkir kopi, tergantung pada sensitivitas masing-masing individu.
Selain memperhatikan waktu dan jumlah konsumsi kopi, masyarakat juga dianjurkan menjaga pola hidrasi selama Ramadan. Kementerian Kesehatan sebelumnya mengimbau agar kebutuhan cairan harian tetap terpenuhi dengan pola minum yang dibagi antara waktu berbuka hingga sahur. Air putih tetap menjadi pilihan utama dibandingkan minuman berkafein atau tinggi gula.
Di sisi lain, pakar nutrisi olahraga juga mengingatkan bahwa menjaga keseimbangan asupan karbohidrat kompleks, protein, serta serat saat sahur jauh lebih efektif untuk mempertahankan energi dibandingkan mengandalkan stimulan seperti kopi. Karbohidrat kompleks, misalnya dari nasi merah atau oatmeal, dicerna lebih lambat sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil sepanjang hari.
Ramadan pada dasarnya bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan pola hidup lebih sehat. Mengatur waktu konsumsi kopi, menjaga kecukupan cairan, serta memastikan kualitas tidur merupakan bagian dari upaya menjaga kebugaran selama menjalani puasa.
“Intinya bukan tidak boleh ngopi, tapi tahu kapan waktunya,” tegas dr. Tirta. Dengan pengaturan yang tepat, kebiasaan minum kopi tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu kualitas ibadah maupun kesehatan selama bulan suci. (nid)













