Kanal24 – Pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja yang secara angka terlihat impresif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan, jumlah investor melonjak, dan berbagai produk baru diluncurkan. Namun di balik capaian tersebut, tantangan struktural pasar modal nasional—mulai dari kedalaman pasar, ketergantungan investor ritel, hingga kualitas likuiditas—masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dijawab pada 2026.
Penutupan perdagangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2025, Selasa (30/12), dipimpin Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi. Momentum tersebut sekaligus menjadi refleksi atas ketahanan pasar modal di tengah tekanan global dan domestik sepanjang tahun.
Direktur Utama BEI Iman Rachman menilai 2025 sebagai fase pembuktian. “Tahun 2025 menjadi tahun pembuktian ketahanan dan kesiapan pasar modal Indonesia. Di tengah tekanan domestik dan global yang tinggi, pasar mampu menjaga stabilitas, bangkit kembali, dan menorehkan capaian kinerja yang solid,” ujarnya.
Dari sisi partisipasi, pasar modal Indonesia mencatat lonjakan investor yang signifikan. Jumlah investor pasar modal meningkat 36,67 persen dibandingkan 2024 menjadi 20,3 juta investor. Investor saham dan surat berharga lainnya mencapai 8,59 juta, sementara rata-rata investor aktif bertransaksi per bulan menembus 901 ribu. Investor ritel masih mendominasi dengan porsi transaksi hampir 50 persen.
Pertumbuhan ini menunjukkan keberhasilan literasi dan inklusi keuangan, namun sekaligus menandakan tantangan baru. Dominasi investor ritel membuat pasar relatif sensitif terhadap sentimen jangka pendek. Di sisi lain, meski porsi transaksi investor institusi asing mencapai lebih dari 36 persen, kedalaman pasar dinilai belum sepenuhnya merata di seluruh sektor.
Di sisi penawaran efek, BEI mencatatkan 26 IPO saham dengan total dana terhimpun Rp18,1 triliun, termasuk enam Lighthouse IPO. Total emiten saham kini mencapai 956 perusahaan. Secara global, BEI menempati peringkat ke-11 dunia dari sisi jumlah IPO. Namun, penurunan jumlah emiten baru dibanding tahun sebelumnya menunjukkan bahwa kualitas dan kesiapan perusahaan menjadi faktor seleksi yang semakin ketat.
Perdagangan sepanjang 2025 juga mencatatkan rekor. IHSG ditutup menguat 22,10 persen secara year-to-date di level 8.644,26, sementara kapitalisasi pasar sempat menyentuh Rp16 ribu triliun. Rata-rata nilai transaksi harian berada di kisaran Rp18 triliun, mencerminkan aktivitas pasar yang relatif likuid.
Dari sisi infrastruktur, peran Self-Regulatory Organization (SRO) menjadi krusial. KPEI mencatat tidak adanya kejadian gagal bayar sepanjang 2025, dengan Dana Jaminan meningkat menjadi Rp9,72 triliun. KSEI mencatat pertumbuhan Single Investor Identification (SID) sebesar 37 persen menjadi 20,32 juta, dengan dominasi investor domestik dan usia di bawah 30 tahun.
Namun, sejumlah isu struktural tetap membayangi. Pengembangan produk derivatif, perdagangan lintas batas, serta penguatan manajemen risiko masih membutuhkan pendalaman. Selain itu, tantangan efisiensi transaksi, kualitas likuiditas, dan perlindungan investor tetap menjadi agenda penting.
Memasuki 2026, BEI menargetkan penambahan dua juta investor baru dan rata-rata nilai transaksi harian Rp15 triliun. Target tersebut ambisius, namun akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan regulator, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan pasar modal untuk tidak hanya tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga matang secara struktural. (Din)














