Kanal24, Malang – Peringatan Hari Ibu menjadi momentum refleksi sekaligus apresiasi atas peran ibu yang selama ini menjadi pilar utama keluarga dan pendamping utama tumbuh kembang anak. Berangkat dari semangat tersebut, ruang khusus dihadirkan untuk para ibu agar sejenak keluar dari rutinitas dan beban keseharian, merasakan kebahagiaan, cinta, serta pengakuan atas perjuangan yang kerap tak terlihat namun begitu bermakna.
Kegiatan bertajuk Peringatan Hari Ibu: Pejuang Mimpi āPola Asa, Warna Cinta, Apresiasi Ibu Hebatā ini diselenggarakan oleh Yayasan Pejuang Mimpi Indonesia pada Jumat (19/12/2025), bertempat di Cafe Gedong Ijen. Acara tersebut menjadi ajang kolaboratif yang mempertemukan ibu, anak, komunitas, serta pelaku seni dan budaya dalam satu ruang inklusif yang hangat dan penuh makna.
Baca juga:
Mudik Gratis Kemenhub Nataru 2025/2026 Resmi Dibuka

Ruang Bahagia dan Apresiasi untuk Ibu
Ketua Yayasan Pejuang Mimpi Indonesia, Sri Rahayu, S.P, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini sangat sederhana, yakni memberikan ruang bagi para orang tuaākhususnya ibuāuntuk merasakan kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Selama ini, menurutnya, para ibu lebih sering memusatkan perhatian pada kebutuhan anak dan keluarga, hingga melupakan haknya untuk merasa dicintai dan diapresiasi.
āMelalui acara ini kami ingin para ibu merasakan apa itu bahagia dan apa itu cinta. Mereka adalah ibu-ibu luar biasa yang layak mendapatkan apresiasi, tanpa harus merasa minder dengan kondisi apa pun yang dimiliki,ā ujar Sri Rahayu. Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri para orang tua sebagai benteng dan sistem pendukung utama bagi mimpi anak-anaknya.
Kolaborasi Seni, Budaya, dan Inklusi
Rangkaian acara diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari penampilan seni anak dan orang tua, lomba fashion show ibu, lomba make up ibu dan anak, hingga kegiatan membatik sebagai inti acara. Kegiatan membatik ini merupakan agenda internal Yayasan Pejuang Mimpi Indonesia yang melibatkan sejumlah undangan, di antaranya Batik Sukun Sandhya Nusantara, Sahabat Langkah Kecil, Putri Pariwisata, serta kolaborasi dengan beberapa komunitas lainnya.
Sri Rahayu menuturkan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi, terutama karena konsep acara yang membebaskan ibu mengekspresikan diri. āMomen anak memakeup orang tuanya dan ibu berjalan di runway itu seperti melepaskan beban. Hari ini mereka bebas mengekspresikan diri,ā ungkapnya. Meski persiapan dilakukan dalam waktu singkat dengan tantangan pendanaan dan konsep, acara tetap dapat terlaksana dengan baik.
Membatik sebagai Terapi dan Warisan Budaya

Pemateri sekaligus perajin Batik Sukun Sandhya Nusantara, Nena Bachtiar, menjelaskan bahwa membatik dipilih bukan sekadar aktivitas seni, tetapi juga sarana terapi olah rasa dan olah hati. Batik Sukun yang diperkenalkan memiliki filosofi pohon sukun sebagai pohon kehidupan, di mana seluruh bagiannya bermanfaat.
āKami tetap konsisten pada batik tulis sebagai upaya melestarikan warisan budaya bangsa. Membatik itu melatih kesabaran, ketenangan hati, dan dari hasilnya kita bisa melihat karakter anak-anak,ā jelas Nena. Ia menambahkan bahwa tema Hari Ibu kali ini membawa pesan bahwa ibu adalah sosok luar biasa yang mendampingi anak dalam kondisi apa pun, sekaligus pejuang mimpi bagi generasi masa depan agar semakin mencintai dan menjaga budaya bangsa.
Suara Ibu dan Makna Perjuangan
Salah satu orang tua peserta, Wahyu Hariyani, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman emosional yang mendalam. Menurutnya, keterlibatan ibu dan anak dalam satu aktivitas mampu menumbuhkan rasa saling memahami dan saling mendukung. āIbu itu perjuangannya tiada lelah, luar biasa, dan tidak tergantikan. Melihat anak bisa tampil dan berkembang, rasanya semua lelah terbayar,ā tuturnya.
Ia juga menyampaikan pesan khusus bagi para ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus agar tetap semangat dan tidak menyembunyikan anak dari lingkungan sosial. āAnak-anak juga punya hak untuk tumbuh, bermasyarakat, dan punya teman. Ibu harus sabar dan ikhlas, meski ujiannya berat,ā pungkasnya.
Melalui peringatan Hari Ibu ini, Yayasan Pejuang Mimpi Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus membangun ruang inklusif yang menguatkan ibu dan anak, sekaligus menanamkan nilai kemandirian, literasi seni, serta kepercayaan diri sebagai bekal masa depan. (nid/dht)















Masya Allah.. teruslah kepakan sayap mu Pejuang mimpi