Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) bekerja sama dengan Drone Pilot Academy (DPA) menggelar kegiatan Remote Pilot Certification Training yang dirancang secara inklusif bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Program pelatihan ini menjadi langkah awal dalam membuka peluang kompetensi teknologi bagi mahasiswa difabel agar mampu bersaing di dunia kerja.
Ketua Pelaksana kegiatan, Zubaidah Ningsih AS., Ph.D, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari kerja sama antara Universitas Brawijaya dan mitra penyelenggara untuk mengembangkan sistem pelatihan drone yang ramah bagi penyandang disabilitas.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama UB dengan B1 COD untuk membuat skema pelatihan maupun sertifikasi pilot drone yang inklusif. Artinya, teman-teman penyandang disabilitas bisa mengikuti pelatihan sekaligus disertifikasi sehingga kemampuan mereka diakui dan dapat meningkatkan daya saing,” ujar Zubaidah dalam kegiatan yang digelar di Center for Disability Services Universitas Brawijaya, Senin (9/3/2026).
Baca juga:
Doktor FMIPA UB Kembangkan AI untuk Skrining Kanker Serviks

Ia menambahkan bahwa melalui kegiatan ini diharapkan akan terbentuk modul pelatihan serta mekanisme sertifikasi yang benar-benar aksesibel bagi seluruh penyandang disabilitas.
Uji Coba Pelatihan untuk Mahasiswa Difabel
Pada tahap awal, pelatihan ini masih berada pada fase uji coba dengan melibatkan dua mahasiswa penyandang disabilitas dari Universitas Brawijaya. Mereka adalah mahasiswa dengan disabilitas tuli serta disabilitas daksa yang menjadi peserta awal dalam pengujian metode pelatihan.
Zubaidah menjelaskan bahwa uji coba ini dilakukan untuk melihat sejauh mana metode pelatihan yang disiapkan telah sesuai dengan kebutuhan peserta difabel.
“Untuk hari ini kami masih melakukan uji coba dengan melibatkan dua mahasiswa penyandang disabilitas. Ini untuk mengetes apakah pelatihannya sudah cocok bagi mereka, apakah ada hal yang perlu ditambahkan, atau bagian mana yang sudah berjalan dengan baik,” jelasnya.
Ke depan, setelah modul pelatihan disempurnakan berdasarkan evaluasi uji coba, program ini direncanakan dapat melibatkan sekitar 30 mahasiswa penyandang disabilitas.
Kombinasi Pelatihan Online dan Praktik Lapangan
Pelatihan remote pilot ini dilaksanakan melalui dua tahapan, yaitu pembelajaran teori secara daring dan praktik secara langsung di lapangan.
Peserta sebelumnya telah mengikuti sesi pembelajaran online melalui platform Zoom yang membahas dasar-dasar pengoperasian drone. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi praktik lapangan untuk mengoperasikan drone secara langsung.
Dalam kegiatan praktik tersebut, peserta akan dibimbing oleh teknisi dari Drone Pilot Academy serta didampingi oleh tenaga pendukung dari Universitas Brawijaya.
“Kegiatan praktik dilakukan di lapangan yang cukup luas di kampus Dieng. Peserta akan mencoba langsung menerbangkan drone dengan pendampingan teknisi dari DPA,” ungkap Zubaidah.
Untuk memastikan pelatihan dapat diikuti secara optimal oleh peserta difabel, penyelenggara juga menyediakan fasilitas pendukung seperti penerjemah bahasa isyarat bagi peserta dengan disabilitas tuli.
Mendorong Akses Sertifikasi bagi Mahasiswa Difabel
Selain pelatihan, kegiatan ini juga bertujuan untuk membuka akses sertifikasi pilot drone bagi mahasiswa difabel. Sertifikasi tersebut diharapkan dapat menjadi bukti kompetensi yang diakui secara profesional.
Menurut Zubaidah, pengakuan kompetensi melalui sertifikasi menjadi salah satu langkah penting dalam meningkatkan peluang kerja bagi mahasiswa setelah lulus kuliah.
“Harapannya modul pelatihan dan tata cara sertifikasi ini benar-benar dapat memotret kemampuan peserta. Jika mereka sudah dilatih dan tersertifikasi dengan baik, maka kemampuan mereka dapat diakui dan menjadi modal untuk berkompetisi di dunia kerja,” tuturnya.
Melalui program pelatihan ini, Universitas Brawijaya berharap teknologi drone dapat menjadi salah satu bidang keterampilan baru yang terbuka bagi mahasiswa difabel sekaligus memperkuat komitmen kampus dalam menciptakan pendidikan yang inklusif. (nid/cay)














