Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) terus mempertegas komitmennya dalam membangun kampus hijau dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi lintas unit, UPT UB Green Campus bersama Fakultas Teknik dan UPT UB Forest menggelar program penanaman ratusan pohon (25/1/2026) sebagai bagian dari penguatan biodiversitas, pengurangan emisi karbon, sekaligus perluasan dampak lingkungan hingga luar kawasan kampus utama.
Kegiatan penghijauan ini menjadi bagian dari program rutin Kemah Kerja Mahasiswa (KKM) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Tidak hanya terfokus di lingkungan kampus pusat, program ini juga diarahkan untuk memperluas kawasan hijau di berbagai wilayah penyangga UB, termasuk UB Forest dan kawasan Cangar.
Kepala UPT UB Green Campus, Prof. Sri Suhartini, STP., M.Env.Mgt., PhD., PGCert., IPM. menjelaskan, penanaman pohon tersebut merupakan wujud sinergi antarunit di Universitas Brawijaya dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
“Program ini merupakan hasil kerja sama dengan berbagai unit di Universitas Brawijaya, di antaranya Fakultas Teknik dan UPT UB Forest. Fokus utama kami adalah penghijauan sebagai bagian dari penguatan kawasan hijau dan pengurangan emisi karbon,” ujarnya.

Dalam kegiatan ini, sekitar 400 pohon ditanam di kawasan UB Forest. Pohon-pohon tersebut berasal dari sumbangan Ikatan Keluarga Fakultas Teknik (IKFT), ditambah kontribusi dari UPT UB Green Campus berupa beberapa jenis pohon, dengan fokus pada pohon eukaliptus setinggi kurang lebih dua meter. Pemilihan jenis pohon ini dinilai relevan untuk mendukung penyerapan karbon sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.
Lebih dari sekadar penanaman pohon, program ini juga menjadi pintu masuk bagi penguatan kolaborasi yang lebih luas. UPT UB Green Campus mendorong keterlibatan mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, hingga berbagai unit kelembagaan di UB agar program Green Campus dapat berjalan secara kolektif dan berkelanjutan.
“Kami ingin mahasiswa terlibat aktif sebagai agen perubahan. Green Campus tidak bisa dijalankan oleh satu unit saja, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh civitas akademika,” lanjutnya.
Ke depan, UB juga menargetkan percepatan implementasi program Smart Green Campus di seluruh fakultas. Salah satu langkah konkret yang tengah didorong adalah penyusunan blueprint pengelolaan limbah terpadu, mencakup limbah organik, non-organik, limbah B3, hingga limbah elektronik (e-waste).
Pendekatan ini diarahkan pada prinsip ekonomi sirkular dan zero waste, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti bioenergi dan bioproduk.
Selain itu, UB juga mengembangkan berbagai inovasi ramah lingkungan, salah satunya vertical garden sebagai solusi keterbatasan lahan. Konsep mini botanical garden ini dirancang fleksibel, baik secara vertikal maupun horizontal, dan disesuaikan dengan karakteristik lokasi.
“Inovasi vertical garden sangat relevan untuk area dengan keterbatasan lahan. Di Fakultas Teknologi Pertanian, vertical garden bahkan telah diintegrasikan dengan teknologi IoT dan solar panel untuk sistem penyiraman otomatis yang hemat energi,” jelas Prof. Sri Suhartini.
Integrasi teknologi ini memungkinkan sistem penyiraman tanaman berjalan secara terukur dan berkelanjutan tanpa bergantung pada konsumsi listrik berlebih, sekaligus mendukung transisi energi bersih di lingkungan kampus.
Melalui rangkaian program ini, Universitas Brawijaya menegaskan bahwa komitmen terhadap lingkungan bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari strategi jangka panjang. Penanaman pohon hari ini diharapkan memberi manfaat nyata bagi generasi mendatang, sekaligus memperkuat peran UB sebagai kampus yang berkontribusi aktif terhadap pembangunan berkelanjutan.














