Kanal24, Malang – Hell’s Paradise: Jigokuraku Season 2 menjadi salah satu rilis anime yang paling menonjol pada awal 2026 karena membawa penonton kembali ke dunia penuh misteri dan kekejaman di pulau Shinsenkyo. Melanjutkan kisah dari musim pertama, cerita musim kedua mulai memasuki bagian yang jauh lebih gelap dan kompleks. Anime ini memperluas ruang lingkupnya dengan menggali asal-usul pulau, menghadirkan musuh-musuh baru yang nyaris mustahil dikalahkan, serta menyoroti pergulatan batin para tokohnya yang membuat cerita terasa lebih emosional dan matang.
Baca juga:
Mahasiswa Polinema Angkat Musik Tradisional Lewat Panggung Hiburan Rakyat

Pulau Surga yang Menyimpan Rahasia Mengerikan
Pulau Shinsenkyo kembali menjadi pusat konflik dalam musim kedua. Tempat yang awalnya dikira sebagai surga tersembunyi yang menyimpan ramuan keabadian perlahan menunjukkan wajah aslinya sebagai laboratorium alam yang penuh eksperimen mengerikan. Keindahan vegetasi dan arsitektur kuno yang memesona berubah menjadi latar berbahaya ketika makhluk-makhluk aneh bermunculan dan mengancam para penyintas. Cerita musim ini menggali lebih dalam asal mula pulau, termasuk sejarah Taoist kuno yang bereksperimen dengan kehidupan dan kematian. Misteri yang selama ini menyelimuti pulau mulai terkuak, menandai perubahan arah cerita dari sekadar petualangan bertahan hidup menjadi kisah investigasi mitologi yang kompleks.
Gabimaru dan Pertarungan Batin yang Tak Terelakkan
Gabimaru menjadi fokus utama perkembangan karakter di season ini. Di satu sisi, ia adalah mesin pembunuh tanpa emosi yang ditempa oleh klan ninja Iwagakure. Namun di sisi lain, ia adalah suami yang lembut, digerakkan oleh kerinduannya pada Yui, istrinya. Dua sisi dirinya yang bertolak belakang ini semakin sering berbenturan ketika Gabimaru harus mengambil keputusan-keputusan sulit. Setiap pertarungan mendorongnya lebih dekat kepada identitas awalnya yang brutal, namun ingatan akan Yui menahannya agar tetap manusiawi. Proses tarik-ulur ini menjadi inti emosi cerita, memperlihatkan bahwa pertarungan terbesar Gabimaru bukan melawan makhluk pulau, tetapi melawan dirinya sendiri.
Yamada Asaemon: Antara Tugas dan Kemanusiaan
Sementara Gabimaru bergulat dengan masa lalunya, para eksekutor Yamada Asaemon juga menghadapi dilema moral yang tidak kalah berat. Mereka dikirim untuk mengawal para terpidana mati yang sedang menjalankan misi, namun hubungan baru yang terbentuk selama berada di pulau membuat batas antara tugas dan empati menjadi kabur. Sagiri, salah satu karakter yang mendapat sorotan lebih, berkembang menjadi sosok pemimpin yang lebih percaya diri. Ketakutannya pada kematian dan keraguannya terhadap perannya sebagai algojo perlahan berubah menjadi tekad kuat untuk melindungi orang-orang yang mempercayainya. Hal serupa juga berlaku pada eksekutor lain seperti Shion dan Tenza, yang masing-masing menemukan makna baru dalam perjalanan penuh bahaya ini. Konflik batin mereka mempertegas bahwa ancaman terbesar bukan hanya berasal dari makhluk pulau, tetapi juga dari pilihan moral yang harus mereka buat.
Munculnya Lord Tensen, Musuh Abadi dari Hōrai
Kekuatan antagonis dalam musim kedua meningkat drastis dengan kehadiran Lord Tensen, sekelompok makhluk abadi yang menghuni pusat pulau bernama Hōrai. Tensen digambarkan sebagai entitas berwujud manusia yang memiliki kemampuan regenerasi tak terbatas dan kekuatan Tao yang berada jauh di atas kapasitas manusia. Mereka adalah penjaga Hōrai sekaligus pelaksana kehendak sistem kehidupan yang telah berlangsung selama berabad-abad di pulau itu. Pertarungan melawan Tensen bukan sekadar duel fisik, tetapi ujian pemahaman tentang konsep Tao yang menjadi dasar kekuatan mereka. Setiap konfrontasi memperlihatkan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati, serta bagaimana manusia yang bertempur demi bertahan hidup harus memahami hukum alam yang tidak mereka kuasai sebelumnya.
Pertempuran Besar di Shinsenkyo
Kisah di season ini membuat dinamika antar karakter semakin mengerucut. Para terpidana seperti Yuzuriha, Chōbei, dan saudara-saudaranya terpaksa membentuk aliansi yang tidak terduga dengan para eksekutor. Mereka menyadari bahwa permusuhan lama harus dikesampingkan jika ingin bertahan melawan ancaman yang jauh lebih besar. Konflik internal antar kelompok tidak dapat dihindari, namun situasi genting memaksa mereka untuk bersatu menghadapi makhluk abadi dan fenomena-fenomena supernatural yang terjadi di sekitar Hōrai. Pertarungan-pertarungan besar memperlihatkan kemampuan unik tiap karakter, tetapi juga menunjukkan betapa rapuhnya mereka ketika berhadapan dengan kekuatan yang mendekati ketuhanan.

Harapan untuk Pulang di Tengah Gelapnya Jalan
Meski penuh tragedi dan kekerasan, inti cerita Hell’s Paradise Season 2 tetap kembali pada satu hal: keinginan untuk pulang. Para tokoh masing-masing membawa harapannya sendiri. Gabimaru ingin kembali kepada istrinya. Sagiri ingin memahami makna kehormatan dan hidup di luar bayang-bayang tradisinya. Para terpidana lain mencari kesempatan kedua yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Namun pulau Shinsenkyo tidak memberi jalan mudah. Setiap keputusan membawa konsekuensi besar, dan tidak semua karakter akan mencapai tujuan mereka. Perjalanan menuju pusat Hōrai menjadi simbol perjalanan menuju kebenaran yang pahit: bahwa hidup dan mati bukan sekadar garis lurus, tetapi ruang penuh pilihan yang menuntut pengorbanan.
Musim yang Lebih Gelap dan Lebih Berlapis
Hell’s Paradise Season 2 hadir bukan sekadar sebagai kelanjutan petualangan penuh aksi, tetapi sebagai pendalaman naratif yang mengeksplorasi makna hidup, nilai moral, dan pergulatan batin para tokohnya. Dengan pengungkapan misteri pulau, kehadiran Lord Tensen, dan konflik emosional di antara para karakter, musim ini menjadi babak penting dalam perjalanan besar menuju konfrontasi akhir. Jika musim pertama bercerita tentang bertahan hidup, maka musim kedua ini menggali lebih dalam pertanyaan yang lebih esensial: apa yang membuat hidup layak diperjuangkan? (snd)














