Kanal24 – Pergantian tahun kerap dibingkai sebagai momen awal yang penuh harapan. Kalender berganti, resolusi disusun, dan ekspektasi terhadap hidup yang “lebih baik” ikut menguat. Namun realitasnya, tidak semua orang menyambut tahun baru dengan energi positif. Setelah libur panjang berakhir dan rutinitas kembali berjalan, sebagian orang justru merasakan kelelahan emosional, kehilangan motivasi, hingga suasana hati yang menurun. Kondisi inilah yang dikenal sebagai post-holiday blues.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan malas biasa. Sejumlah kajian psikologi menjelaskan bahwa post-holiday blues muncul akibat transisi mendadak dari suasana liburan yang santai dan penuh stimulasi menyenangkan menuju rutinitas yang sarat tuntutan. Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Ketika adaptasi ini terjadi terlalu cepat, muncullah rasa kosong, lesu, atau bahkan enggan memulai hari.
Psikolog klinis Kasandra Putranto menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan perubahan mood akibat pergeseran ritme hidup. Saat liburan, seseorang cenderung memiliki kontrol lebih besar atas waktu, tidur lebih fleksibel, dan terpapar aktivitas menyenangkan. Ketika semua itu berhenti secara tiba-tiba, tubuh mengalami penurunan hormon dopamin dan serotonin yang berperan dalam rasa senang dan motivasi. Akibatnya, semangat pun ikut merosot.
Gejala post-holiday blues dapat muncul dalam berbagai bentuk. Sebagian orang merasa lelah meski tidak melakukan aktivitas berat, kesulitan berkonsentrasi saat bekerja atau belajar, hingga muncul perasaan rindu berlebihan terhadap suasana liburan. Ada pula yang merasa kurang bahagia tanpa alasan yang jelas, atau kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya dijalani dengan antusias. Meski demikian, kondisi ini umumnya bersifat sementara dan akan membaik seiring tubuh kembali menemukan ritme kesehariannya.
Para ahli menekankan bahwa kunci menghadapi post-holiday blues terletak pada proses adaptasi yang bertahap. Menjaga aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau olahraga sederhana dapat membantu menstimulasi kembali hormon kebahagiaan. Rutinitas tidur yang teratur juga penting agar tubuh kembali mengenali pola harian. Selain itu, tetap menjaga interaksi sosial, menyusun target kecil yang realistis, serta menghindari tekanan berlebihan di awal tahun dapat membantu proses pemulihan suasana hati.
Yang tak kalah penting, post-holiday blues berbeda dengan depresi klinis. Namun, jika perasaan sedih, kehilangan motivasi, atau kelelahan mental berlangsung lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, konsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah yang bijak.
Pada akhirnya, tahun baru tidak selalu harus dimulai dengan semangat yang meledak-ledak. Merasa melambat setelah liburan adalah bagian dari proses manusiawi. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk beradaptasi justru bisa menjadi awal yang lebih sehat dalam menapaki tahun yang baru.(Din)














