Kanal24, Malang – Ketahanan pangan berbasis protein hewani masih menjadi pekerjaan rumah besar Indonesia hingga akhir 2025. Di tengah meningkatnya kebutuhan daging, telur, dan susu, industri peternakan nasional justru berjalan di atas struktur yang rapuh: ketergantungan impor bahan baku, biaya produksi yang tinggi, serta kesenjangan pasokan antarwilayah. Situasi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan belum sepenuhnya sejalan dengan kemandirian.
Pandemi Covid-19 memang telah berlalu, namun dampaknya masih terasa dalam bentuk ketidakstabilan rantai pasok dan lemahnya fondasi industri. Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis memberi dorongan permintaan, tetapi sekaligus menguji kesiapan sektor hulu hingga hilir untuk menjawab lonjakan kebutuhan secara berkelanjutan.
Protein Hewani sebagai Kewajiban Negara
Dr. Ir. Agus Susilo, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., Pakar Industri Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, menilai bahwa persoalan peternakan nasional harus dibaca dari akar kebijakan jangka panjang negara.
āSejak 1998, daging, susu, dan telur ditetapkan sebagai bagian dari sembilan bahan pokok. Itu berarti negara punya kewajiban memastikan ketersediaan, pemerataan, dan harga yang terjangkau di seluruh Indonesia, dan sampai sekarang kebijakan itu tidak pernah dicabut,ā ujar Dr. Agus.
Menurutnya, status protein hewani sebagai sembako membuat industri peternakan tidak bisa berjalan biasa-biasa saja. Produksi harus terus dipacu, bukan hanya untuk memenuhi permintaan pasar, tetapi juga untuk menjamin hak dasar masyarakat atas pangan bergizi.
Industri Bangkit, Perunggasan Jadi Penopang
Dr. Agus mencatat bahwa industri peternakan sempat mengalami penurunan tajam saat pandemi Covid-19. Namun sejak 2023, pemulihan mulai terlihat, dan pada 2024 hingga kuartal IV 2025, tren peningkatan semakin jelas, terutama di sektor perunggasan.
āAlhamdulillah, 2025 ini sudah terlihat hasilnya. Perunggasan mulai bangkit, salah satunya karena adanya program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis yang mendorong kebutuhan telur dan daging ayam,ā katanya.
Ia menyebut unggas menjadi tulang punggung pemenuhan protein hewani nasional karena siklus produksinya cepat dan lebih terjangkau bagi masyarakat dibandingkan daging sapi.
Capaian Produksi: Telur Hampir Mandiri, Susu Masih Tertinggal
Dari sisi pemenuhan kebutuhan nasional, Dr. Agus memaparkan capaian yang belum merata. Produksi telur nasional telah mampu memenuhi sekitar 93 persen kebutuhan dalam negeri. Untuk daging, Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 66 persen, sehingga masih ada ketergantungan impor sekitar 34 persen.Sementara itu, sektor susu menjadi tantangan paling berat.
āUntuk susu, kita baru bisa memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional. Ketergantungan impor masih sangat tinggi,ā ungkap Dr. Agus.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kemandirian protein hewani Indonesia masih parsial dan belum menyentuh seluruh komoditas strategis.
Pakan: Masalah Klasik yang Belum Tuntas
Salah satu faktor paling menentukan dalam industri peternakan adalah pakan. Agus menegaskan bahwa biaya pakan menyerap porsi terbesar biaya produksi.
āUntuk ayam broiler, biaya pakan sekitar 67 persen, sementara pada ayam petelur bisa mencapai 74 persen dari total biaya produksi,ā jelasnya.
Ketergantungan pada bahan baku impor, termasuk jagung, membuat industri rentan terhadap fluktuasi harga global. Upaya pengembangan bahan baku lokal terus dilakukan, namun hingga kini belum ada komoditas yang benar-benar mampu menggantikan peran jagung secara optimal.
Biosecurity dan Hilirisasi Jadi Kunci Keberlanjutan
Selain pakan, Dr. Agus menekankan pentingnya penguatan biosecurity di tingkat peternak. Indonesia yang luas dengan sentra-sentra ternak besar membutuhkan sistem pengamanan kesehatan hewan yang disiplin dan konsisten.
āBiosecurity di tingkat peternak itu mutlak. Peternak harus mampu mengelola risiko penyakit dari hulu,ā tegasnya.
Di sisi hilir, ia mendorong percepatan hilirisasi produk peternakan, termasuk penguatan sistem rantai dingin. Menurut Agus, kualitas dan keamanan produk harus berjalan seiring dengan peningkatan produksi, mengingat produk tersebut akan dikonsumsi oleh masyarakat luas.
2026: Optimisme dengan Catatan
Menatap 2026, Dr. Agus menyampaikan optimisme dengan sejumlah catatan. Ia mengilustrasikan bahwa peningkatan konsumsi daging ayam hanya satu kilogram per kapita per tahun dapat menciptakan kebutuhan tambahan sekitar 280 juta ekor ayam.
āArtinya, potensi pertumbuhan industri ini sangat besar. Tapi itu hanya bisa dicapai kalau hulu sampai hilir kita siapkan dengan serius,ā ujarnya.
Bagi Dr. Agus, kebijakan ke depan tidak cukup hanya mendorong produksi. Pemerintah perlu memastikan kualitas, keamanan, dan keberlanjutan industri peternakan nasional agar kebangkitan 2025 tidak berhenti sebagai momentum sesaat, melainkan menjadi fondasi kemandirian pangan jangka panjang. (Din)














