Kanal24, Malang – Ketergantungan Indonesia terhadap impor susu masih menjadi pekerjaan rumah besar sektor peternakan nasional. Hingga saat ini, produksi susu dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional, sementara 80 persen sisanya masih bergantung pada impor. Persoalan inilah yang menjadi pijakan ilmiah Prof. Dr. Ir. Mashudi, M.Agr.Sc., IPM., ASEAN. Eng dalam pengukuhannya sebagai Profesor Bidang Ilmu Teknologi Pakan Ternak Ruminansia Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (11/2/2026).
Prof. Mashudi memperkenalkan konsep Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP), sebuah model pemberian pakan berbasis proteksi protein dan asam amino esensial yang dirancang khusus untuk kondisi peternakan tropis.
“Produksi susu nasional itu baru bisa memenuhi sekitar 20 persen, 80 persennya impor. Padahal susu adalah produk pangan bergizi tinggi yang sangat dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab rendahnya produksi susu dalam negeri adalah ketidaksesuaian antara sapi perah yang dipelihara di Indonesia dengan lingkungan tropis. Mayoritas sapi perah yang ada di Indonesia merupakan sapi asal wilayah beriklim sedang, seperti New Zealand, Australia, dan Eropa.
“Di negara asalnya produksinya bisa 25 liter per ekor per hari. Tetapi ketika dipelihara di Indonesia, karena suhu tinggi, lembab, dan kualitas rumput berbeda, produksinya rata-rata hanya 10 sampai 12 liter,” jelasnya.
Selain faktor lingkungan, pendekatan nutrisi yang selama ini digunakan juga dinilai perlu diperbarui. Menurut Prof. Mashudi, paradigma lama dalam pemberian pakan masih berfokus pada peningkatan kadar protein secara kuantitatif.
“Kalau ingin meningkatkan produksi susu, gampang naikkan saja kandungan protein pakannya. Memang benar, tapi sampai level tertentu saja. Setelah itu tidak lagi efisien,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa protein yang dikonsumsi sapi akan mengalami proses fermentasi di rumen. Jika tidak didukung energi yang cukup, protein tersebut akan diubah menjadi amonia dan sebagian terbuang melalui urin atau gas, yang berdampak pada lingkungan.

“Protein berlebih itu tidak semuanya menjadi susu. Sebagian justru terbuang menjadi amonia. Ini tidak efisien dan berdampak ke lingkungan,” tegasnya.
Melalui model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah, ia menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih sekadar menaikkan jumlah protein, model ini menitikberatkan pada peningkatan kualitas dan distribusi protein serta asam amino esensial, khususnya lisin dan metionin, agar terserap optimal di usus halus.
“Produksi susu itu sangat tergantung pada penyerapan asam amino. Jadi bukan sekadar banyaknya protein, tetapi bagaimana protein dan asam amino itu bisa tersalurkan ke usus halus untuk diserap,” jelas Prof. Mashudi.
Teknologi yang digunakan dalam model ini melibatkan proses proteksi atau pelapisan protein dan asam amino agar tidak terdegradasi di rumen. Dengan demikian, nutrisi dapat langsung dimanfaatkan tubuh sapi untuk sintesis susu.
Konsep ini tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga sejalan dengan prinsip peternakan berkelanjutan. Dengan mengurangi kelebihan nitrogen yang terbuang, dampak lingkungan dapat ditekan, sementara produktivitas tetap meningkat.
Menurut Prof. Mashudi, transformasi sistem nutrisi ini penting di tengah tuntutan industri peternakan modern yang semakin kompetitif.
“Zaman sekarang beternak itu harus efisien dan berkelanjutan. Kita tidak bisa lagi hanya berpikir kuantitatif. Harus presisi,” ujarnya.
Pengukuhan Prof. Mashudi sebagai guru besar sekaligus menegaskan komitmen Universitas Brawijaya dalam mendorong riset aplikatif yang berdampak langsung pada kebutuhan nasional. Inovasi Nutrisi Presisi Ruminansia Perah diharapkan menjadi salah satu solusi strategis dalam meningkatkan kemandirian susu nasional sekaligus memperkuat daya saing peternakan tropis Indonesia.
Melalui pendekatan berbasis sains dan efisiensi, model ini membuka peluang baru bagi sektor peternakan perah untuk tumbuh lebih produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan di tengah tantangan global.(Din/Kanal24)














