Kanal24, Malang – Kebiasaan boros kerap dipandang sebagai persoalan kurang disiplin dalam mengatur keuangan. Padahal, berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa perilaku konsumtif memiliki akar yang lebih dalam. Dorongan emosional, bias kognitif, hingga pengaruh lingkungan digital membentuk pola belanja yang sering kali berlangsung tanpa disadari.
Dalam praktiknya, banyak orang menyadari pentingnya menabung dan menyusun anggaran. Namun ketika dihadapkan pada diskon besar atau promo terbatas, keputusan rasional sering kalah oleh dorongan sesaat. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan cara kerja pikiran dan emosi manusia.
Dorongan Psikologis dan Bias Kognitif
Secara psikologis, perilaku belanja impulsif dapat dijelaskan melalui teori konflik antara dorongan naluriah dan kontrol rasional. Teori psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud menyebut adanya pertarungan antara id yang mencari kepuasan instan dan ego yang berfungsi sebagai pengendali. Ketika seseorang melihat potongan harga atau barang yang sedang tren, dorongan untuk segera membeli kerap muncul lebih cepat dibanding pertimbangan kebutuhan.
Selain itu, konsep present bias juga berperan besar. Manusia cenderung memprioritaskan keuntungan yang dapat dirasakan saat ini dibanding manfaat jangka panjang yang masih abstrak. Menabung untuk masa depan terasa jauh dan tidak terlihat hasilnya, sementara membeli barang memberikan kepuasan langsung. Pola pikir inilah yang membuat resolusi keuangan sering gagal di tengah jalan.
Bias kognitif lain seperti anchoringādi mana harga awal yang tinggi membuat potongan harga terlihat sangat menguntungkanājuga memengaruhi keputusan konsumen. Tanpa disadari, persepsi āhematā justru mendorong pengeluaran yang sebenarnya tidak direncanakan.
Faktor Emosional dan Tekanan Sosial
Kondisi emosional menjadi pemicu kuat perilaku boros. Stres, rasa lelah, kesepian, atau bahkan kebosanan dapat meningkatkan kecenderungan belanja impulsif. Istilah retail therapy menggambarkan kebiasaan berbelanja untuk memperbaiki suasana hati. Meski memberi rasa lega sementara, efeknya sering diikuti penyesalan ketika menyadari pengeluaran membengkak.
Lingkungan digital memperkuat pola tersebut. Media sosial menampilkan gaya hidup ideal yang memicu rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Seseorang terdorong membeli produk tertentu agar merasa setara dengan lingkaran sosialnya. Notifikasi promosi, flash sale, dan iklan personalisasi menciptakan rasa urgensi yang membuat konsumen merasa harus segera mengambil keputusan.
Tekanan sosial ini tidak selalu disadari. Tanpa kontrol yang baik, kebiasaan mengikuti tren dapat menggerus stabilitas finansial secara perlahan.
Dampak dan Strategi Mengendalikannya
Kebiasaan boros yang terus berlangsung dapat menimbulkan dampak serius. Selain menghambat pencapaian tujuan finansial seperti dana darurat atau investasi, masalah keuangan juga dapat memicu stres berkepanjangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas hidup dan hubungan sosial.
Untuk mengatasinya, para pakar menyarankan peningkatan kesadaran diri sebagai langkah awal. Menunda pembelian selama 24 jam sebelum memutuskan transaksi dapat membantu meredam impuls sesaat. Strategi ini memberi waktu bagi pertimbangan rasional untuk bekerja.
Menyusun anggaran rinci dan memisahkan rekening kebutuhan dengan tabungan juga dinilai efektif. Sebagian perencana keuangan menyarankan penggunaan uang tunai untuk pos tertentu agar pengeluaran terasa lebih nyata, sehingga membantu mengurangi efek pembayaran nontunai yang sering membuat orang kurang sadar akan jumlah uang yang dikeluarkan.
Di samping itu, memperkuat literasi finansial menjadi fondasi penting. Memiliki tujuan keuangan jangka panjang yang jelasāseperti membeli rumah, menyiapkan dana pendidikan, atau dana pensiunādapat menjadi pengingat kuat untuk menahan godaan konsumtif.
Pada akhirnya, kebiasaan boros bukan sekadar kelemahan karakter, melainkan hasil interaksi kompleks antara psikologi, emosi, dan lingkungan. Dengan memahami akar penyebabnya, individu dapat mengambil langkah lebih terukur untuk mengelola keuangan secara sehat. Mengendalikan belanja bukan berarti menolak kesenangan, melainkan menempatkannya secara proporsional demi kestabilan finansial di masa depan. (nid)














