Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Psikologi Boros: Mengapa Kita Sulit Menahan Belanja

Einid Shandy by Einid Shandy
February 24, 2026
in Ekonomi, Gaya Hidup
0
Psikologi Boros: Mengapa Kita Sulit Menahan Belanja

Psikologi Boros (AI)

0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24, Malang – Kebiasaan boros kerap dipandang sebagai persoalan kurang disiplin dalam mengatur keuangan. Padahal, berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa perilaku konsumtif memiliki akar yang lebih dalam. Dorongan emosional, bias kognitif, hingga pengaruh lingkungan digital membentuk pola belanja yang sering kali berlangsung tanpa disadari.

Dalam praktiknya, banyak orang menyadari pentingnya menabung dan menyusun anggaran. Namun ketika dihadapkan pada diskon besar atau promo terbatas, keputusan rasional sering kalah oleh dorongan sesaat. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan cara kerja pikiran dan emosi manusia.

Dorongan Psikologis dan Bias Kognitif

Secara psikologis, perilaku belanja impulsif dapat dijelaskan melalui teori konflik antara dorongan naluriah dan kontrol rasional. Teori psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud menyebut adanya pertarungan antara id yang mencari kepuasan instan dan ego yang berfungsi sebagai pengendali. Ketika seseorang melihat potongan harga atau barang yang sedang tren, dorongan untuk segera membeli kerap muncul lebih cepat dibanding pertimbangan kebutuhan.

Selain itu, konsep present bias juga berperan besar. Manusia cenderung memprioritaskan keuntungan yang dapat dirasakan saat ini dibanding manfaat jangka panjang yang masih abstrak. Menabung untuk masa depan terasa jauh dan tidak terlihat hasilnya, sementara membeli barang memberikan kepuasan langsung. Pola pikir inilah yang membuat resolusi keuangan sering gagal di tengah jalan.

Bias kognitif lain seperti anchoring—di mana harga awal yang tinggi membuat potongan harga terlihat sangat menguntungkan—juga memengaruhi keputusan konsumen. Tanpa disadari, persepsi ā€œhematā€ justru mendorong pengeluaran yang sebenarnya tidak direncanakan.

Faktor Emosional dan Tekanan Sosial

Kondisi emosional menjadi pemicu kuat perilaku boros. Stres, rasa lelah, kesepian, atau bahkan kebosanan dapat meningkatkan kecenderungan belanja impulsif. Istilah retail therapy menggambarkan kebiasaan berbelanja untuk memperbaiki suasana hati. Meski memberi rasa lega sementara, efeknya sering diikuti penyesalan ketika menyadari pengeluaran membengkak.

Lingkungan digital memperkuat pola tersebut. Media sosial menampilkan gaya hidup ideal yang memicu rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Seseorang terdorong membeli produk tertentu agar merasa setara dengan lingkaran sosialnya. Notifikasi promosi, flash sale, dan iklan personalisasi menciptakan rasa urgensi yang membuat konsumen merasa harus segera mengambil keputusan.

Tekanan sosial ini tidak selalu disadari. Tanpa kontrol yang baik, kebiasaan mengikuti tren dapat menggerus stabilitas finansial secara perlahan.

Dampak dan Strategi Mengendalikannya

Kebiasaan boros yang terus berlangsung dapat menimbulkan dampak serius. Selain menghambat pencapaian tujuan finansial seperti dana darurat atau investasi, masalah keuangan juga dapat memicu stres berkepanjangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas hidup dan hubungan sosial.

Untuk mengatasinya, para pakar menyarankan peningkatan kesadaran diri sebagai langkah awal. Menunda pembelian selama 24 jam sebelum memutuskan transaksi dapat membantu meredam impuls sesaat. Strategi ini memberi waktu bagi pertimbangan rasional untuk bekerja.

Menyusun anggaran rinci dan memisahkan rekening kebutuhan dengan tabungan juga dinilai efektif. Sebagian perencana keuangan menyarankan penggunaan uang tunai untuk pos tertentu agar pengeluaran terasa lebih nyata, sehingga membantu mengurangi efek pembayaran nontunai yang sering membuat orang kurang sadar akan jumlah uang yang dikeluarkan.

Di samping itu, memperkuat literasi finansial menjadi fondasi penting. Memiliki tujuan keuangan jangka panjang yang jelas—seperti membeli rumah, menyiapkan dana pendidikan, atau dana pensiun—dapat menjadi pengingat kuat untuk menahan godaan konsumtif.

Pada akhirnya, kebiasaan boros bukan sekadar kelemahan karakter, melainkan hasil interaksi kompleks antara psikologi, emosi, dan lingkungan. Dengan memahami akar penyebabnya, individu dapat mengambil langkah lebih terukur untuk mengelola keuangan secara sehat. Mengendalikan belanja bukan berarti menolak kesenangan, melainkan menempatkannya secara proporsional demi kestabilan finansial di masa depan. (nid)

Post Views: 36
Tags: BelanjaborosKANAL24kanal24.co.idPsikologi Borosuniversitas brawijaya
Previous Post

QRIS Dibidik 150 Miliar Transaksi Harian 2030

Next Post

LARIS FISIP: Prof Widodo Soroti Integritas dan Kepemimpinan Mahasiswa

Einid Shandy

Einid Shandy

Reporter dan penulis Kanal24

Next Post
LARIS FISIP: Prof Widodo Soroti Integritas dan Kepemimpinan Mahasiswa

LARIS FISIP: Prof Widodo Soroti Integritas dan Kepemimpinan Mahasiswa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

August 4, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
LARIS FISIP: Prof Widodo Soroti Integritas dan Kepemimpinan Mahasiswa

LARIS FISIP: Prof Widodo Soroti Integritas dan Kepemimpinan Mahasiswa

February 24, 2026
Psikologi Boros: Mengapa Kita Sulit Menahan Belanja

Psikologi Boros: Mengapa Kita Sulit Menahan Belanja

February 24, 2026
QRIS Dibidik 150 Miliar Transaksi Harian 2030

QRIS Dibidik 150 Miliar Transaksi Harian 2030

February 24, 2026
Disertasi Fapet UB Inovasi Susu Kuda Dukung Ketahanan Pangan

Disertasi Fapet UB Inovasi Susu Kuda Dukung Ketahanan Pangan

February 23, 2026

Popular Stories

  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkiniā€Ž
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025