Kanal24, Malang – Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa puasa merupakan sekolah terbaik untuk melatih pengendalian diri, memperkuat empati, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Menurutnya, ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembentukan karakter yang menuntun seseorang menjadi pribadi bertakwa dan bertanggung jawab secara moral. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) bertema Hikmah Puasa di Masjid Fatahilah, Kamis (19/2/2026), yang digelar oleh Universitas Brawijaya.
āYang paling penting justru adalah menahan ego kita, menahan hati kita, dan terus membuka hati kita untuk peduli kepada sesama,ā ujar Prof. Widodo dalam tausiyahnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, puasa yang dijalankan kurang lebih selama 16 jam setiap harinya tidak berhenti pada aspek fisik semata. Tujuan utama dari ibadah tersebut adalah mencapai derajat takwa sebagaimana diajarkan dalam ajaran Islam.
Baca juga:
Sambut Ramadan, Ah Pek Malang Hadirkan Nasi Kebuli Claypot
Makna Takwa dalam Kehidupan
Dalam pemaparannya, Prof. Widodo menguraikan bahwa takwa bukan hanya dimaknai sebagai rasa takut kepada Allah, melainkan kesadaran penuh akan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Kesadaran tersebut, menurutnya, akan melahirkan ketaatan sekaligus tanggung jawab moral dalam bersikap dan bertindak.
āApa itu takwa? Takwa bukan hanya sekadar kita takut kepada Allah, tapi takwa adalah kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam kehidupan kita, sehingga melahirkan ketaatan dan tanggung jawab moral,ā katanya.
Ia juga mengutip penjelasan dalam Surat Al-Baqarah mengenai ciri-ciri orang bertakwa, yakni mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, serta menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan Allah. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan hanya dalam ritual ibadah.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa ketakwaan tercermin dalam hubungan antarmanusia dan juga dalam relasi dengan makhluk lain dan alam sekitar. Orang yang bertakwa, ujarnya, akan menjaga kelestarian lingkungan dan tidak merusak ciptaan Tuhan.
Dimensi Sosial Sadaqah
Selain menahan diri, puasa juga melatih kepekaan sosial melalui praktik berbagi dan bersedekah. Prof. Widodo menilai bahwa makna sadaqah perlu diperluas agar terfokus pada pembangunan fisik, seperti pembangunan masjid, dan juga menyasar kelompok yang benar-benar membutuhkan bantuan.
āKetaqwaan juga bisa dilakukan dengan bersodaqah. Sadaqah kadang-kadang hanya diperuntukkan untuk membangun masjid. Sehingga masjid-masjid di tempat kita megah-megah, bagus-bagus. Menurut saya, sadaqah itu akan sangat bagus diberikan kepada yang memerlukan, membutuhkan,ā tuturnya.
Ia kemudian mengutip hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang apabila ia kenyang sementara tetangganya kelaparan. Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa iman harus berdampak sosial dan tidak berhenti pada simbol atau ritual semata.
āRasulullah bersabda bahwa tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan. Dan saya kira hadis ini menegaskan bahwa iman tidak boleh berhenti di sajadah, di masjid. Tetapi iman harus bermuara pada takwa yang memiliki implikasi sosial,ā tegasnya.
Melalui puasa, sivitas akademika diajak untuk membangun kapasitas diri, memperkuat iman, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Hikmah Puasa bagi Kesehatan
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Widodo juga menyinggung manfaat puasa dari sisi kesehatan. Ia menyebutkan bahwa praktik puasa yang dilakukan secara disiplin dapat membantu memperbaiki metabolisme tubuh, termasuk dalam pengelolaan kadar gula darah.
āBapak-Ibu sekalian tentu hikmah puasa banyak sekali untuk kesehatan. Sedikit cerita saja, ada teman saya salah satu rektor, beliau itu menderita diabetes. Diabetes tidak lepas dari insulin, harus habis makan selalu pakai insulin untuk menormalkan gula darah. Tetapi beliau sembuh sekarang tanpa insulin, tanpa mengonsumsi obat sama sekali. Dengan cara apa? Dengan cara berpuasa,ā ungkapnya.
Ia menekankan bahwa puasa yang dijalankan dengan benar berdampak pada spiritualitas dan juga memberikan manfaat medis, selama tetap memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Kultum tersebut menjadi momentum refleksi bagi jamaah yang hadir di Masjid Fatahilah. Melalui pesan-pesan yang disampaikan, Prof. Widodo mengajak seluruh sivitas akademika Universitas Brawijaya untuk menjadikan puasa sebagai sarana pembentukan karakter, penguatan moral, dan peningkatan solidaritas sosial.
Dengan demikian, puasa dimaknai sebagai kewajiban ritual tahunan dan sebagai proses pembelajaran berkelanjutan untuk menjadi insan yang lebih beriman, bertakwa, serta bermanfaat bagi lingkungan sekitar. (nid/rks/oky)














