Kanal24, Malang — Literasi investasi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan dana yang aman dan produktif, diskusi terbuka mengenai strategi investasi menjadi semakin relevan. Melalui sesi berbagi pengalaman dan pengetahuan, upaya edukasi ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan, baik secara personal maupun institusional.
Hal tersebut disampaikan oleh Rinto Zanuardi, seorang entrepreneur dan profesional yang menjadi pemateri dalam kegiatan sharing session tentang investasi, khususnya pengelolaan investasi untuk Dana Abadi Universitas Brawijaya (UB) pada Senin (08/12/2025) di UB. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya menempatkan investasi pada instrumen yang tepat, termasuk pendekatan berbasis prinsip syariah, serta perlunya menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko yang dimiliki.
Baca juga:
Pesona Visual Mahasiswa FIB UB Pukau Pengunjung
Menurut Rinto, momentum akhir tahun merupakan waktu yang sangat tepat untuk melakukan refleksi dan persiapan strategi keuangan menghadapi tahun berikutnya. Ia menjelaskan bahwa investasi ideal harus dibagi ke dalam skema jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Pembagian ini, lanjutnya, tidak hanya relevan bagi lembaga atau perusahaan, tetapi juga penting bagi individu dalam membangun dana darurat, tabungan masa depan, dan perencanaan keuangan yang lebih terarah.
Rinto juga menyoroti masih minimnya platform dan ruang diskusi terbuka di Indonesia yang membahas investasi dan asuransi personal secara komprehensif. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya pada pengenalan produk, tetapi pada proses edukasi yang jelas, transparan, dan terhindar dari praktik mis-selling. Ia mengingatkan bahwa investasi tidak boleh ditempatkan hanya pada satu instrumen, melainkan perlu didiversifikasi layaknya “telur yang tidak diletakkan dalam satu keranjang”.
Dalam paparannya, Rinto menguraikan hubungan antara potensi keuntungan dan tingkat risiko. Semakin tinggi target imbal hasil, maka semakin besar pula risiko yang harus dihadapi. Oleh karena itu, keputusan investasi harus selalu kembali pada profil risiko pemilik dana, apakah cenderung agresif dengan risiko tinggi atau konservatif dengan risiko rendah.
Ia juga mendorong peserta untuk mulai berinvestasi secara mandiri melalui berbagai platform digital yang kini tersedia. Instrumen seperti reksadana, menurutnya, menjadi pilihan yang terjangkau karena dapat dimulai dengan nominal yang relatif kecil. Reksadana sendiri memiliki beberapa jenis, mulai dari pasar uang, pendapatan tetap, campuran, hingga saham, yang masing-masing memiliki karakter risiko dan imbal hasil yang berbeda.
Bagi pemula, Rinto menyarankan alternatif melalui tabungan berjangka di perbankan. Skema ini dinilai efektif untuk melatih disiplin menabung, karena dana secara otomatis dialihkan ke rekening khusus setiap periode. Analogi yang ia gunakan adalah “arisan dengan diri sendiri”, yang lebih aman dan terkontrol.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa investasi tidak bisa ditunda karena tekanan inflasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika seseorang tidak memulai dari sekarang, maka nilai uang akan terus tergerus. Ia pun menepis stigma bahwa generasi muda hanya gemar menghabiskan uang, dan meyakini bahwa generasi milenial dan Gen Z justru memiliki potensi besar untuk menjadi investor yang cerdas.
Sebagai penutup, Rinto menyampaikan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini bukan semata-mata memberikan materi, melainkan membuka ruang diskusi bersama. Selain topik investasi, diskusi juga mencakup pengelolaan kredit yang aman, strategi mitigasi risiko, serta bagaimana skema pembiayaan dapat memberi keuntungan bagi pemberi dan penerima kredit secara berkelanjutan. Melalui forum ini, ia berharap tercipta pemahaman yang lebih matang tentang pengelolaan dana yang sehat dan berorientasi jangka panjang. (nid/tia)














