Kanal24, Malang – Isu peran perempuan dalam dunia kerja kembali mengemuka seiring meningkatnya perhatian terhadap kualitas pembangunan sumber daya manusia. Momentum Wisuda Universitas Brawijaya (UB) yang digelar pada Minggu (21/12/2025) di Gedung Samantha Krida UB menjadi salah satu penanda penting lahirnya gagasan akademik yang berfokus pada ekonomi gender, khususnya terkait ibu bekerja dan kesejahteraan anak serta remaja.
Salah satu akademisi yang menaruh perhatian besar pada isu tersebut adalah Dr. Dien Amalina Nur Asrofi. Saat ini, ia tengah menjalani program posdoktoral dari Universitas Brawijaya dan aktif bekerja sebagai peneliti posdoktoral di Pusat Penelitian Demografi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB).
Melalui disertasinya, Dr. Dien mengkaji ekonomi gender dengan fokus pada dinamika ibu bekerja dan keterkaitannya dengan kesejahteraan anak serta remaja. Ia menilai, masih kuat anggapan bahwa ketika seorang ibu bekerja, maka kewajiban pengasuhan akan terabaikan, sehingga mendorong banyak perempuan untuk menarik diri dari pasar kerja demi memprioritaskan keluarga.
Baca juga:
Resmi Dilantik, EM dan DPM UB 2026 Siap Perkuat Peran Mahasiswa
Ekonomi Gender dan Dilema Ibu Bekerja
Dalam penelitiannya, Dr. Dien menemukan bahwa ibu bekerja sering kali berada pada posisi dilematis. Tuntutan pekerjaan yang tinggi, jam kerja yang panjang, serta minimnya fleksibilitas membuat pengasuhan anak dan remaja menjadi terkorbankan. Kondisi ini tidak jarang memaksa perempuan untuk keluar dari dunia kerja, meskipun mereka memiliki potensi dan kompetensi yang besar.
Namun, disertasinya justru menunjukkan bahwa ibu tetap dapat berdaya secara ekonomi tanpa harus mengorbankan peran pengasuhan. Kuncinya terletak pada dukungan sistem kerja yang memadai. āIbu bekerja tetap bisa menjalankan perannya dengan baik apabila terdapat aturan kerja yang jelas dan standar,ā jelasnya.
Beberapa prasyarat penting yang disorot dalam riset tersebut antara lain penerapan jam kerja standar, ketersediaan asuransi kesehatan, serta dukungan di tempat kerja seperti fasilitas self care, bantuan pengasuhan anak, maupun dukungan keluarga di lingkungan rumah.
Regulasi Ramah Perempuan sebagai Kunci
Kontribusi utama dari kajian Dr. Dien terletak pada dorongannya terhadap pembentukan regulasi ketenagakerjaan yang lebih berpihak pada pekerja perempuan, khususnya ibu. Ia menyoroti masih banyaknya pekerja perempuan di sektor informal yang harus bekerja dengan jam berlebih, tanpa kepastian cuti, bahkan tidak memiliki hak untuk mendampingi anak ketika sakit.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesejahteraan perempuan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kualitas tumbuh kembang anak dan remaja. Oleh karena itu, diperlukan peraturan standar yang melindungi hak-hak dasar ibu bekerja, mulai dari jam kerja formal, hak cuti, hingga jaminan perlindungan sosial.
Ia menegaskan bahwa keberpihakan kebijakan terhadap pekerja perempuan bukan sekadar isu kesetaraan gender, melainkan investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia Indonesia.
Membangun Keseimbangan Karier dan Pengasuhan
Melalui program posdoktoralnya, Dr. Dien berkomitmen untuk terus mengembangkan pola riset yang berfokus pada keseimbangan antara karier dan pengasuhan. Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan, institusi kerja, maupun dunia usaha dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif.
Salah satu gagasan yang ingin ia dorong ke depan adalah penyediaan fasilitas penitipan anak atau childcare di tempat kerja. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut dapat membantu ibu bekerja menjalankan peran ganda secara optimal, sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja perempuan.
Melalui capaian akademik yang dirayakan dalam Wisuda Universitas Brawijaya 2025 ini, Dr. Dien Amalina Nur Asrofi berharap isu ekonomi gender semakin mendapat ruang dalam diskursus kebijakan publik, demi mewujudkan pasar kerja yang adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi perempuan Indonesia. (nid/yor)














