Kanal24 – Nilai tukar Rupiah kembali melemah dan menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (9/4/2026).
Data pasar menunjukkan Rupiah dibuka di kisaran Rp17.030 per dolar AS di pasar spot, melanjutkan pelemahan dari penutupan sebelumnya di sekitar Rp17.012. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) menempatkan dolar AS di kisaran Rp16.923–Rp17.094.
Tekanan terhadap Rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Laporan Reuters menyebut Rupiah sempat menyentuh Rp17.090 per dolar AS, yang menjadi salah satu level terendah sepanjang sejarah.
Bank Indonesia menyatakan telah melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah tersebut dilakukan melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Sentimen Global dan Harga Energi Tekan Rupiah
Pelemahan Rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga energi global.
Harga minyak dunia dilaporkan sempat berada di atas USD 110 per barel dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memberi tekanan tambahan bagi Indonesia sebagai negara importir minyak.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik dan respons kebijakan negara-negara besar, termasuk arah suku bunga global dan arus modal ke negara berkembang.
Faktor Domestik Ikut Jadi Perhatian Pasar
Selain faktor eksternal, kondisi domestik turut menjadi perhatian investor. Beberapa indikator yang dicermati antara lain posisi fiskal dan kebutuhan pembiayaan anggaran.
Perkembangan defisit anggaran hingga awal 2026 serta dinamika cadangan devisa menjadi bagian dari pertimbangan pelaku pasar dalam menempatkan dana di aset Rupiah.
Analis memperkirakan pergerakan Rupiah dalam jangka pendek masih fluktuatif di kisaran Rp17.000 per dolar AS, seiring kuatnya sentimen global dan respons kebijakan dalam negeri.
Dampak ke Sektor Riil Mulai Terasa
Pelemahan Rupiah berpotensi meningkatkan tekanan pada sektor riil, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.
Kenaikan biaya impor dapat mendorong peningkatan harga barang, termasuk produk elektronik, otomotif, serta bahan baku industri. Kondisi ini juga berdampak pada pelaku usaha kecil dan menengah yang menggunakan bahan baku berbasis dolar AS.
Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan terus menjaga stabilitas makroekonomi guna meredam dampak lanjutan terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.(Din)













