Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Satu Abad NU dan Masa Depan Ketahanan Bangsa

Dinia by Dinia
February 2, 2026
in Pendidikan
0
Satu Abad NU dan Masa Depan Ketahanan Bangsa

Dr. Ahmad Imron Rozuli, SE., M.Si., Sosiolog & Dekan FISIP Universitas Brawijaya (Puguh, Kanal24)

10
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
 Oleh: Ahmad Imron Rozuli*

Satu abad Nahdlatul Ulama menjadi penanda perjalanan sosial yang panjang, dinamis, dan penuh ujian dalam sejarah Indonesia modern. Momentum puncak peringatan 1 Abad NU yang akan digelar di Kota Malang pada 7–8 Februari 2026 menjadi ruang refleksi penting untuk membaca kembali posisi NU sebagai institusi sosial, kultural, sekaligus moral di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dalam lintasan sejarahnya, NU tumbuh tidak hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai ruang hidup sosial yang berlapis. Ia hadir di tingkat elite, menengah, hingga akar rumput, menyatu dengan keseharian masyarakat melalui pesantren, masjid, tradisi keagamaan, dan jejaring kultural yang mengakar kuat. Keberlanjutan NU selama satu abad menunjukkan bahwa organisasi ini tidak sekadar bertahan, tetapi juga beradaptasi dengan perubahan zaman.

Refleksi atas satu abad NU menjadi semakin relevan ketika dinamika internal organisasi kerap dibaca secara berlebihan sebagai tanda fragmentasi. Padahal, dibalik hiruk pikuk yang tampak di level elite, terdapat kekuatan kultural di akar rumput yang relatif stabil dan tidak mudah terpengaruh oleh konflik struktural. Di sinilah NU menunjukkan karakter uniknya sebagai institusi sosial yang memiliki daya lenting tinggi.

NU sebagai Perekat Sosial Lintas Lapis

Keunikan NU terletak pada kemampuannya merajut hubungan lintas lapisan sosial. Dari kalangan atas hingga masyarakat bawah, NU membentuk titik kohesi yang memungkinkan komunikasi sosial berlangsung secara cair. Ulama dan kiai menempati posisi sentral sebagai rujukan moral dan kultural, bukan semata sebagai aktor struktural organisasi.

Dalam konteks ini, NU berfungsi sebagai perekat sosial yang efektif. Relasi antara ulama dan umara tidak dibangun dalam kerangka hierarki kekuasaan, melainkan dalam hubungan etis dan kultural. Penghormatan terhadap kiai tidak lahir dari jabatan formal, tetapi dari otoritas keilmuan dan keteladanan moral. Pola relasi semacam ini berkontribusi besar terhadap ketahanan sosial masyarakat Indonesia.

Kekuatan NU justru tampak pada kemampuannya menjembatani perbedaan dan meredam potensi konflik sosial. Ketika dinamika politik nasional mengalami polarisasi, struktur kultural NU di akar rumput relatif mampu menjaga stabilitas sosial melalui tradisi dialog, guyonan khas, dan budaya kebersamaan yang telah lama terbangun.

Dinamika Elite dan Ketahanan Kultural

Dalam perjalanan panjangnya, NU tidak pernah steril dari dinamika internal. Perbedaan pandangan di tingkat elite merupakan hal yang wajar bagi organisasi besar dengan kepentingan yang beragam. Namun, dinamika tersebut jarang berdampak signifikan pada basis kultural di tingkat bawah.

Kultur Nahdliyin di akar rumput cenderung memandang konflik elite sebagai bagian dari dinamika organisasi, bukan sebagai ancaman terhadap identitas keagamaan mereka. Loyalitas jamaah lebih banyak terikat pada figur kiai sepuh dan tradisi keagamaan, bukan pada struktur formal organisasi. Inilah yang membuat NU tetap kokoh meskipun diterpa berbagai isu internal.

Sejarah NU menunjukkan bahwa dinamika semacam ini telah berulang kali terjadi, namun tidak pernah benar-benar menggoyahkan fondasi sosialnya. Justru, dari dinamika itulah NU belajar beradaptasi dan memperkuat ketahanan internalnya.

Menjaga Jarak Kritis dengan Kekuasaan

Relasi NU dengan kekuasaan sering kali dibaca dalam kerangka kedekatan atau jarak politik. Namun, ukuran tersebut sesungguhnya tidak sederhana. Kedekatan struktural tidak selalu identik dengan kedekatan ideologis, begitu pula jarak formal tidak otomatis mencerminkan sikap kritis.

Yang lebih penting adalah bagaimana NU menjaga marwah moralnya. Ketika ulama memberikan nasihat kepada pemimpin politik, posisi tersebut harus tetap berdiri di atas kepentingan umat dan bangsa, bukan kepentingan pragmatis. Otoritas moral NU justru terjaga ketika ia dipandang tidak memiliki kepentingan politik yang kasat mata.

Dalam konteks inilah, NU memainkan peran strategis sebagai penyeimbang kekuasaan. Bukan sebagai oposisi formal, tetapi sebagai jangkar etika yang mampu mengingatkan negara ketika kebijakan menyimpang dari nilai keadilan dan kemaslahatan publik.

Transformasi di Tengah Perubahan Generasi

Memasuki abad kedua ini, NU menghadapi tantangan besar berupa perubahan generasi dan percepatan digitalisasi. Relevansi NU di mata generasi muda tidak bisa hanya mengandalkan romantisme tradisi, tetapi menuntut kemampuan bertransformasi secara organisatoris dan kultural.

Transformasi tersebut meniscayakan tata kelola yang lebih modern, transparan, dan akuntabel, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar NU. Moderasi beragama, semangat kebangsaan, dan keberpihakan pada kelompok rentan harus tetap menjadi fondasi gerak organisasi.

Di sisi lain, pesantren dan lembaga pendidikan NU memiliki peran strategis dalam melakukan reproduksi pengetahuan. Tradisi keilmuan klasik perlu terus dikaji dan dikontekstualisasikan dengan tantangan zaman, sehingga NU tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga produsen gagasan.

Pesantren, Moderasi, dan Masa Depan NU

Pesantren tetap menjadi jangkar utama NU dalam menjaga moderasi nasional. Dari ruang-ruang inilah lahir ulama dan intelektual yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kepekaan sosial. Ketika pesantren mampu menjembatani tradisi dan modernitas, NU akan tetap relevan sebagai kekuatan sosial yang progresif.

Momentum 1 Abad NU seharusnya tidak berhenti pada perayaan simbolik. Ia harus menjadi ruang refleksi kolektif untuk merumuskan arah gerak NU ke depan: bagaimana memperkuat ketahanan sosial, menjaga jarak kritis dengan kekuasaan, dan menjawab tantangan generasi baru tanpa tercerabut dari akar tradisinya.

Dengan modal sosial yang dimilikinya, NU memiliki peluang besar untuk terus menjadi jangkar moderasi, penopang kohesi sosial, dan penjaga moral publik di Indonesia. Satu abad telah dilalui, dan tantangan abad berikutnya menuntut NU untuk tetap setia pada jati dirinya, sekaligus berani bertransformasi.

*) Dr. Ahmad Imron Rozuli, SE., M.Si.
Sosiolog & Dekan FISIP Universitas Brawijaya

Post Views: 60
Tags: ahmad imron rozuliDekan fisip UBNahdlatul UlamaNU 1 Abad
Previous Post

Kepatuhan Pajak Meningkat, SPT Tahunan Tembus 1,15 Juta

Next Post

Penerimaan Bea Cukai 2025 Tembus Rp300 Triliun

Dinia

Dinia

Next Post
Penerimaan Bea Cukai 2025 Tembus Rp300 Triliun

Penerimaan Bea Cukai 2025 Tembus Rp300 Triliun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

August 4, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Rupiah Menguat Awal Februari di Tengah Tekanan Global

Rupiah Menguat Awal Februari di Tengah Tekanan Global

February 2, 2026
Dana Abadi UB, Simbol Empati dan Gotong Royong

Dana Abadi UB, Simbol Empati dan Gotong Royong

February 2, 2026
Penerimaan Bea Cukai 2025 Tembus Rp300 Triliun

Penerimaan Bea Cukai 2025 Tembus Rp300 Triliun

February 2, 2026
Satu Abad NU dan Masa Depan Ketahanan Bangsa

Satu Abad NU dan Masa Depan Ketahanan Bangsa

February 2, 2026

Popular Stories

  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025