Kanal24, Malang — Kuliner tidak hanya berhenti pada urusan rasa, tetapi juga menyimpan memori sosial, sejarah, dan identitas kultural sebuah kota. Kesadaran inilah yang menjadi ruh dalam Diskusi Video Dokumenter & Diseminasi Buku Semangkuk Lumintu ing Brantas: Seruput Kisah Soto Kambing Malangan, yang digelar di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini mempertemukan riset, film, dan penulisan sebagai upaya merawat tradisi kuliner lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Buku Semangkuk Lumintu ing Brantas merupakan hasil kolaborasi Nedi Putra dan Ary Budianto, yang mencoba menempatkan soto kambing Malangan bukan sekadar hidangan, melainkan sebagai praktik budaya yang hidup dan diwariskan lintas generasi. Melalui diskusi dan pemutaran video dokumenter, publik diajak memahami lapisan-lapisan cerita di balik semangkuk soto.
Baca juga:
Mengenal Virus Nipah, Ancaman Zoonosis dengan Risiko Kematian Tinggi

Nedi Putra menjelaskan, penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan akan minimnya pencatatan serius tentang soto kambing Malangan. Menurutnya, selama ini banyak tulisan kuliner berhenti pada ulasan rasa atau popularitas, tanpa pendalaman historis dan sosiokultural. “Kami ingin mencatat mengapa soto kambing Malangan itu penting dan mengapa ia perlu ditulis,” ujarnya. Dari proses penelusuran, tim penulis menemukan bahwa soto memiliki akar panjang, termasuk pengaruh peranakan Tionghoa, yang kemudian bertransformasi sesuai konteks lokal Malang.
Keunikan lain yang disorot adalah jejaring kekerabatan antarpedagang soto kambing Malangan. Banyak warung yang bertahan hingga generasi ketiga dan keempat, meski sebagian lainnya telah hilang. Nedi mencontohkan kawasan-kawasan yang dahulu dikenal sebagai sentra soto kambing, namun kini nyaris tak berjejak. “Kalau tidak ditulis, generasi berikutnya hanya akan mendengar cerita,” katanya. Ia menegaskan, buku ini lahir sebagai upaya dokumentasi agar tradisi tidak lenyap bersama para maestro yang telah berhenti berjualan.

Dari sisi cita rasa, soto kambing Malangan memiliki ciri khas tersendiri. Penggunaan koya menjadi penanda penting, sekaligus menunjukkan adaptasi selera lokal. Menariknya, meski Jawa Timur identik dengan rasa asin, soto kambing Malangan justru banyak menggunakan kecap manis. Perpaduan ini menghadirkan rasa yang unik, berbeda dari wilayah Mataraman seperti Solo atau Yogyakarta. Selain itu, penggunaan jeroan—yang kini sering dibatasi atas pertimbangan kesehatan—menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas soto kambing Malangan.
Dalam diskusi, Nedi juga mengulas alasan historis mengapa jeroan menjadi komponen utama. Pada masa lalu, makanan berkuah dianggap mewah, sementara jeroan lebih terjangkau dan melimpah. “Kuah memudahkan distribusi isi, lebih adil dan mengenyangkan,” jelasnya. Faktor ekonomi dan budaya ini kemudian membentuk karakter soto kambing Malangan yang dikenal hingga kini.
Melalui buku ini, Nedi berharap pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga terdorong untuk menghidupkan kembali warung-warung tradisional. Konsep “lumintu” yang diangkat bermakna tidak besar namun berkelanjutan. “Warung-warung ini mungkin tidak pernah benar-benar ramai, tapi selalu bertahan,” ujarnya. Ia berharap semakin banyak orang datang, sehingga tradisi tetap hidup dan berdenyut.

Lebih jauh, Nedi membuka ruang bagi riset lanjutan. Buku ini, menurutnya, baru menelaah aspek sosial budaya, sementara sisi lain seperti gizi, rantai pasok, hingga kajian daging kambing masih terbuka luas. “Kami berharap akan lahir tulisan-tulisan lain dari berbagai sudut pandang,” katanya.
Diskusi video dokumenter dan diseminasi buku ini menegaskan bahwa merawat kuliner berarti merawat ingatan kolektif. Di tengah arus modernisasi dan tren kuliner instan, pencatatan seperti ini menjadi penting agar warisan rasa Malang tetap dikenali, dipahami, dan dilanjutkan oleh generasi mendatang.(Din/Qrn)














