Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya terus menegaskan posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi paling inklusif di Indonesia. Melalui Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (SLDPI), UB membuka akses pendidikan tinggi yang setara, ramah, dan berkeadilan bagi seluruh calon mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kehadiran SLDPI UB dalam rangkaian Education Expo Universitas Brawijaya 2026. Kehadiran booth SLDPI bukan sekadar pelengkap agenda promosi akademik, melainkan ruang edukasi publik tentang bagaimana kampus seharusnya hadir untuk semua, tanpa diskriminasi.
Tim SLDPI UB, Khairun Nastain, S.Pd., menjelaskan bahwa tujuan utama kehadiran SLDPI adalah memperkenalkan UB sebagai kampus inklusif, baik bagi calon mahasiswa non-disabilitas maupun penyandang disabilitas.
“Tujuan adanya booth SLDPI ini adalah mengenalkan kepada calon mahasiswa bahwa Universitas Brawijaya merupakan kampus yang inklusif. Tidak hanya inklusif untuk teman-teman difabel, tetapi inklusif untuk semua,” ujarnya.

Menurut Khairun, UB secara konsisten membuka ruang bagi calon mahasiswa difabel untuk melanjutkan studi sesuai dengan minat dan program studi yang tersedia. Selama ini, UB telah menerima dan mendampingi banyak mahasiswa difabel melalui sistem layanan yang terstruktur.
“UB sudah banyak menerima teman-teman difabel. Mereka bisa kuliah di UB sesuai dengan program studi yang dituju, dan itu didukung dengan layanan yang memadai,” lanjutnya.
SLDPI UB selama ini dikenal sebagai salah satu unit layanan disabilitas yang paling maju di Indonesia. Bahkan, keberadaannya kerap dijadikan rujukan nasional dalam pengelolaan kampus inklusif. Banyak perguruan tinggi dari berbagai daerah datang ke UB untuk belajar tentang sistem layanan, pendampingan, hingga kebijakan pendidikan inklusif.
“SLDPI UB menjadi role model bagi kampus-kampus lain di Indonesia. Banyak yang datang untuk belajar bagaimana mengelola layanan bagi mahasiswa difabel dan membangun kampus yang inklusif,” tegas Khairun.
Lebih dari sekadar simbol, SLDPI UB memberikan layanan nyata bagi mahasiswa difabel yang menempuh studi di Universitas Brawijaya. Layanan tersebut meliputi pendampingan akademik, layanan tutorial, dukungan mobilitas, hingga pemenuhan aksesibilitas di lingkungan kampus.
“Mahasiswa difabel yang kuliah di UB akan kami layani secara penuh. Ada layanan pendampingan, tutorial, mobilitas, dan aksesibilitas. Semua kebutuhan akomodasi kami pastikan dan kami jamin,” jelasnya.
Tak hanya bagi mahasiswa difabel, keberadaan SLDPI juga memberi manfaat bagi mahasiswa non-disabilitas. UB membuka ruang partisipasi aktif melalui program relawan inklusivitas, yang memungkinkan mahasiswa terlibat langsung dalam mendukung teman-teman difabel selama menjalani perkuliahan.
“Mahasiswa non-difabel juga bisa berpartisipasi sebagai voluntir. Ini menjadi bagian dari pembelajaran sosial dan nilai empati di lingkungan kampus,” kata Khairun.
Ia menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga membangun budaya kampus yang saling menghargai dan mendukung. Karena itu, keterlibatan seluruh civitas akademika menjadi kunci keberhasilan implementasi inklusivitas di Universitas Brawijaya.
Menutup pernyataannya, Khairun menyampaikan pesan kepada calon mahasiswa agar mempersiapkan diri secara matang sebelum melanjutkan studi ke UB.
“Universitas Brawijaya adalah salah satu kampus terbaik di Indonesia. Persiapkan mental, pengetahuan, dan kesiapan diri dengan maksimal agar benar-benar siap menjadi mahasiswa UB,” pungkasnya.
Melalui SLDPI, Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh meninggalkan siapa pun. Inklusivitas bukan sekadar jargon, tetapi komitmen nyata yang terus diperjuangkan dalam sistem, layanan, dan budaya kampus.(Din/Ger)














