Kanal24, Malang — Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diproyeksikan menjadi faktor utama perubahan dunia kerja pada 2026. Transformasi ini tidak semata-mata bermakna hilangnya peran manusia, melainkan menandai pergeseran signifikan dalam cara bekerja, jenis keterampilan yang dibutuhkan, serta pola relasi antara manusia dan teknologi. Dunia kerja kini memasuki fase baru yang menuntut kemampuan adaptasi dari seluruh pemangku kepentingan.
Pergeseran Tugas, Bukan Hilangnya Profesi
Masuknya AI ke berbagai sektor terutama berdampak pada tugas-tugas yang bersifat rutin dan berulang. Pekerjaan administratif, pengolahan data sederhana, hingga layanan pelanggan dasar semakin banyak diotomatisasi. Kondisi ini kerap memunculkan kekhawatiran bahwa AI akan sepenuhnya menggantikan tenaga manusia.
Baca juga:
Gaya Kasual Nyaman Dominasi Fashion Gen Z 2026
Namun, realitas yang terjadi justru menunjukkan adanya pergeseran fungsi kerja. Banyak profesi tetap bertahan, tetapi perannya berubah. Pekerja diarahkan untuk menjalankan fungsi pengawasan, analisis, serta pengambilan keputusan yang membutuhkan pertimbangan dan intuisi manusia. Dalam konteks ini, AI berperan sebagai alat bantu yang meningkatkan kecepatan dan akurasi kerja, sementara manusia tetap memegang kendali dan tanggung jawab akhir.
Keterampilan Baru sebagai Kunci Daya Saing
Perubahan dunia kerja yang dipicu oleh AI menuntut keterampilan yang berbeda dibandingkan era sebelumnya. Keahlian teknis seperti analisis data, literasi digital, serta pemahaman dasar tentang sistem AI menjadi semakin penting di berbagai bidang pekerjaan.
Meski demikian, keterampilan non-teknis tidak kalah krusial. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi efektif, serta empati menjadi nilai tambah yang sulit digantikan oleh mesin. Pekerja yang mampu berkolaborasi dengan teknologi akan memiliki keunggulan kompetitif, sementara mereka yang enggan meningkatkan kapasitas diri berisiko tertinggal dalam persaingan pasar kerja yang kian ketat.
Tantangan dan Peluang Dunia Kerja Indonesia
Di Indonesia, dampak AI terhadap dunia kerja beririsan dengan tantangan struktural yang telah lama ada, seperti besarnya jumlah angkatan kerja dan keterbatasan lapangan pekerjaan formal. Transformasi berbasis teknologi berpotensi menjadi tantangan serius apabila tidak diimbangi dengan kebijakan pendidikan dan pelatihan yang adaptif.
Di sisi lain, AI juga membuka peluang baru. Peningkatan produktivitas, efisiensi kerja, serta munculnya jenis-jenis pekerjaan baru dapat menjadi solusi jangka panjang apabila dikelola secara strategis. Kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan sektor industri menjadi kunci dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi era AI.
Menjelang 2026, dunia kerja dipastikan akan terus bergerak dinamis. AI bukanlah ancaman mutlak, melainkan instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk membangun ekosistem kerja yang lebih produktif dan berkelanjutan, dengan manusia tetap memegang peran sentral di dalamnya. (ger)














