Kanal24, Malang – Target peningkatan pendapatan di luar Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi tantangan nyata bagi perguruan tinggi, termasuk Universitas Brawijaya (UB). Di tengah kebutuhan pembiayaan yang terus meningkat, kemampuan kampus membangun sumber pendapatan alternatif menjadi penentu keberlanjutan.
Namun, jalan menuju target itu tidak mudah.
Sejumlah unit usaha kampus masih menghadapi persoalan klasik: produktivitas belum merata, beban operasional tinggi, serta tata kelola yang perlu diperkuat. Kondisi ini membuat capaian pendapatan belum sepenuhnya selaras dengan target yang ditetapkan universitas.
Wakil Direktur Bidang Keuangan dan Sumber Daya BPU UB, Masruri, S.Si., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa BPU saat ini berada dalam fase akselerasi untuk menjawab tantangan tersebut.
“Pada periode ini kita mendapat kontrak dari rektor untuk memenuhi target pendapatan non-UKT. Secara umum, arah kebijakan universitas memang mendorong peningkatan pendapatan di luar UKT,” ujarnya pada Kanal24 usai ditemui usai acara Halal Bihalal BPU UB pada Selasa (7/4/2026).
Baca juga : Dorong Kemandirian Kampus, Ira Puspadewi: BPU UB Perlu Perkuat Ekosistem Internal
Sebagai langkah awal, BPU melakukan pembenahan dari dalam—mulai dari efisiensi hingga penataan ulang unit usaha yang dinilai belum optimal.
“Beberapa unit yang kurang produktif kita genjot. Kita lakukan penataan ulang, termasuk efisiensi pada pos-pos pengeluaran yang tidak prioritas,” jelasnya.
Tekanan pada tahap awal ini terasa di level operasional. Para pengelola unit dituntut bergerak lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan target baru yang lebih agresif.
“Manajer unit harus bekerja lebih keras di fase awal ini,” tambahnya.
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Setelah dilakukan efisiensi dan penguatan tata kelola, BPU mencatat adanya peningkatan kinerja pendapatan, meskipun capaian tersebut masih dalam proses menuju target penuh.
“Alhamdulillah setelah efisiensi, ada peningkatan pendapatan. Bahkan capaian kinerja kita sudah melampaui target internal tim akuntansi. Namun ini belum sepenuhnya memenuhi target yang dikontrakkan,” ujarnya.
Untuk mempercepat pertumbuhan, BPU kini mengalihkan fokus pada unit-unit yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan secara komersial.
“Unit yang punya potensi besar akan kita dorong lebih agresif, sehingga bisa menjadi contoh bagi unit lain,” katanya.
Selain pembenahan internal, strategi lain yang mulai dijalankan adalah memperkuat kapasitas manajemen melalui berbagi praktik terbaik antarunit.
“Kita sudah lakukan sharing knowledge dari unit yang sudah sustain dan surplus, agar bisa jadi pembelajaran bagi unit lain,” jelasnya.
Di sisi lain, BPU juga mulai mengarah pada pengelolaan pasar internal kampus sebagai sumber pertumbuhan baru. Dengan jumlah mahasiswa yang besar, kebutuhan layanan berbasis kampus dinilai sebagai peluang yang dapat dikembangkan secara terintegrasi.
“Captive market kita sangat besar, terutama dari mahasiswa. Ini potensi yang harus kita kelola,” ujarnya.
Pengembangan ekosistem layanan berbasis hunian mahasiswa menjadi salah satu opsi yang tengah didorong, termasuk integrasi layanan pendukung seperti konsumsi, laundry, hingga kebutuhan harian.
“Dormitori menjadi salah satu peluang. Dari sana bisa berkembang layanan turunan yang dikelola secara kolektif,” tambahnya.
Namun, percepatan tersebut juga membutuhkan dukungan regulasi yang adaptif.
“Kita butuh kemudahan regulasi. Aturan sudah ada, tetapi masih perlu disempurnakan agar lebih responsif terhadap dinamika bisnis,” ungkapnya.
Ke depan, BPU UB menempatkan efisiensi, komersialisasi, dan integrasi ekosistem sebagai kunci untuk mengejar target pendapatan non-UKT, sekaligus memperkuat fondasi kemandirian finansial kampus.(Din)














